Rabu, 12 November 2014

Lagi-Lagi Maafkan Bunda Nak

Gendhuk Shalihah Kesayangan, ternyata nulis itu masih menjadi PR banget buat Bunda. Padahal yang ditulis itu tentang 'mu'. Yang notabene merupakan amanah dari Alloh yang menjadi sumber kebahagiaan buat Ayah dan Bunda. Menulis tentang 'mu' harusnya Bunda prioritaskan, demi untuk menciptakan kenangan yang akan terus Shalihah ingat. Kata Ustadz Bendri Jaisyurrahman, menulis tentang anak itu sebagai usaha menciptakan sejarah yang baik. Anak akan tau bahwa dirinya itu dicintai, disayangi, dan keberadaannya itu disyukuri oleh kedua orangtuanya. Perasaan dicintai itu diharapkan akan memberikan energi positif kepada jiwa anak-anak sehingga dia akan dapat tumbuh kembang dengan maksimal, memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya dengan sebaik-baiknya, berusaha meneladani kebaikan-kebaikan yang diajarkan orang tuanya, bisa bangkit kembali saat menemui kegagalan, dan dia akan menjadi manusia yang dapat mengasihi orang-orang disekitarnya.


Sebenarnya ya Nak, niat itu luar biasa besarnya. Namun, ternyata masih nol dalam pengaplikasiannya. Ada saja alasan untuk menunda menulis. Padahal sebenarnya buanyaaaaaakkkk banget yang mau ditulis. Akhirnya dikhilafkan dengan kalimat 'dirapel saja'. Tapi pas punya waktu untuk menulis, nah lho... udah banyak yang lupa. T.T

Nah tadi tertampar bolak balik pas baca artikel di situs parenting nabawiyah ini. Bunda kutipkan ya Nak..
Pemahaman. Inilah pentingnya orangtua menjadi orang yang terus belajar dan mengasah otaknya agar memiliki pemahaman yang baik terhadap segala permasalahan. Sayangnya, kecerdasan orangtua hari ini hanya dibayangkan untuk pekerjaannya. Tidak untuk anak-anaknya. Karenanya, banyak para wanita yang merasa gagal ketika sekolah sampai jenjang tinggi tetapi ‘hanya’ mengasuh anak di rumah. Hingga muncul kalimat di masyarakat: buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya di rumah.
Kini, dengan pembahasan ini kita paham di mana letak kegagalan rumah tangga. Mereka tidak memperlakukan keluarganya seperti memperlakukan pekerjaannya. Maksimal di pekerjaan, tetapi sekadarnya di rumah. Tampil paling cerdas dengan pemahaman istimewa di pekerjaannya, tetapi hilang logika dan kecerdasannya untuk mengasuh anak-anak.
Ilmu. Dengan pemahamanlah ilmu bisa terus berputar dan menghasilkan. Pemahaman dan ilmu saling menopang. Ilmu perlu pemahaman yang baik dan pemahaman bisa terus terasah jika berilmu terus menerus dengan baik. Semua ilmu yang baik, pasti dan harus bermanfaat untuk mendidik anak.
Jangan merasa rugi berilmu tinggi dalam rangka mendidik anak. Jangan bakhil belajar ilmu untuk mendidik anak.
Karena tanpa ilmu, kita merasa telah menasehati, padahal tengah membongkar aib anak. Tanpa ilmu kita merasa telah menyayangi, padahal tengah menuruti syahwat anak. Tanpa ilmu kita merasa telah mendidik dengan baik dan benar, padahal tengah lari dari tanggung jawab sebagai orang tua. Tanpa ilmu kita merasa telah menjadi orang tua yang sesungguhnya, padahal kita belum bergeser dari tempat kita duduk sebagai orang tanpa ilmu yang tak pantas menjadi ayah dan ibu untuk anak-anak peradaban.
Bunda ngerasa iya banget Nak. Mau tak mau, suka tak suka, ternyata itu yang Bunda rasakan sebagai Ibu bekerja. Bisa melakukan banyak hal dengan energi terbaik saat di tempat kerja, dan kemudian hanya menggunakan waktu dan tenaga sisa saat bercengkerama dengan Shalihah, dengan Ayah. Jam kerja sebagai PNS yang tidak bisa ditawar, yang kalo mau diitung dari berangkat sampe pulang lagi itu dari 06.30 - 18.30. Dengan pekerjaan yang kadang bisa dibilang, sepertinya sudah overload untuk ukuran PNS dengan golongan IId seperti Bunda. Selalu banyak. Ujian sekaligus berkah, karena mendapatkan atasan yang luar biasa perform dan bertanggungjawab terhadap pekerjaannya. Dimana rekan kerja yang bisa diajak berlari disini, nol.

