Berkelebat bayangan yang tidak menyenangkan, karena kasus terakhir yang terjadi di salah satu anak adalah terluka kakinya sampai harus dijahit 3 jahitan. Tapi coba saya tepis bayangan-bayangan itu dan menenangkan diri agar tetap waras saat menerima telpon nanti.
Saya: "Assalaamu'alaykum Bu.." (Mau langsung mencecar kenapa-kenapanya tapi ditahan dulu)
Bu Bunga: "Wa'alaykumussalaam Bun.. Saya Bunga Daycare Bu.." (Diam)
Saya: "Iya Bu Bunga. Ada apa ya Bu?" (mencoba tenang, agar beliaunya tidak ikutan panik)
Bu Bunga: "Ibu nanti kesini kan Bu?" (Nah, sepertinya si ibu bingung mo mulai dari mana)
Saya: "InsyaAllah Bu, ini baru mau dzuhur dan pumping dulu. Ada apa-apa dengan anak-anak Bu?" (tetap dengan suara tenang)
Bu Bunga: "Ehm..begini Bun. Saya mohon maaf.. (diam sejenak) Nanti Ibu kesini saja ya.." (Wah, tambah ngga karuan detak jantung ini)
Saya: "Iya, saya segera kesana setelah dzuhur ini Bu. Tapi ada apa? Kakak jatuh kah? Atau Adik?" (suara berusaha tetep clear, padahal sudah panik tingkat tinggi)
Bu Bunga: "Begini Bu.. Ehm.. (Diam, bingung cara mengungkapkan, suaranya bergetargetar ketakutan). "Maaf ya Bun.. Kakak digigit temannya.." (diam lagi)
Saya sebenarnya sudah tidak sabar dengan info yang sepotong-sepotong begini. Makan waktu terlalu lama.
Saya: "Apanya yang digigit Bu? Dan kondisi Kakak sekarang bagaimana?"
Bu Bunga: "Telinganya Bu. Ini sedang dibersihkan darahnya"
Saya: "Oke Bu. Saya segera meluncur kesana setelah dzuhur. Mohon saya diinfo kalo ada perkembangan baru. Terima kasih sebelumnya.."
Bu Bunga: "Baik Bu. Assalamu’alaykum.."
Saya: "Wa'alaykumussalaam warahmatullah.."
Segera saya shalat. Selesai salam saya tidak berdzikir untuk mempercepat waktu ke daycare. Tapi selama di perjalanan menuju daycare saya terus beristighfar dan mengucap laahaula walaa quwwata illabillaah. Saya berlari-lari kecil dan mempercepat langkah.
Mendengar suara Bu Bunga yang bergetar-getar dan ketakutan di telepon tadi, saya merasa sangat khawatir. Sobekkah telinganya? Seberapa parah? Bagaimana kondisi Kakak? Tapi kalo saya memperpanjangnya ditelpon maka menurut saya tidak efektif dari segi waktu. Mending bersegera ke daycare, melihat langsung kondisinya.
Sampai di pintu gerbang daycare tidak terdengar suara tangis Kakak. Bunda bertanya ke Bu Guru yang ada di koridor terkait keberadaan Kakak. Ditunjukkan ke tempat tidur siang anak-anak. Saya pun segera masuk, dan melihat Bu Bunga dan Bu Mawar (guru kelas Kakak, bukan nama sebenarnya) menemani Kakak yang ternyata bobo. Padahal antara waktu telepon dengan saat itu paling sekitar 10menitan saja.
"Bobo Bu?" saya membuka percakapan
"Iya, sehabis dibersihkan dan dikasih VCO.." jawab Bu Bunga. Saya pun langsung lihat kondisi telinganya. Alhamdulillaah legaaa banget. Bagi saya masih luka wajar. Sobek sebesar satu gigi di tepi daun telinga. Dengan suara Bu Bunga yang seperti tadi ditelpon, saya pikir kondisinya parah banget.
"Maaf ya Bu kalo tadi ditelpon saya ngga jelas. Saya bingung bagaimana cara ngasih taunya.. Tadi Bu Mawarnya panik banget, jadi saya juga ikutan panik.." Bu Bunga menambah penjelasannya.
"Iya Bu, tidak apa-apa. Saya tadi khawatir banget, takut gimana-gimana karena suara Bu Bunga sampai bergetar. Alhamdulillah 'ala kulli haal.. lukanya tidak seperti yang saya bayangkan. Kejadiannya memang seperti apa Bu?" tanya saya meminta penjelasan.
"Kami juga kurang tau persisnya sih Bu. Soalnya tadi Kakak ngasih tau kalo telinganya sakit pas mau mandi siang. Pas dilihat ternyata sudah belepotan darah dan sudah kering. Ditanya kenapa, katanya digigit Umar (bukan nama sebenarnya). Saya langsung panik dan minta Bu Bunga untuk menelpon Bunda." jelas Bu Mawar
"Sudah ditanyakan ke Kakak atau Umar penyebabnya Bu?" tanya saya lebih lanjut
"Sudah Bu, tapi penjelasannya ngga sama. Tapi sepertinya berebut antri main perosotan. Tadi sih Kakak berantem sama Umar dilokasi perosotan. Kakak menjewer Umar sambil nangis. Mungkin Kakak tadi membalas, gigitan Umar maksudnya. Tapi pas disitu Kakak tidak bilang apa-apa.."
"Yasudah, nanti coba saya tanyakan ke Kakak prosesnya gimana. Tapi sudah diselesaikan kan ya masalahnya berarti diantara anak-anak itu?" saya bertanya kembali
"Sudah Bu, tadi Umar sudah minta maaf dan Kakak sudah mau memaafkan.."
"Oke Bu kalo begitu.. Terima kasih sudah menelepon saya untuk memberitahukan hal ini tadi.." pungkas saya.
Singkat kata, karena sampe saya selesai pumping, Kakak tidak bangun maka saya kembali ke kantor. Niatnya mau ngasih tau Ayah sesampainya di meja kerja, tapi qadarullah ketemu dilift jadi bisa diceritakan kejadiannya.
Begitulah kejadian telepon yang bikin deg-degan. Padahal sebenarnya tidak perlu sepanik itu seandainya Bu Bunga dapat mengelola suaranya saat menelepon dan menceritakan dengan perincian yang secukupnya. Itulah menurut saya kenapa penting sekali belajar komunikasi, karena sangat berpengaruh terhadap lawan bicara kita. Jika kita bisa berkomunikasi dengan baik, insyaAllah lawan bicara kita bisa menerima informasi dengan baik pula dan menghindarkan dari kesalahpahaman. pungkas saya.
Singkat kata, karena sampe saya selesai pumping, Kakak tidak bangun maka saya kembali ke kantor. Niatnya mau ngasih tau Ayah sesampainya di meja kerja, tapi qadarullah ketemu dilift jadi bisa diceritakan kejadiannya.
Begitulah kejadian telepon yang bikin deg-degan. Padahal sebenarnya tidak perlu sepanik itu seandainya Bu Bunga dapat mengelola suaranya saat menelepon dan menceritakan dengan perincian yang secukupnya. Itulah menurut saya kenapa penting sekali belajar komunikasi, karena sangat berpengaruh terhadap lawan bicara kita. Jika kita bisa berkomunikasi dengan baik, insyaAllah lawan bicara kita bisa menerima informasi dengan baik pula dan menghindarkan dari kesalahpahaman.
![]() |
| Bentuk Telinga H+2 ^^ |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar