Rabu, 23 November 2016
Tanya Jawab Materi #6
1⃣ Bunda Yola :
T : Menanggapi materi motivasi ibu bekerja, kebetulan saya bekerja di ranah publik. Saya pribadi sangat menginginkan menjadi ibu bekerja di ranah domestik, namun karena alasan kebutuhan ekonomi saya bekerja di ranah publik, jadi motivasi saya bekerja bukanlah "Asal Kerja", "Kompetisi", maupun "Panggilan" tapi karena "Kebutuhan". Hal ini seringkali membuat saya tidak puas dan sedih karena tidak punya pilihan. Di satu sisi meninggalkan anak karena dinas luar sangat sering, di sisi lain membutuhkan manfaat ekonomi dari dinas luar itu. Bagaimana memperbaiki perasaan saya selama ini untuk bisa menjadi Ibu bahagia yang mampu menularkan kebahagiaan itu ke dalam keluarga?
1⃣ Bunda Yola
J : Jika memang bekerja di ranah publik itu menjadi kesepakatan dan hal penting dalam keluarga, maka lakukan dengan sepenuh hati.
Saat mendelegasikan tugas, pastikan kalau sudah sesuai dengan value kita. Luangkan waktu untuk membicarakan value kita dengan asisten, kemudian latih asisten kita.
Saat di rumah manfaatkan waktu bersama anak sebaik mungkin. ✅
2⃣Bunda Leila
T : 1. Kalau ingin mencapai apa yang keluarga lain sudah raih, ini termasuk kompetisi bukan, ya? Arahnya lebih ke 'mereka bisa, masak kami tidak', misalnya hafalan Qur'an, semacam berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita sedih kalau ketinggalan, tapi bukan berarti stres dan kesal pada yang sudah lebih sukses, kadang adanya kesal terhadap diri sendiri.
2. Untuk one bite at a time, jika target harian kita ada banyak aspek misalnya hafalan Qur'an, resep sehat tertentu, cek kandungan dan efek samping imunisasi yang akan diterima anak kita pekan depan, baca tips SEO, baca artikel parenting dari satu sumber sehari, browsing mau beli baju rumah cantik dengan harga terbaik, yang seperti ini termasuk terlalu banyak/tidak fokus kah?
2⃣ Bunda Leila
J : 1. Masing-masing keluarga memiliki ciri khasnya. Maka, maksimalkan kekuatan tersebut
2. Jika target harian tersebut mampu dilaksanakan secara kontinyu, itu bagus✅
3⃣ Bunda Lia:
T: 1. Untuk delegasi pekerjaan. Bagaimana jika tidak ada orang yg di delegasikan untuk pekerjaan sbgai ibu (tdk ad art dan anak2 msh balita) Arti ny,jika sebagai manajer harus mempunyai bawahan ya
2. Seandai nya keinginan bekerja itu datang karena perasaan bosan dengan pekerjaan rmh. Ingin jg rsnya beraktivitas yg menghasilkan diluar. Itu bagaimana?
3. Langkah yg dikerjakan agar segera move on dari 'sekedar menjadi ibu' Karena cukup sulit jika berubah langsung drastis dan konsisten
3⃣ Bunda Lia
J: 1. Ajak anak-anak terlibat dalam aktivitas ibu yang sesuai dengan usianya.
Pemaknaan manajer di sini lebih ke pembaharuan pemahaman, dari yang 'sekedar' menjadi 'lebih bermakna'
2. Jika bosan melanda, coba kita berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kita bekerja di dalam rumah. Seberapa ikhlas hati kita melakukan pekerjaan tersebut?
3. Langkah awal, ubah mindset kita menjadi ibu yang lebih bermakna✅
4⃣ Bunda Prima :
T: Sebagai ibu pekerja waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak lebih sedikit dibandingkan dengan ibu rumah tangga,yang setiap saat mungkin bisa mengontrol kegiatan anaknya. Berbicara soal aturan, saya dirumah sudah mendelegasikan aturan-aturan tersebut kepada orang-orang yg ada dirumah,bahkan menulis aturan-aturan tersebut biar selalu diingat, misalnya: anak saya dilarang beli makanan atau jajan yg macam2 karna alasan kesehatan atau beli main2an setiap hari, hal ini bukannya tidak boleh tetapi utk membiasakan anak saya utk hidup sehat dan berhemat. Saat ini saya tinggal dengan mertua,dan aturan-aturan yang saya buat selama ini terkadang dilanggar karna alasannya "sayang dengan cucu atau kasihan dengan cucu kalau tidak dibelikan mainan dll", pertanyaan saya apa yg harus saya lakukan agar aturan tersebut tetap dijalankan dan dilanggar, tanpa ada intervensi dari keluarga mertua misalnya, mengingat sebagai ibu pekerja waktu saya dirumah lebih sedikit?
4⃣ Bunda Prima
J : Kita tidak bisa mengesampingkan begitu saja peran mertua. Tetap hormati mereka sebagai orang tua kita.
Terkait aturan tentang anak, bicarakan terus dengan mertua, wilayah-wilayah yang boleh dan tidak boleh. Ajak ngobrol mertua juga tentang hal-hal yang baik dan sehat untuk anak-anak✅
5⃣ Bunda Kartini
T : Saya dulu sebagai wanita bekerja, sebelum memiliki anak, karena saya tidak rela meninggalkan anak, jadi cuti lahiran lanjut resign. Tetapi saat ini saya msh menumpang di rumah ortu saya. Jd saya belum maksimal menjalankan fungsi sebagai manager keluarga.
Bagaimana supaya saya menjadi manager keluarga di rumah ortu saya? Apakah mungkin?
Bagaimana menyikapi perbedaan mendidik anak? Saya merasa banyak konflik jika masih bersama keluarga saya. & saat ini sedang membulatkan tekad untuk mandiri.
Apakah menjadi Manager keluarga, harus membuat jadwal perjam untuk tugas saya menjadi ibu untuk keesokan hari nya?
5⃣ Bunda Kartini
J : Hal-hal yang kita tekadkan BISA, insyaAllah bisa kita lakukan.
Ada satu cerita dari bu Septi ketika beliau sekeluarga hidup satu rumah dengan orang tuanya. Beliau memberi batas aturan untuk anak-anaknya. Jika berada di wilayah ibu, maka aturan ibu yang dipakai. Jika berada di wilayah nenek, maka bisa memakai aturan nenek. Ini salah satu contoh strategi keluarga.
Manajer keluarga harus membuat jadwal?
Jika hal itu menjadi kebutuhan dan mendukung aktivitas ibu sebagai manajer keluarga, maka lebih baik dibuat✅
6⃣ Bunda Ulifa
T : Bagaimana sarannya ya Bu, kadang suami itu mementingkan kegiatan saya di luar rumah tangga seperti berbagai macam kegiatan dakwah walaupun hari sabtu minggu (yg mana kedua hari tersebut enaknya digunakan untuk kegiatan keluarga karena suami libur sabtu dan minggu). Menurut suami, saya tidak masalah tidak mengerjakan kerjaan rumah saat ada kegiatan tetapi saya sendiri merasa ada beban jika menyelesaikan pekerjaan rumah tangga tertunda.
6⃣ Bunda Ulifa
J : Bisa dibicarakan kembali bersama suami, apa yang menjadi ganjalan hati bunda. Ungkapkan rasa hati yang selama ini menyelimuti bunda. Minta pendapat dan masukan lagi dari suami. Mudah-mudahan akan terwujud simpulan yang bisa diterima semua keluarga✅
7⃣ Bunda Yunita
T : Sebagai manager rumah tangga, kita diminta menegakkan aturan. Sepahaman saya, misalnya dalam hal kebersihan dan kerapihan rumah.
1. Bagaimana ya agar suami dan anak terlibat dalam urusan bersih2 di rumah tanpa terkesan menyuruh?
2. Lalu jika sudah sepakat dgn tugas dan tanggung jawabnya tp lalai, bagaimana baiknya cara mengingatkan suami & anak agar kita tidak marah atau membuat suami & anak marah?
7⃣ Bunda Yunita
J : Jadikan kegiatan bersih-bersih sebagai aktivitas semua keluarga, semua anggota terlibat, semua anggota bertanggung jawab. Buat kesepakatan, jika lalai, apa yang harus dilakukan.
Misal : mengembalikan handuk setelah mandi ke tempat jemuran
Masing-masing anggota bertanggung jawab untuk menaruh kembali handuknya setelah dipakai
Jika lalai, maka ibu bertugas untuk mengingatkan anggota keluarga yang lalai hingga pekerjaan tersebut selesai
๐๐ผitu satu contoh saja ya.
Aturan tentang hal apa yang dilakukan jika terjadi kelalaian, bisa minta pendapat dari anggota keluarga.
Bisa ditanyakan ke anggota keluarga, jika lalai, maka ibu harus ngapain?
Kita gali ide dari semua anggota keluarga untuk menjadi kesepakatan bersama, sehingga ketika ada yang lalai, kita kembalikan pada kesepakatan yang telah dibuat bersama tersebut✅
8⃣ Bunda Rita Fithra Dewi
T : Bagaimana membagi tugas yg "adil" dan menjaga kerjasama dengan seluruh anggota keluarga yg memiliki perbedaan umur. Seperti dengan anak-anak yg umur range nya dari 12th, 7th dan 5th.
8⃣ Bunda Rita Fithra Dewi
J : Adil, pemahaman saya, memenuhi sesuai kebutuhan. Maka, kebutuhan anak usia 12 tahun akan berbeda dengan anak usia 7 tahun atau 5 tahun. Kebutuhan-kebutuhan ini bisa kita gali informasinya dari masing-masing anak tersebut. Kemudian coba ditata dan disinergikan.
Usia 5, 7 dan 12 tahun sudah mulai bisa menyelesaikan aktivitas sesuai kemampuan mereka. Maka, buat kesepakatan dengan anak-anak tersebut, apa yang akan mereka kerjakan masing-masing dan apa yang akan mereka lakukan bersama✅
9⃣ Bunda Retta
T : 1. Bagaimana menentukan prioritas dalam menerapkan teori manajer rumah tangga? Apakah lebih baik menjadi manajer keuangan dulu, manajer pendidikan atau yg mana?
2. Apa parameter keberhasilan kita sudah menjadi manajer yg berhasil?
9⃣ Bunda Retta
J : 1. Sesuaikan dengan kebutuhan bunda
2. Pribadi kita semakin bahagia, pelanggan utama kita (suami dan anak) pun semakin bahagia✅
1⃣0⃣ Bunda Omi
T : 1. Sejauh mana sebuah prinsip kompetisi membuat kita stres? Karena saya suka kompetisi terutama yg berkaitan dgn peningkatan kualitas keluarga. Seperti misal: keluarga A bagus dari sisi akhlak, membuat saya terpacu utk seperti mereka
2. Karena saya mengerjakan semua pekerjaan sendiri tanpa art, dan saya mau semua hal serba cepat selesai tapi saya jd banyak lalai, maunya cekatan tapi suka memecahkan dan merusak barang. Bagaimana menjadi ibu yg gesit tapi cekatan dan hati-hati?
3. Kadang saya membutuhkan partner agar anak-anak bisa "tenang" dan saya bisa aktif sendiri mengerjakan pekerjaan domestik rumah. Tapi jujur saya tidak rela anak saya menonton tv. Niatnya sehari hanya menonton 2 jam, tapi kadang jadi 3 jam. Apa solusi agar anak tanpa tv atau sangat sedikit menonton tv? Kebetulan di rumah saya banyak sekali mainan dan buku-buku edukatif, tapi waktu anak-anak bermain ketika rumah sudah rapi dan anak-anak sudah mandi serta makan pagi
1⃣0⃣ Bunda Omi
J : 1. Ketika kesuksesan keluarga lain membuat kita 'panas'. Mengamati sisi baik keluarga lain, boleh. Terpenting, setiap keluarga punya kekuatan masing-masing, maka optimalkan.
2. Sama dengan saya bunda, tanpa ART ๐ Fokus dan tenang ketika melakukan satu aktivitas.
3. Maksimalkan aktivitas tanpa tv. Ketika beraktivitas tanpa tv tersebut, temani anak-anak, terlibat penuh secara fisik maupun psikologis, hingga anak tercukupi kebutuhannya✅
1⃣1⃣ Bunda Neng
T : Cara meningkatkan peran dari seorang kasir keluarga menjadi manager keuangan keluarga
1⃣1⃣ Bunda Neng
J : Cari ilmu seperti apa manajer keuangan keluarga itu, kemudian praktekkan
Misal, selama ini aktivitasnya menghitung uang masuk dan keluar saja
Setelah dapat ilmunya, kemudian bisa praktek mengalokasikan dana ke pos-pos yang lebih tertata sesuai perencanaan keluarga✅
1⃣2⃣ Bunda Oktiin
T : Mau nanya tp situasinya kyk gini: Ga punya orang yang bisa bantu didelegasikan tugas, kecuali suami. Krn orangtua sdh tua. Jd suka kecapean sndiri. Bagaimana mengatasinya?
1⃣2⃣ Bunda Oktiin
J : Bagaimana dengan anak-anak?
Sudah dikomunikasikan langsung dengan suami untuk mencari solusi bersama?✅
1⃣3⃣ Bunda Yulmia
T : Kalau boleh tau,bagaimana pembagian waktu bu septi waktu anak2 nya masih balita..? Dan apakah bu septi pernah mengalami kegagalan2 dlm menjadi manager keluarga..? Kalau pernah,bagaimana cara bu septi menghadapi kegagalan tsb.
1⃣3⃣ Bunda Yulmia
J : Hal yang pernah diceritakan ibu Septi kepada kami adalah saat anak-anak balita, Ibu Septi fokus pada wilayah bunda sayang dan cekatan.
Saat mau masuk ke ranah bunda produktif, beliau tetap melibatkan anak-anak.
Pesan dari Pak Dodik, Ibu Septi boleh berperan di ranah bunda produktif asalkan anak-anak tetap bersama bunda sampai usia 12 tahun
Jadi, kegiatan bunda produktif dipilih yang bisa melibatkan anak-anak✅
1⃣4⃣ Bunda Agustin
T : Saya ibu yg bekerja, suami saya belum punya pekerjaan lagi. anak masih balita. Kami tidak punya ART. Sering kali saya bingung menentukan prioritas. Keluarga atau kantor. Pekerjaan saya mengharuskan lembur dan sering keluar kota berhari-hari. Hal itu tentu saja blm bisa saya lakukan. Saya tidak enak jika izin minta kelonggaran terus menerus. Tetapi saya juga tidak sanggup meninggalkan suami atau anak. Manajemen yang bagaimana yg bisa saya terapkan?
1⃣4⃣ Bunda Agustin
J : Terus semangat yaa
Yakin bahwa Allah sayang pada hambaNya
Komunikasikan dengan suami, bagaimana baiknya solusi yang akan diambil. Bagaimanapun, ini menyangkut keberlanjutan biduk rumah tangga bunda dengan suami. Kesepakatan manajemen seperti apa yang akan muncul, mudah-mudahan menjadi solusi baik untuk bunda sekeluarga✅
*Untuk Pertanyaan dari Bunda Yulmia,
Berikut jawaban ibu Septi Peni Wulandani terkait pertanyaan dari Bunda Yulmia yaa๐๐ผ
[11/22, 8:54 PM] Septi Peni Wulandani: 2⃣ Mbak Prima, tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yg saya lakukan saat enes ara kecil ( jarak mereka 15 bln) dan saya tanpa ART
Saya komunikasikan dulu ke pak dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yg paling membuat pak dodik bahagia, silakan diurutkan.
1⃣Anak terurus dengan sangat baik
2⃣Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3⃣Rumah rapi
Ternyata pak dodik memilih urutan 1⃣3⃣2⃣ akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan unt bisa belajar setahap demi setahap dan satu persatu, sampai 3 kompetensi dasar tsb bisa saya penuhi kemampuan minimalnya.
Saya tambahkan sedikit. Tahapannya ya yg sdh pernah saya lakukan.
Pak Dodik itu tipe suami yg ingin rumahnya rapi terus.
Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman ๐ช
Beliau pilih anak diurutan pertama
Tapi setiap jam 7 malam rumah rapi ya ( krn pak dodik waktu itu pulang kantor jam 7)
Saya penuhi hal tsb selama 3 bulan pertama
Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya, sampai 3 kompetensi dasar bisa terpenuhi semua. Kalau tidak bisa semua, kembali ke yg utama dan pertama.
Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dg orang sekeliling kita, terurama yg masuk di lingkaran 1 kita. ✅
selanjutnya ke pertanyaan apakah pernah gagal?, Sering
karena dulu nggak pernah bikin jadwal harian
๐
[11/22, 9:12 PM] Septi Peni Wulandani: 3⃣ Mbak Ratna, yg perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah "kesungguhan praktek" tidak hanya "sekedar praktek".
Shg apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita. Bermain dg mereka shg bisa menambah kompetensi kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sbg ibu, maka sdh masuk hitungan jam terbang.
Karena ada ibu yg bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.
๐Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat " track" kita hari ini.
Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yg menyesuaikan mereka.
Kemudian di sela waktu longgar kita, kembqli ke jadwal yg sdh kita susun.
Itu baru namanya flexible. Seperti lingkaran karet, ketika tracknya melingkar dg diameter tertentu, bisa kita regangkan dg diameter di luar track, tetapi habis itu bisa kembali lagi ke track semula.
Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tdk serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.
Semoga analog ini dipahami
Ini yg kadang kita banyak misspersepsi,
"Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yg flexible saja"
Apa yg dimaksud dg flexible?
Biasanya banyak yg menjawab :
" santai, mengalir tanpa rencana" dan yg sejenis.
Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.
Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, terlihat bahwa kita TIDAK PUNYA TRACK YANG BENAR,
maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus kemana angin berhembus.
✅
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar