Rabu, 08 Februari 2017

Day 7 : Tersesat di Bandara Adi Sucipto

Sabtu kemarin, sudah habis masa kunjungan kami ke Mbah Bantul. Hanya 4 hari, tapi semoga bisa menunjukkan rasa cinta dan bakti kami ke beliaunya. Jadi kami berpamitan dan menuju bandara. Jam 4 sore kami berangkat dari rumah, sedangkan jadwal penerbangan masih jam 18.55 WIB. Kami menyengaja memberi spare waktu yang lama, agar tidak terburu-buru di perjalanan.

Sebelum keberangkatan itu, saya beberapa kali menanyakan ke Kakak, mau bareng ke Jakarta dengan kami (Ayah, Bunda, dan Adik) ataukah mau tinggal dulu di Mbah. Nanti setelah puas main di Mbah, biar bareng-bareng Mbah diantar pulang ke Jakarta. Tapi ternyata Kakak selalu mantap bilang pulang bareng Bunda. Okee..sippp.. Dalam hati Bunda girang banget karena Bunda belum pernah sekalipun berjauhan dengan Kakak. Eh pernah ding.. ninggalin 2 hari 2 malam pas lahiran Adik..

Lanjut cerita, tiba di bandara kami langsung check-in dan menuju ruang tunggu. Itu dikisaran jam setengah 6 sore. Model si Kakak dan Adik ini adalah tidak bisa duduk tenang di tempat baru yang luas kecuali ada film kartun (khusus untuk Kakak). Ternyata tayangan TV bandara bukan kartun, jadi bisa dibilang kami (Ayah-Bunda) harus siap mengekor kemanapun Kakak-Adik pergi. Belum lagi pesawat delay se-jam-an  jadi kami harus menyiapkan energi hampir 3 jam untuk hilir mudik mengawasi anak-anak. Mengingat mereka berlarian kesana kemari di tempat yang sangat ramai. Sudah bawa buku dan cemilan agar mereka ada alasan untuk diam, tapi ternyata mengeksplor tempat baru lebih menarik saat itu untuk mereka.

Kadang saya ngiri juga sama anak-anak yang bisa duduk diem saat menunggu. Bisa asyik gitu main-main aja di dekat tempat duduk orang tuanya. Dua shalihah saya ini, seperti ngga ada rasa takut. Mereka asyik aja lari kemana-mana bahkan di luar area tempat duduk kami. Tapi saya lah akhirnya yang suka ngeri sendiri dan kecapean dengan energi mereka yang ngga ada habisnya sepertinya. Tapi di lain sisi bersyukur juga bahwa mereka sehat dan aktif begitu. Mungkin juga hal tersebut didorong dengan gaya pengasuhan kami bahwa mereka boleh mencoba dan melakukan apa saja asalkan bukan yang berbahaya di rentang usianya, tidak menyalahi syariat agama, dan bukan perbuatan yang dianggap tidak sopan. Saya (karena suami sepertinya merasa oke-oke saja) harus lapang dada menerima konsekuensi dari pilihan gaya pengasuhan tersebut.. :D

Nah, setelah merasa capek muter-muter, saya ajak Adik untuk ke tempat duduk dengan iming-iming nenen. Alhamdulillaah mau, lumayan saya bisa duduk sejenak. Saya tinggalkan Kakak yang masih asyik lihat-lihat jejualan, karena Ayah mengawasi di belakangnya.

Beberapa menit kemudian, terlihat Kakak berlari ke arah Bunda dengan muka 'mau nangis tapi lega' gitu. Dia berlari cepat dan langsung menubruk Bunda. Terus tau-tau nangis bercucuran airmata sambil memeluk Bunda erat-erat. Bunda balas pelukannya dan elus punggungnya.

"Kenapa, Cinta?" sambil melihat ke matanya dengan jarak dekat.

Kakak tetep nangis dan memeluk semakin erat. Dia masukkan kepalanya semakin dalam ke pelukan.

Ayah senyum-senyum di belakang Kakak. Akhirnya Bunda nanya ke Ayah. Ayah bicara pelan-pelan menjelaskan bahwa Kakak tadi cari-cari Bunda. Ayah menyengaja sembunyi di jarak aman untuk tetap mengawasi tapi tidak terlihat oleh Kakak. Ayah mau tahu apa yang dilakukan Kakak. Kata Ayah, Kakak muter-muter jalan ke berbagai penjuru tempat duduk. Karena ruang tunggunya luas dan penuh sekali, Kakak kelihatan takut dan menahan tangis namun tetap berusaha mencari. Sekian lama tidak menemukan, Kakak mulai teriak 'Bunda..' terus cari lagi, panggil lagi sambil mencari. Sudah mau menangis tapi ditahan-tahan banget kata Ayah. Baru setelah ngga ketemu-ketemu juga, Ayah menghampiri Kakak dan menunjukkan tempat Bunda duduk.

Oalaahhhh, pantesan sedih sekali Kakak.. Bunda yang diceritain, mau ikutan nangis. Kebayang betapa khawatirnya Kakak.

Pas Kakak sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi tapi masih duduk dipangkuan Bunda, Bunda pun mencoba menggali informasi dari Kakak.

"Tadi kenapa Nak?"

"Tadi Kakak cariin Bunda.." katanya sambil memeluk Bunda kembali

"Kakak cariinnya lama?" saya pancing lagi

"Iya.. Ngga ketemu-ketemu..." jawabnya

"Kakak sedih?" lanjut saya

"..." kakak manggut-manggut saja sambil kelihatan mau nangis lagi

"Alhamdulillah ya sekarang sudah ketemu.. Tadi Bunda sudah pamit ke Kakak, tapi Kakak sedang asyik memperhatikan ukiran hewan-hewan ya tadi? Jadi tidak mendengar suara Bunda?"

Kakak diam memperhatikan, tapi tidak merespon.

"Maaf ya Kak.. InsyaAllah lain kali Bunda pamitnya lebih dekat lagi ke Kakak ya, agar Kakaknya dengar.."

Kakak anggukkan kepalanya.

"Tapi lain kali Kakak juga jangan berlari sendirian jauh-jauh dari Ayah dan Bunda ya. Khawatir tersesat seperti tadi. Alhamdulillah tadi ada Ayah yang mengawasi. Kalo tidak, Ayah dan Bunda pasti sedih banget cariin Kakak.."

Kakak mengangguk-angguk memperhatikan. Bunda kemudian memeluk kakak lagi.

Semoga Kakak mendapatkan pelajaran untuk kejadian hari ini agar kedepannya lebih berhati-hati dan tidak asal berlari tanpa memperhatikan kami mengikutinya atau tidak. Aamiin..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar