Senin, 31 Oktober 2016

Checklist Perempuan Profesional (Reviu NHW#2)



  
Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para Bunda dan Calon Bunda peserta Matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan rasa berat untuk mengerjakan NHW#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan ‘ojo kalah karo wegah’ (jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU, melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.


Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain ‘andaikata aku menjadi istri dan ibu’ bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun ‘DEEP HABIT’ yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berfikir, dan benar-benar krusial dalam hidup kita.

Selama ini, disadari atau tidak, banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas ‘shallow work’ yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini, status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti FB, ditambah puluhan notifikasi WA, sering membuat kita terjebak dalam ‘shallow activities’. Kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses ‘peningkatan kualitas diri’ kita sebagai perempuan, istri, dan ibu, meskipun kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita. Sehingga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori ‘shallow work’ menjadi ‘deep work’ (aktivitas yang memerlukan fokus dan ketajaman berfikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu, mari kita lihat kembali checklist kita:

1.    Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah spesifik? Misal kalimat ‘akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah’ akan lebih baik Anda ganti dengan ‘setiap hari akan menentukan gadget hours selama 2 jam’.

2.    Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur? Misal ‘menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga’ akan lebih baik kalau diganti dengan ‘sehari minimal menyelenggarakan 1x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga’.

3.    Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal ‘sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan’. Ukur diri kita, apakah mungkin? Karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau Anda ganti menjadi ‘membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya’. Sesuatu yang terlalu susah diraih akan membuat kita stres dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah Jawa, ini namanya ‘gayuk.. gayuk tuna’. Contoh kasus: kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan saja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses.

4.    Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? Misal Anda adalah orang yang susah disiplin selama ini, maka sangat pas kalau di checklist Anda tulis akan berusaha tepat waktu setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan Anda selama ini.

5.    Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama Bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai November 2016. Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya. Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari. Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri Anda-lah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,

Tim Matrikulasi IIP

Sumber bacaan:
§  Deep Work, Cal Newport, e-book, akses 30 Oktober 2016.
§  Materi ‘Menjadi Ibu Profesional’ Program Matrikulasi IIP Batch #2, 2016.
§  Hasil NHW#2, Peserta Program Matrikulasi IIP Batch #2, 2016.

~~~

InsyaAlloh sudah sesuai ya NHW#2 saya yang kemarin. Tinggal evaluasi di akhir November  dan Desember. Apakah checklist itu ‘bekerja’ membuat saya selangkah lebih dekat untuk menjadi Bunda kebanggaan keluarga? Hehehe.. Faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah..

We are a home team, right? ^^
 ~~~

Sumber gambar:

  1. http://www.imgrum.net/user/fanyfag/572578090/1066717213377973975_572578090
  2. Dokumen pribadi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar