Saya sedang
berada di titik klimaks candu rindu. Rindu mengumpulkan ceceran-ceceran hikmah.
Rindu mengikat kelebat cahaya ilmu. Rindu menggenggam remah-remah mimpi dan
asa. Rindu menyublimkannya dalam jajaran huruf dan kata. Saya rindu menulis.
Ya, teramat rindu sepertinya. Suatu hal yang tak pernah saya bayangkan
sebelumnya. Bagaimana bisa?
Saya.
Menulis.
Saya dan
menulis.
Dua kata
yang apabila dirangkai di tahun-tahun lalu, kalimat yang mungkin terjadi
hanyalah ‘saya benci menulis’ atau bila sarkasmenya sedikit diturunkan menjadi ‘saya
tidak suka menulis’ (dan jika boleh saya ingin menambahkan kata ‘sangat’
sebelum kata tidak). Maka kemudian menjadi maklum bagi saya bahwa pelajaran
Bahasa Indonesia (yang tak pernah lekang soal ujian esay-nya dengan kalimat:
buatlah sebuah paragraf tentang bla..bla..bla) menjadi pelajaran yang paling
(sangat) tidak saya suka. Selain Fisika tentu saja. :p
Namun
ternyata saya baru sadar bahwa saya telah berubah. Waktu telah merubah saya. Ilmu
telah merubah saya. Karib-karib fillah saya telah merubah saya. Jalan dakwah
telah merubah saya. Tepatnya merubah cara pandang saya. Tentang banyak hal
tentu saja. Termasuk menulis.
Jika dimulai
dua tahun sebelumnya saya menempatkan menulis sebagai salah satu bentuk
komitmen dan kewajiban saya terhadap diri saya, pada menit ini saya baru
tersadar bahwa menulis telah menjadi bagian dari apa yang disebut ‘kebutuhan’.
Walaupun saya belum mampu menjadikannya sebagai kebiasaan. Lebih tepatnya
terlalu banyak excuse yang saya kemukakan untuk menjadikan menulis ini sebagai
habbits. Pun bahkan ketika tangan saya sudah merasa begitu sangat gatal untuk
menulis, saya akan tetap ‘menantikannya’. Hingga saya tak sanggup lagi bertahan
digempur ombak kerinduan yang amat sangat seperti saat ini. Saya menyerah. Saya
akhirnya menulis. Di tengah jam kantor. Di tengah banyaknya pekerjaan yang
harus segera diselesaikan. Namun apa daya, kerinduan ini seperti bisul yang
harus segera dipecahkan.
Alhamdulillah,
saya lega. Saya telah mendapat sedikit tetesan air yang dapat membasahi dahaga kerinduan.
Belum sepenuhnya. Tapi minimal saya merasa lebih tenang sekarang.
Terima kasih
Allah. Terima kasih ilmu. Terima kasih karib fillah. Terima kasih jalan dakwah.
Telah mengenalkan saya dan kemudian membuat saya mampu mencintai sesuatu yang
dulunya (sangat) saya benci. Sekarang saya mampu berucap: Saya cinta (belajar) menulis.
Dan semoga kebermanfaatan dan keberkahan senantiasa meliputi. Kini dan nanti.
“Nun,
demi kalam dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam [68]: 1)
Gambar diambil dari: http://www.hasanalbanna.com/rekrutmen-kontributor-penerjemah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar