Sebenarnya sih Nak, postingan ini niatnya mau dipublikasikan pas kamu setahun kemarin (17 April 2014). Jadi kayak milestone rutin tahunan gitu. Tapi eh tapi, apa daya.. Ternyata Bunda tidak bisa menyelesaikannya. Molor hampir 2 bulan nih Sayang.. Niat awalnya doeloe malah pengennya setiap bulan ada up date perkembanganmu, Shalihah Kesayangan. Biar nanti kalo sudah besar, Shalihah tetep tau kejadian-kejadian di masa kecil. Baik kenangan menyenangkan maupun yang tidak. Untuk diambil pelajaran tentunya. Tapi ya beginilah Bunda-mu Nak.. Maafkan yaa.. :) Ke depannya semoga bisa lebih baik. Aamiin Allohumma Aamiin..
0-1M
Malam Rabu tanggal 16 April 2013 pukul 00.xx Bunda merasa ada cairan yang keluar dari jalan lahir. Seperti pipis, tapi keluar sendiri. Maka Bunda dalam posisi masih berbaring, mencoba merasai apakah ada yang berasa tegang seperti kata orang tentang kontraksi. Namun, ternyata masih belum kerasa. Tapi sebentar-sebentar kemudian, cairan itu keluar lagi. Sampai beberapa kali. Karena Bunda tidak mau mengambil risiko, maka Bunda segera membangunkan Ayah dan Mbah. Minta diantar ke RS walaupun belum kerasa kontraksinya.
Nah, pas nunggu taksi (lama nian taksinya, maklumlah dini hari gitu.. ^^), baru deh kerasa gelombang cinta itu. Pelan. Ah, dimana sakitnya sih? Lebai kali ya cerita orang-orang itu tentang sakitnya kontraksi. Pendapat kilat Bunda tentunya. Pas di taksi Bunda mulai itung deh ritmenya. Masih 15 menit sekali. Tapi si air ketuban kadang-kadang masih keluar-keluar.
Sampai di RS masuk ke UGD, diperiksa, kemudian diantar di ruang entah apa namanya (tapi bukan ruang bersalin, sepi ngga ada orang sama sekali). Disana dicek bukaan berapa, dan... baru bukaan 2 ternyata. Dicek detak jantung janin, kondisinya oke. Bunda minta ke perawatnya agar dicek jumlah air ketuban, katanya tidak bisa. Harus menunggu poli kebidanan buka, karena melalui USG. Yasudahlah.. Bunda baca Quran saja di ruang itu, sambil menunggu arahan lebih lanjut dari perawat. Kemudian ngobrol sama Ayah, pas Ayah datang di ruangan. Mbah kemana ya waktu itu? Menunggu di luar, soalnya yang boleh masuk cuma 1 orang..
Sekitar jam 4 dicek lagi bukaannya, masih belum nambah. Oh wow, lama juga yak. Tapi kontraksi juga belum kerasa-kerasa amat. Dipindahlah Bunda kemudian di ruang rawat inap pasien. Karena ngambil yang kelas C, maka disitu ada 6 pasien lainnya. Dan yang boleh menemani hanya wanita. Maka Mbah yang menunggui Bunda, dan Ayah berjaga di luar.
Bunda lupa, sampai jam berapa berada di kamar pasien itu. Mungkin sekitar jam 9-nan Bunda dibawa ke ruang bersalin karena air ketuban terus-terusan keluar. Tapi pas dicek bukaan masih bukaan 4. Harusnya sih secara teori Bunda harus banyak-banyak jalan dan goyang inul biar bukaannya cepet naik. Tapi karena air ketubannya mengucur, Bunda khawatir malah bikin becek RS itu. Jadi ya Bunda diem-diem saja, tiduran. Waktu serasa lambat sekali berjalan. Sangat lambat. Padahal ada Ayah disamping Bunda, ngebacain Al-Quran, terkadang ngobrol-ngobrol. Menjelang dzuhur, dicek lagi bukaannya, masih bukaan 8. Diwanti-wanti agar kalo kerasa ada yang mau keluar, dilarang keras buat 'ngeden' alias mengejan.
Pas jam shalat dzuhur, MasyaAlloh Nak.. Rasanya isi perut mau keluar semua. Help me...!!! Ini mungkin sudah mau lahir.. Tapi pas nyari perawat, cuma ada 1 perawat lelaki yang standby di ruangan itu. Ditanyain yang lain kemana, katanya sedang istirahat. Hallooooo?? Ini becanda ya kalian?!.. Hosss..Hoss..Hoss apa yang harus kulakukan?! mengatur nafas sedemikian rupa, tapi hasilnya ya tetep ngejan-ngejan juga deh kayaknya.. Cuma sama Ayah doang, dipandu istighfar.. Kemudian sempat shalat dzuhur dulu tapi setiap kali kontraksi hebat itu datang, Bunda menghentikan bacaan.. (setelah beberapa minggu kemudian, barulah Bunda tau dari cerita Ayah bahwa saat itu sebenarnya Bunda sudah berdarah-darah. Secara fiqh-nya kan kalau sudah keluar darah, sudah tidak diperkenankan shalat. Tapi ya secara, Bunda ngga tau waktu itu kalo sudah berdarah-darah. Semoga Alloh mengampuni..). Pengennya saat itu sih langsung ngejan sekuat tenaga, biar lega, biar cepet keluar. Cuma karena ingat pesan Bu Dokter pengganti yang galaknya ampun-ampun, makanya Bunda mencoba untuk tidak mengejan.
Nah, sekitar sejam kemudian barulah perawat pada datang dan Bu Dokter juga. Dicek bukaannya, dan... "Gimana sih Mbak, kan tadi saya sudah bilang jangan ngejan! Ditahan! Ini jadinya bukaannya turun lagi jadi 7. Kalo, ditunggu ni ngga naik-naik juga ke 9, terpaksa cesar! Ngga nurut sih Mbak-nya!!!" Kata Bu Dokter dengan sadisnya.
Ya ampyuuuun Bu! Dirimu dan perawat-perawat kemane aje tadi!! Diriku menahan sekuat tenaga sejam yang lalu. Sampe frustasi rasanya. Dan elu dateng-dateng, maki-maki orang seenaknya. Seandainya ada sendal didekatku pasti sudah kulempar tuh sendal ke mukanya! Grrrhhhh.. astaghfirulloh.. shabar Mak..shabar... Alhamdulillah Bidan yang mendampingi kalem orangnya. Tau gitu, diriku tak perlu mahal-mahal pake dokter dwehh. :D
Sekitar jam 2 kurang, bukaan masuk ke 8. Alhamdulillah.. Sakitnya itu wooowwwww.. Bukan sakit yang gimana-gimana,, tapi berasa bayinya itu udah tinggal 'mbrojol' tapi ada sesuatu yang menahan. Sama suster di kateter urine, banyak yang keluar. Tetapi, tidak membantu mengurangi 'sakit' yang dirasakan. Kemudian pas bukaan sudah mau lengkap, Bunda tetiba saja mengejan. Dan.... keluar kotoran banyak sekali. -__-" Hihihi, kalo waktunya bukan pas melahirkan pasti Bunda sudah memilih untuk menenggelamkan diri dalam tanah. Maluuuuuuu Bo..! Tapi setelah Bunda baca-baca artikel, ternyata memang sangat wajar orang yang mau melahirkan mengeluarkan kotoran. Dan justru, prosedur yang baik adalah dokter/bidan itu mengecek si Ibu yang mau lahiran terakhir BAB kapan? Kemudian kalau dirasa 'lama' tidak BAB, dimasukkan obat apa gitu dianusnya agar memudahkan keluarnya kotoran. Karena kotoran yang tidak dikeluarkan lebih dahulu itu membuat bukaan jadi luama, karena desakan janin ke jalan keluar terhambat kotoran yang menumpuk di saluran sebelahnya, dan si Ibu tenaganya terkuras karena harus menahan mengejan atas sesuatu yang seharusnya sudah dapat dikeluarkan. Dan efek terburuknya dari kotoran yang tidak dikeluarkan terlebih dahulu adalah ambaien (sebagian usus menonjol keluar dari anus). Karena mengejannya berkali-kali lebih dahsyat, akibat dorongan dari kotoran dan dorongan dari janin yang berdesak-desakan di area yang sama (daerah panggul).
Dan... setelah 3 kali mengejan, sekitar pukul 14.37 lahirlah putri yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya dengan sepenuh cinta..
Tapi loh kok tidak ada suara tangisan ya? Reflek Bunda bertanya, "Kok tidak ada tangisan Bu?"
"Iya Bu, tadi pas keluar lehernya kelilit tali plasenta dan keminum air ketuban. Ini sedang dikeluarkan air ketubannya" kata asisten Bidan-nya. Dan tak lama kemudian... terdengarlah tangisan merdu itu.. Kemudian bayi cantik itu diletakkan di dada Bunda untuk IMD. Bunda dan Ayah tak kuasa untuk menahan airmata saat itu.. Sangat terharu.. MasyaAlloh... Laa haula walaa quwwata illa billah.. Terima kasih sangat Ya Alloh..
Hehe, saking senengnya sampai ngga kerasa tuh jahitannya. Padahal kata Bu dokternya diobras habis sampai ke belakang. :D Oya, Ayah dan Bunda saat itu masih memanggilmu dengan 'Hawariy' yang terinspirasi dari para hawariyin (penolong setia Nabi Isa a.s.). Karena sunnah memberikan nama kan pas hari ke-7, sekalian aqiqah dan mencukur rambut. Waktu itu, shalihah kesayangan lahir dengan BB 2,9 kg dan TB 48 cm.
Ada cerita lucu sehabis lahiran ini loh Nak. Jadi, karena pihak RS tidak menyediakan jasa penguburan ari-ari (plasenta) maka Ayah harus mencari-cari rumah orang yang bisa dititipi penanaman plasentamu Sayang. Pilihannya ya hanya ke rumah Bapak-Ibu kos yang sudah selayaknya orang tua sendiri itu. Tapi karena kesana sudah kemaleman, makanya plasentamu nginep di kulkas dulu smaleman.. :)) Ngga kedinginan kan Yah? hehehe..
Sekitar jam 2 kurang, bukaan masuk ke 8. Alhamdulillah.. Sakitnya itu wooowwwww.. Bukan sakit yang gimana-gimana,, tapi berasa bayinya itu udah tinggal 'mbrojol' tapi ada sesuatu yang menahan. Sama suster di kateter urine, banyak yang keluar. Tetapi, tidak membantu mengurangi 'sakit' yang dirasakan. Kemudian pas bukaan sudah mau lengkap, Bunda tetiba saja mengejan. Dan.... keluar kotoran banyak sekali. -__-" Hihihi, kalo waktunya bukan pas melahirkan pasti Bunda sudah memilih untuk menenggelamkan diri dalam tanah. Maluuuuuuu Bo..! Tapi setelah Bunda baca-baca artikel, ternyata memang sangat wajar orang yang mau melahirkan mengeluarkan kotoran. Dan justru, prosedur yang baik adalah dokter/bidan itu mengecek si Ibu yang mau lahiran terakhir BAB kapan? Kemudian kalau dirasa 'lama' tidak BAB, dimasukkan obat apa gitu dianusnya agar memudahkan keluarnya kotoran. Karena kotoran yang tidak dikeluarkan lebih dahulu itu membuat bukaan jadi luama, karena desakan janin ke jalan keluar terhambat kotoran yang menumpuk di saluran sebelahnya, dan si Ibu tenaganya terkuras karena harus menahan mengejan atas sesuatu yang seharusnya sudah dapat dikeluarkan. Dan efek terburuknya dari kotoran yang tidak dikeluarkan terlebih dahulu adalah ambaien (sebagian usus menonjol keluar dari anus). Karena mengejannya berkali-kali lebih dahsyat, akibat dorongan dari kotoran dan dorongan dari janin yang berdesak-desakan di area yang sama (daerah panggul).
Dan... setelah 3 kali mengejan, sekitar pukul 14.37 lahirlah putri yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya dengan sepenuh cinta..
Tapi loh kok tidak ada suara tangisan ya? Reflek Bunda bertanya, "Kok tidak ada tangisan Bu?"
"Iya Bu, tadi pas keluar lehernya kelilit tali plasenta dan keminum air ketuban. Ini sedang dikeluarkan air ketubannya" kata asisten Bidan-nya. Dan tak lama kemudian... terdengarlah tangisan merdu itu.. Kemudian bayi cantik itu diletakkan di dada Bunda untuk IMD. Bunda dan Ayah tak kuasa untuk menahan airmata saat itu.. Sangat terharu.. MasyaAlloh... Laa haula walaa quwwata illa billah.. Terima kasih sangat Ya Alloh..
Hehe, saking senengnya sampai ngga kerasa tuh jahitannya. Padahal kata Bu dokternya diobras habis sampai ke belakang. :D Oya, Ayah dan Bunda saat itu masih memanggilmu dengan 'Hawariy' yang terinspirasi dari para hawariyin (penolong setia Nabi Isa a.s.). Karena sunnah memberikan nama kan pas hari ke-7, sekalian aqiqah dan mencukur rambut. Waktu itu, shalihah kesayangan lahir dengan BB 2,9 kg dan TB 48 cm.
Ada cerita lucu sehabis lahiran ini loh Nak. Jadi, karena pihak RS tidak menyediakan jasa penguburan ari-ari (plasenta) maka Ayah harus mencari-cari rumah orang yang bisa dititipi penanaman plasentamu Sayang. Pilihannya ya hanya ke rumah Bapak-Ibu kos yang sudah selayaknya orang tua sendiri itu. Tapi karena kesana sudah kemaleman, makanya plasentamu nginep di kulkas dulu smaleman.. :)) Ngga kedinginan kan Yah? hehehe..
![]() |
| Maryam beberapa hari pasca lahiran |
Pada hari ke-2 di RS, tetiba muncul bintik-bintik merah mirip kalo habis campak di sekujur tubuh Shalihah. Tapi tidak demam. Dokter bilangnya hanya bisa jadi tidak cocok dengan sabun yang ad di RS, jadi kemudian dibelikan sabun khusus Sebamed (Tapi sepertinya bukan karena masalah sabun deh, soalnya setelah memakai Sebamed-pun si merah-merah ini tidak hilang juga. Baru hilang setelah 3 pekanan kalo tidak salah ingat. Dan itupun didahului dengan kulit yang seperti mengelupas-mengelupas begitu. Duh kasian kamu sayang.. Kalo kata tetangga-tetangga sih namanya 'sarap' (?), tidak perlu dikhawatirkan. Cukup dioles dengan minyak zaitun atau virgin coconut oil).
Lalu bagaimana dengan kondisi Bunda? Subhanalloh Nak,, Bunda belum pernah merasakan yang namanya sakit itu melebihi pasca kelahiranmu. Rasanya seperti semua isi perut itu seakan-akan mau tumpah keluar semua melalui bagian anus. Mau geser dari posisi berbaring ke duduk saja, mau nangis rasanya. Sakiiiiiiit banget. Maunya di satu posisi saja. Tidak bergeser. Tapi ya mana bisa, Bunda harus (belajar) menyusuimu kan ya? Dan karena ASI Bunda belum banyak keluar, plus belum pandai cara menyusui, plus Shalihah juga sedang belajar menyusu, jadi sering nangis karena mungkin merasa kehausannya tidak terobati dengan nenen. Jadi nangis-nenen-nangis-nenen-nangis-nenen. Tidak terhitung. Dan itu perjuangan banget buat Bunda yang harus menahan rasa sakit luar biasa setiap berganti posisi. Belum lagi untuk mengetahui jahitan itu oke pa ndak,, Bunda harus BAB dulu. Ya ampuuuuunnnn, astaghfirulloh.... Bunda rasanya mau pingsan pas di toilet karena pas mau keluar itu sakiiiiiiiiiiiit pol..pol..pol. Bunda kira, sakitnya itu karena jahitan. Tetapi lama-lama Bunda jadi mikir kenapa sakit luar biasanya di daerah anus. Dan kenapa di anus sekarang seperti ada tonjolan besar yang keluar tiba-tiba? Saat Bunda konsulkan ke dokter (yang sadis luar biasa itu), beliau bilang itu karena ambaien. Dimarahin lagilah, karena seharusnya kalo ada riwayat ambaien itu disembuhkan dulu sebelum lahiran normal, karena sangat berisiko. Pas Bunda bilang, tapi saya tidak pernah merasa ada masalah itu sebelumnya (keluar tonjolan dan muncul rasa sakit di anus). Beliau langsung bilang: 'Ya nggak mungkin. Ini ambaien pasti sudah lama. Ngga mungkin tiba-tiba datang!'
Bunda mikir, iya juga sih mungkin Bunda memang sudah ada ambaien. Cuma memang tidak pernah terindikasi karena belum pernah sampe keluar dari anus. Dan kenapa si ambaien itu tetiba nongol begitu,, ya mungkin karena kesalahan SOP lahirannya. Harusnya dikeluarkan dulu 'kotoran' perutnya. Jadi ngga ngeden berkali lipat, plus kudu ditahan pula. Saat ingat sakitnya itu, Bunda jadi benar-benar takut untuk melahirkan lagi.. T.T
Hari ke-7 alhamdulillah, Ayah dan Bunda ada rizqi untuk menunaikan aqiqah. Pesen saja ke jasa penyelenggara aqiqah karena tidak memungkinkan masak sendiri. Aqiqah dibagi untuk warga sekitar kontrakan, dan dilaksanakan mengikuti adat daerah setempat. Sebenarnya Ayah dan Bunda ngga setuju-setuju amat, kalo bayinya harus diputer diantara Ibu-Ibu itu dan disemprotin minyak wangi dan justru malah rambutnya dipotongnya cuma sebagai 'syarat' saja. Tapi yoweslah,, tidak semua hal bisa dihandle sendiri. Untuk mencukur sampe gundul-dul akhirnya dilakuin sendiri sama Mbah, walaupun bukan pada hari ke-7-nya, mengingat saat hari ke-7 itu Shalihah masih dipenuhi merah-merah di sekujur tubuh termasuk seluruh permukaan kepala. Khawatir malah jadi melukai si merah-merah yang agak berarir itu.
Aihhhh tau-tau sudah panjang aja ni. Dijadikan 2 episode saja lah ya. Untuk yang bulan 2-12 kayaknya ngga lebih banyak dari ini. Tunggu session 2-ya Nak..
Lalu bagaimana dengan kondisi Bunda? Subhanalloh Nak,, Bunda belum pernah merasakan yang namanya sakit itu melebihi pasca kelahiranmu. Rasanya seperti semua isi perut itu seakan-akan mau tumpah keluar semua melalui bagian anus. Mau geser dari posisi berbaring ke duduk saja, mau nangis rasanya. Sakiiiiiiit banget. Maunya di satu posisi saja. Tidak bergeser. Tapi ya mana bisa, Bunda harus (belajar) menyusuimu kan ya? Dan karena ASI Bunda belum banyak keluar, plus belum pandai cara menyusui, plus Shalihah juga sedang belajar menyusu, jadi sering nangis karena mungkin merasa kehausannya tidak terobati dengan nenen. Jadi nangis-nenen-nangis-nenen-nangis-nenen. Tidak terhitung. Dan itu perjuangan banget buat Bunda yang harus menahan rasa sakit luar biasa setiap berganti posisi. Belum lagi untuk mengetahui jahitan itu oke pa ndak,, Bunda harus BAB dulu. Ya ampuuuuunnnn, astaghfirulloh.... Bunda rasanya mau pingsan pas di toilet karena pas mau keluar itu sakiiiiiiiiiiiit pol..pol..pol. Bunda kira, sakitnya itu karena jahitan. Tetapi lama-lama Bunda jadi mikir kenapa sakit luar biasanya di daerah anus. Dan kenapa di anus sekarang seperti ada tonjolan besar yang keluar tiba-tiba? Saat Bunda konsulkan ke dokter (
Bunda mikir, iya juga sih mungkin Bunda memang sudah ada ambaien. Cuma memang tidak pernah terindikasi karena belum pernah sampe keluar dari anus. Dan kenapa si ambaien itu tetiba nongol begitu,, ya mungkin karena kesalahan SOP lahirannya. Harusnya dikeluarkan dulu 'kotoran' perutnya. Jadi ngga ngeden berkali lipat, plus kudu ditahan pula. Saat ingat sakitnya itu, Bunda jadi benar-benar takut untuk melahirkan lagi.. T.T
Hari ke-7 alhamdulillah, Ayah dan Bunda ada rizqi untuk menunaikan aqiqah. Pesen saja ke jasa penyelenggara aqiqah karena tidak memungkinkan masak sendiri. Aqiqah dibagi untuk warga sekitar kontrakan, dan dilaksanakan mengikuti adat daerah setempat. Sebenarnya Ayah dan Bunda ngga setuju-setuju amat, kalo bayinya harus diputer diantara Ibu-Ibu itu dan disemprotin minyak wangi dan justru malah rambutnya dipotongnya cuma sebagai 'syarat' saja. Tapi yoweslah,, tidak semua hal bisa dihandle sendiri. Untuk mencukur sampe gundul-dul akhirnya dilakuin sendiri sama Mbah, walaupun bukan pada hari ke-7-nya, mengingat saat hari ke-7 itu Shalihah masih dipenuhi merah-merah di sekujur tubuh termasuk seluruh permukaan kepala. Khawatir malah jadi melukai si merah-merah yang agak berarir itu.
Aihhhh tau-tau sudah panjang aja ni. Dijadikan 2 episode saja lah ya. Untuk yang bulan 2-12 kayaknya ngga lebih banyak dari ini. Tunggu session 2-ya Nak..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar