Sejak 10 Juni 2012 lalu saya resmi menjadi seorang istri dari seorang lelaki (yaiyalah..^^). Dua bulan lebih sekian hari sampai dengan tanggal ini, kami senantiasa belajar untuk saling mengerti, saling memahami, saling menakar cinta agar pas terekspresikan sesuai dengan nilai rasa pasangan. Bukan aku untuk aku. Ataupun kamu untuk kamu. Karena untuk menjadi 'kita', kami harus mengikis egoisme yang telah kuat mengakar dalam diri.
Kamis, 23 Agustus 2012
Kamis, 09 Agustus 2012
Cibuyutan, Sebuah Kampung (bukan) di Negeri Dongeng 2
Setelah
berbincang dan bercanda sejenak dengan anak-anak yang ternyata bahasanya Sunda
pisan euy, masing-masing dari mereka segera menempatkan posisi sesuai dengan pembagian
tugas. Para muslimah basecampnya di salah satu rumah penduduk sedang yang pria
di Mushalla.
Cibuyutan, Sebuah Kampung (bukan) di Negeri Dongeng
Malam mulai pekat
menggulita ketika starter si merah mulai memberisiki halaman rumah. Hembus
angin menelusup ke celah-celah badan yang tak sempurna dibungkus jaket, seiring dengan perputaran
roda yang melaju tak seberapa cepat. Dingin. Tapi tak lebih dingin dari segaris
risau yang telah membeku menjadi bongkahan es yang menggelayut langit
hati. Kepergiannya kali ini terasa sangat berat. Hasil pertarungan logika dan
hati, yang keduanya tidak
memberikan alasan untuk tetap pergi. Suami yang tidak bisa membersamai,
rekan-rekan satu tim yang berhalangan karena amanah lain yang jauh lebih
krusial telah menanti, agenda wajib pekanan yang terpaksa ia harus membolos lagi untuk yang kesekian kali. Belum
lagi, ia sama sekali tak mengenal
dengan baik satu pun dari orang-orang
yang akan menjadi teman seperjalanannya nanti, kondisi tempat tujuan yang belum
mampu sempurna ia bayangkan,
terlebih bahkan ia tidak tahu lokasi rumah yang hendak ia singgahi malam ini.
