Setelah mengikuti giveaway-nya narababyshop, iseng-iseng saya searching-searching giveaway akhir-awal tahun. Eh ternyata, berpuluh-puluh-puluh link giveaway saya dapatkan. Cuma yang nyantol di hati baru 3 link. Alasannya kenapa?
Kamis, 20 Desember 2012
BLW, Apaan Sih?!
Judul di atas
adalah kalimat pertama yang terlontar dalam pikiran saya ketika membaca
Giveaway-nya narababyshop.blogspot.com. BLW atau yang kepanjangannya Baby Led
Weaning yang pengertiannya sudah dijelaskan secara ringkas sama si empunya blog
sebagai pemberian makan di awal (MPASI) yang biasanya berupa bubur dan
disuapi, diganti dengan solid food langsung dan tanpa disuapi; membuat saya
menerawang jauh betapa kerdilnya pengetahuan saya terkait dengan dunia per-baby-an
yang sebentar lagi akan menghampiri. InsyaAllah..
Kamis, 22 November 2012
Rindu Menulis
Saya sedang
berada di titik klimaks candu rindu. Rindu mengumpulkan ceceran-ceceran hikmah.
Rindu mengikat kelebat cahaya ilmu. Rindu menggenggam remah-remah mimpi dan
asa. Rindu menyublimkannya dalam jajaran huruf dan kata. Saya rindu menulis.
Ya, teramat rindu sepertinya. Suatu hal yang tak pernah saya bayangkan
sebelumnya. Bagaimana bisa?
Kamis, 23 Agustus 2012
Rasa-Rasa Hamil Perdana
Sejak 10 Juni 2012 lalu saya resmi menjadi seorang istri dari seorang lelaki (yaiyalah..^^). Dua bulan lebih sekian hari sampai dengan tanggal ini, kami senantiasa belajar untuk saling mengerti, saling memahami, saling menakar cinta agar pas terekspresikan sesuai dengan nilai rasa pasangan. Bukan aku untuk aku. Ataupun kamu untuk kamu. Karena untuk menjadi 'kita', kami harus mengikis egoisme yang telah kuat mengakar dalam diri.
Kamis, 09 Agustus 2012
Cibuyutan, Sebuah Kampung (bukan) di Negeri Dongeng 2
Setelah
berbincang dan bercanda sejenak dengan anak-anak yang ternyata bahasanya Sunda
pisan euy, masing-masing dari mereka segera menempatkan posisi sesuai dengan pembagian
tugas. Para muslimah basecampnya di salah satu rumah penduduk sedang yang pria
di Mushalla.
Cibuyutan, Sebuah Kampung (bukan) di Negeri Dongeng
Malam mulai pekat
menggulita ketika starter si merah mulai memberisiki halaman rumah. Hembus
angin menelusup ke celah-celah badan yang tak sempurna dibungkus jaket, seiring dengan perputaran
roda yang melaju tak seberapa cepat. Dingin. Tapi tak lebih dingin dari segaris
risau yang telah membeku menjadi bongkahan es yang menggelayut langit
hati. Kepergiannya kali ini terasa sangat berat. Hasil pertarungan logika dan
hati, yang keduanya tidak
memberikan alasan untuk tetap pergi. Suami yang tidak bisa membersamai,
rekan-rekan satu tim yang berhalangan karena amanah lain yang jauh lebih
krusial telah menanti, agenda wajib pekanan yang terpaksa ia harus membolos lagi untuk yang kesekian kali. Belum
lagi, ia sama sekali tak mengenal
dengan baik satu pun dari orang-orang
yang akan menjadi teman seperjalanannya nanti, kondisi tempat tujuan yang belum
mampu sempurna ia bayangkan,
terlebih bahkan ia tidak tahu lokasi rumah yang hendak ia singgahi malam ini.
Selasa, 01 Mei 2012
Membiasakan yang Tak Biasa
Kira-kira apa yang
pertama kali melintas di benak kita saat pertama kali melihat ada satu bayi
yang ketika terlahir dia tidak menangis tapi justru menyanyi dengan bahasa yang
dapat kita mengerti dengan sebegitu jelasnya?? Berani taruhan, dunia pasti gempar. Berita
tentang bayi itu pasti menjadi headline utama di semua media online, media
cetak, televisi, radio, dan menjadi trending topic semua perbincangan. Semua
orang akan terheran dan beropini sesuka hati. Sungguh aneh. Amazing. Bayi
ajaib. Kiamat sudah akan datang. Perubahan genetika yang sangat masif. Dan
komentar-komentar lain sesuai apa yang mereka yakini berdasar latar belakang
ilmu yang mereka miliki.
Selasa, 28 Februari 2012
Kepekaan Hati di Era Modernisasi
Di sebuah antrian panjang menunggu pemeriksaan untuk melengkapi berkas pengangkatan sebagai abdi negara di suatu Puskesmas di ibu kota, seorang wanita muda nampak tertarik memperhatikan seorang nenek-nenek yang sudah sangat sepuh yang terlihat kebingungan di tengah riuhnya manusia. Dengan langkah yang pelan tertatih dan kebongkokan dimakan usia, nenek itu nampak bertanya kepada beberapa pengantri yang ada di situ. Jarak wanita muda dan manula itu cukup jauh sehingga ia tidak mengerti dengan benar apa sedang terjadi. Namun dari raut wajah nenek tersebut wanita itu bisa mengira-ngira sepetak peristiwa yang mungkin tergambar di sana.
Jumat, 17 Februari 2012
Jika Ujian Dakwah Itu Melanda
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut : 2 - 3)
Mungkin selama ini, kita yang turut serta berada dalam gerbong dakwah aktif telah merasakan ‘ujian-ujian’ dalam dakwah. Entah itu wujudnya berupa sedikitnya tidur, badan yang pegal-pegal, tulang yang linu-linu kepayahan, akibat dari banyaknya aktivitas dan amanah yang kita pikul di pundak-pundak kita setiap harinya.
Kamis, 09 Februari 2012
Dimanakah Saya Bisa Membeli Komitmen?
Komitmen, adalah satu hal yang mutlak diperlukan dalam hal apapun. Komitmen terhadap organisasi, terhadap pasangan, terhadap keluarga, terhadap agama, juga komitmen terhadap diri kita sendiri tentunya. Karena tanpa komitmen, kita tidak akan mampu melewati rintangan-rintangan yang berserakan di jalan menuju cita-cita besar kita. Tanpa komitmen, maka kita hanya akan menjadi para penghayal dan bukan menjadi para pemimpi. Walaupun secara istilah keduanya tidaklah berbeda jauh, tapi dalam konteks aplikasi maka bagaikan bumi dengan langit. Penghayal dan pemimpi adalah orang yang sama-sama membangun cita-cita besar tentang suatu hal di masa yang akan datang. Namun bedanya, kebesaran cita-cita seorang penghayal hanya tergambar dalam batok kepalanya saja sedangkan seorang pemimpi cita-cita besarnya tak hanya ada di kepalanya namun juga melahirkan berbilang jumlah kerja dan kesungguhan amal untuk mencapainya.
Mencintai Sewajarnya
Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran-Nya, dan hal prinsip dalam ukuran ini adalah ketawazunan/keseimbangan. Maka coba tengok saja, adakah ciptaan Allah yang keluar dari keseimbangan ini? Mulai dari penciptaan galaksi dan alam semesta hingga sampai pada materi terkecil dari suatu benda yang dikenal dengan istilah atom. Semuanya sesuai dengan ukuran. Tidak lebih. Dan tidak kurang.
Jika kemudian kita menemukan fakta bahwa ada beberapa ciptaan-Nya yang memang dikehendaki untuk tidak seimbang, semisal manusia yang kakinya hanya sebelah dan seterusnya maka itu bukanlah penyimpangan dari kaidah umum, namun pasti ada hikmah yang dikehendaki-Nya untuk si makhluk tersebut dan untuk manusia-manusia lain di sekitarnya. Entah tentang kesabaran, tentang kesyukuran, tentang kelemahan manusia sebagai makhluk, dan tentang-tentang yang lain yang bila kita benar dalam memandang fenomena itu maka ada banyak pelajaran yang akan bisa diambil.
Senin, 30 Januari 2012
Keluhan Si Wanita Tukang Keluh
Saya hanya ingin menangis kali ini. Sekali lagi. Yang entah tangisan ke berapa. Dan entah kapan akan berakhirnya. Tangisan atas nama kekecewaan yang seharusnya tak ada dalam kamus manusia yang mukhlisin, yang menyerahkan semua urusannya hanya kepada-Nya. Tapi bukankah wanita ini baru belajar untuk menggapainya? Tertatih, berjalan pelan, meraup ilmu, dan mencoba membingkainya dalam laku akhlak yang bersumber pada aturan-Nya berbekal ittiba’ pada Rasul-Nya, Sang Pemilik kesempurnaan akhlaq yang mulia.
Bagaimana Bila Saya Mati Dalam…
Jumat kemarin, teman-teman seruangan saya mengadakan acara perpisahan bagi salah seorang pegawai yang purnabakti setelah mengabdi kepada Negara selama 34 tahun lamanya. Acara sengaja tidak diadakan di kantor agar terkesan lebih ‘pribadi’ dan tidak terjebak dalam keadaan formal. Maka pada akhirnya diputuskanlah untuk meminjam apartemen Bu Bos yang letaknya di belakang kantor sebagai tempat acara, agar jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak dan pekerjaan yang segera kami bisa langsung kembali ke kantor secepatnya.
Acara dipersiapkan secara sederhana, namun meriah. Ada acara lomba karaokenya untuk menambah kedekatan antar pegawai. Disiapkan juga doorprize-doorprize kecil-kecilan untuk menambah semaraknya acara. Sebelum berangkat perasaan saya sudah sangat tidak enak. Tapi saya tidak mungkin tidak ikut, karena bagaimanapun semua orang turut serta sebagai bentuk penghormatan kepada si Ibu yang telah menyelesaikan masa baktinya. Apalagi saya termasuk orang yang cukup dekat dengan Ibu yang purnabakti ini. Jadi berangkatlah saya bersama yang lain, dengan komitmen sedari awal saya tidak mau ikut karaokeannya. Cukuplah suara saya, didengar oleh cicak dan semut yang ada di dalam kamar kos saya hehe..
MENIMBANG AMAL
Apakah anda saat ini sedang mengerjakan hal-hal besar? Jika iya, maka selamat untuk Anda, karena para pahlawan memang dilahirkan untuk memikul amanah-amanah besar yang tidak bisa dipikul oleh sembarang orang. Namun tunggu dulu, label ‘hal besar’ itu dipandang dari perspektif Anda sendiri, orang-orang umum di sekitar Anda, atau dari kaca mata siapa?
DEKLARASI AIR AKAN TUHAN
Apakah anda pernah berfikir, bahwa Alloh telah menciptakan dunia ini sungguh dengan tidak main-main? Benar-benar tidak main-main!!! Dengan perhitungan yang sangat teliti. Dengan sistem maha kompleks dan maha dahsyat yang berjalan dengan kehendak-Nya tanpa perlu sedikitpun campur tangan manusia dan bahkan bisa jadi manusia itu tak menyadari karena menganggapnya hanya sebagai suatu yang biasa.
KAMU DAN AKU
Jumat, 27 Januari 2012
Bait ad-Da’wah, Sebuah Mimpi tentang Masa Depan
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Curcol Yaa.. ^^
Huaaa,,, hari ini sedang sangat tidak jelas Sist! Jadi binun mau nulis apaan. Otaknya lagi mampet. Setak. Setelah berkelindan dengan dunia keabu-abuan akhir taun anggaran, sepertinya butuh sedikit istirahat. Sehari saja. Namun apa daya,, tahun baru masi setengah purnama lagi.. Jadi ya biarkan saja saya menceracau sedikit di sini untuk melepas gumpalan-gumpalan emosi yang menggelayut di langit hati ;p
Setelah berhari-hari disibukkan dengan dinas liar, akhirnya terantuk di depan komputer mengurus segala tetek bengek tentang pertanggungjawaban keuangan. Jam kerja yang selalu panjang di hari-hari terakhir menjelang tutup tahun karena hampir selalu pulang menjelang pukul 10 malam. Dan PR-nya adalah: kenapa selalu seperti ini setiap tahun? Hal yang berulang itu bukannya harus bisa disikapi dari awal? Tapi embuhlah, semuanya nampak ngga begitu penting lagi. Saat tumpukan berkas sudah menutup meja kerja dengan sempurna. Yang ada dalam pikiran cuma cepat selesaikan, dan segera pulang. Enough!
Setelah berhari-hari disibukkan dengan dinas liar, akhirnya terantuk di depan komputer mengurus segala tetek bengek tentang pertanggungjawaban keuangan. Jam kerja yang selalu panjang di hari-hari terakhir menjelang tutup tahun karena hampir selalu pulang menjelang pukul 10 malam. Dan PR-nya adalah: kenapa selalu seperti ini setiap tahun? Hal yang berulang itu bukannya harus bisa disikapi dari awal? Tapi embuhlah, semuanya nampak ngga begitu penting lagi. Saat tumpukan berkas sudah menutup meja kerja dengan sempurna. Yang ada dalam pikiran cuma cepat selesaikan, dan segera pulang. Enough!
ANAK-ANAK DUNIA
Seorang perawat lansia kalang kabut dengan ulah pasiennya beberapa hari ini. Seorang Ibu berumur 67 tahun yang menderita pengapuran tulang yang mengakibatkan ruang geraknya terbatas dan harus selalu ditemani untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Apa pasal? Tiga hari terakhir, Ibu yang biasanya penurut ini tiba-tiba saja ‘membandel’ seperti anak kecil. Mogok makan. Mogok minum obat. Menampik suntikan rutinnya.
Hari pertama si perawat masih menganggap hal itu wajar sebagai ekspresi ‘kebosanan’ terhadap rutinitas hidup yang harus dijalani ibu ini di masa senjanya. Motivasi-motivasi senantiasa diucapkan si perawat agar ibu ini mau bangkit kembali. Entah motivasi itu benar-benar tulus dari hatinya untuk kebaikan si Ibu, atau hanya sekadar untuk kepentingan dirinya. Karena bagaimanapun juga dia butuh pekerjaan dengan gaji besar ini agar tetap bisa menghidupi anak-anaknya. Kalau Ibu ini ‘mempercepat’ kematiannya dengan ulah konyolnya, maka itu berarti kiamat akan segera menyapa keluarga si perawat.
Budak-Budak Persepsi Kecantikan
Cantik. Siapa sih wanita yang tidak tergila-gila dengan satu kata itu? Tentu saja ‘normalnya’ sih tidak ada, karena secara fitrah dan insting alaminya, wanita telah diciptakan sebagai makhluk yang senang berhias dan cinta keindahan. Makanya tak heran jika para pebisnis kemudian berlomba-lomba untuk memproduksi segala tetek bengek untuk kecantikan wanita karena pangsa pasarnya sungguh luar biasa dan keuntungan yang dihasilkanpun sangat menggiurkan. Bagaimana tidak?! Karena walaupun wanita pada umumnya cukup ‘pelit’ dalam membelanjakan uangnya, namun mereka jadi bisa begitu royalnya untuk kebutuhan mempercantik dirinya. Kesempurnaan Cinta Seorang Wanita (Bagian 2)
Hari Ahad pagi. Lelaki itu sendirian di rumahnya. Istrinya tadi ijin untuk mengisi ta’lim rutin pekanan. Ia pergi dengan membawa kedua putra angkat mereka. Lelaki itu tadi sudah menawarkan untuk mengantarkannya seperti biasa. Tapi istrinya menolak karena mungkin agendanya kali ini cukup lama. Apalagi lelaki itu harus mengisi ta’lim pukul 10 pagi ini, jadi wanita itu tidak mau jika suaminya sampai terlambat datang nanti.
Lelaki itu baru saja selesai dhuha dan memurajaah hafalannya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia pergi ke ta’lim yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tiba-tiba lintasan mimpinya semalam berkelebat di ruang pikirnya. Ah, kenapa tiba-tiba ia memimpikan perempuan itu lagi? Dan petikan memori tentang sebuah mozaik kelabu dalam perjalanan hidupnya pun membuka dengan terang pagi itu. Dan tanpa sadar ia mulai menapaktilas atsar-atsarnya yang digoreskan sang waktu dalam episode bernama masa lalu.
Tsabita..
Kesempurnaan Seorang Wanita (Bagian ke-1)
Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih menggelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.
“Tsabita.. Tsabita..”
Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya, dia amati wajah teduh pemilik suara. Perempuan itu tidak bermimpi. Dia dalam keterjagaan yang sempurna.
“Tsabita…” Nama itu kembali terucap dari lelaki di sampingnya. Begitu lirih. Begitu dalam. Begitu.., ah tak mampu ia menggambarkannya.
Menyamuderakan Cinta Sang Pecinta
Malam semakin larut, angin berbisik sayup-sayup terdengar di balik jendela yang sedikit terbuka. Menyelisik hati bersama hawa dingin yang diam-diam mengalir masuk. Dinginnya mampu menggigilkan tubuh perempuan yang mengintip rembulan dari sebalik gorden kamarnya. Ah, rembulan perak pun enggan memurnama. Padahal tinggal seselaput tipis untuk menjadikannya bulat seutuhnya. Laksana dekatnya bilangan hari yang akan menyampaikannya pada purnama agamanya.
Andaikan waktu itu benar-benar bisa dihentikan, ia berharap waktu itu terhenti saat sunyi ini. Menyendiri dalam ruang hampa waktu. Sejenak meninggalkan segala gundah galau yang selama ini membuat hatinya menceracau. Atau jika tidak, tak bisakah hari-hari itu mengurai dalam bilangan detik yang lebih panjang? Agar ia punya kesempatan bernafas lebih lepas. Membuang segala sesak yang telah lama menyeruak.