Bunda mungkin bisa sedikit menyiasati waktu agar kebersamaan dengan Shalihah lebih panjang. Yaitu dengan menitipkan Shalihah di TPA kantor. Jadi kita tidak ketemu hanya dari jam 08.00 - 17.00 WIB. Namun, untuk urusan energi dan tenaga, Bunda belum bisa menyiasati atau belum menemukan bagaimana cara memanajemennya. Bunda sangat..sangat..sangat merasa, walaupun Bunda sudah berusaha tetap tampil optimal di depan Shalihah, itu masih jauh dari yang seharusnya Bunda berikan. Bunda sering merasa bahwa Bunda ini telah gagal menjadi seorang istri yang baik untuk Ayah. Gagal menjadi Ibu yang baik untuk 'mu'. Bunda tidak bisa mengurus Ayah dengan baik. Tidak bisa mengurus Shalihah dengan baik. Tidak bisa mengurus rumah dengan baik. Bahkan Bunda tidak bisa mengurus diri Bunda sendiri dengan baik. So sad.. Astaghfirullah..

Tapi Shalihah, jangan berfikir bahwa Bunda mengejar jabatan di sini. Bukan juga untuk mengejar uang. Bukan juga untuk mendapatkan gelar pegawai teladan dll. Ini hanya semata-mata untuk menebus gaji yang sudah rakyat bayarkan kepada Bunda. Bunda tidak tau harus seberapa keraskah usaha Bunda agar bisa pantas memakan hasil dari gaji Bunda itu. Bunda tidak mau jika apa yang Bunda makan dari gaji itu, belum terbayar lunas dengan kinerja Bunda. Karena jika begitu, berarti Bunda sudah memakan sesuatu yang bukan hak Bunda. Dan bukankah itu hukumnya haram? Ketika itu terjadi, kepada siapa Bunda harus meminta maaf dan meminta ridho atas uang 'lebihan' itu? Kepada rakyat? Bagaimana caranya? Sedangkan saat Bunda tidak perform di rumah, Bunda masih berharap bahwa Ayah dan Shalihah mau memaafkan Bunda. Memberi kesempatan kepada Bunda untuk terus belajar menjadi lebih baik lagi. Walaupun Bunda yakin, stok keshabaran yang harus kalian miliki itu harus buanyaaaaaaaakkkkkk banget. Tapi percayalah Nak, Bunda selalu berusaha.

'Terus, kenapa Bunda ngga keluar kerja saja?'

'Ya Nak. I will.. Insya Allah..'

Tapi Bunda masih belum berani ngelakuin itu sekarang. Bunda masih butuh tambahan kemantapan. Mungkin syetan telah berhasil meracuni pikiran Bunda, sehingga Bunda masih selalu merasa was-was. Bukan, bukan tentang takut berkurang penghasilan. Bunda yakin Alloh sudah menjamin rizki Bunda, lewat Ayah, lewat dirimu. Lewat mana saja. Sudah ditetapkan. Namun, entahlah.. Doakan ya Nak, agar Alloh segera menunjukkan kepada Bunda jalan yang Dia ridhoi. Yang dengan petunjuk-Nya itu Bunda jadi mantap ketika memutuskan untuk resign. Ridho. Bahagia. Bukan karena keterpaksaan yang Bunda yakin justru malah berakibat tidak baik untuk Bunda, Ayah, dan Shalihah. Bunda berikhtiar Nak, dengan menyempatkan waktu untuk belajar dari web parenting, web ilmu syariat, blog Ibu-Ibu yang menginspirasi. Agar kemantapan itu segera Bunda dapatkan. Agar Bunda sudah mulai bisa merencanakan apa yang akan Bunda berikan secara profesional untuk keluarga kita, nantinya. Bukan resign, yang kemudian Bunda tidak juga menambah kontribusi apapun demi perbaikan keluarga.

Bismillah bi idznillah.. Maafkan dan doakan Bunda ya Sayang..

Gambar dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar