Rabu, 20 September 2017

Day 7: Cedas Finansial

[MENGENAL PROFESI SEBAGAI SALAH SATU JALAN MENDAPAT REZEKI]

Rezeki kita memang sudah djamin oleh Allah, namun ikhtiar mencari rezeki itu harus tetap kita lakukan. Walaupun bisa jadi rezeki kita tidak datang dari ikhtiar itu, namun dari jalan lain yang tidak kita duga. Tetapi bekerja/berkarya/menebar manfaat itu adalah jalan hidup para nabi/rosul dan orang-orang shalih.

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Orang yang duduk-duduk tersebut pernah berkata, ”Aku tidak mengerjakan apa-apa. Rizkiku pasti  akan datang sendiri.” Imam Ahmad lantas mengatakan, ”Orang ini sungguh bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku. [HR. Ahmad, dari Ibnu ‘Umar. Sanad hadits ini shahih sebagaimana disebutkan Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, no. 1581. Dalam Shahih Al Jaami’ no. 2831, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”. [HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310 mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam Shohih Al Musnad no. 994 mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Sebagian orang seringkali salah kaprah dalam memahami tawakkal. Dikiranya tawakkal hanyalah sikap pasrah, tanpa ada usaha dan kerja sama sekali. Ini sungguh keliru. Tawakkal yang benar haruslah tercakup dua hal yaitu [1] penyandaran diri pada Allah dan [2] melakukan usaha. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Usaha dengan anggota badan dalam melakukan sebab adalah suatu bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan bersandarnya hati pada Allah adalah termasuk keimanan.” 
Di antara bukti bahwa tawakkal yang benar haruslah disertai dengan melakukan usaha adalah keadaan burung yang dijelaskan dalam hadits yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa burung tersebut bisa pulang dalam keadaan mendapatkan rizki dikarenakan ia juga melakukan usaha keluar di pagi harinya, disertai hatinya bersandar pada Allah. 
Al Munawi mengatakan, ”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan usaha. Tawakkal haruslah dengan melakukan berbagai usaha yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha. Sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki.


Sumber : https://rumaysho.com/689-burung-saja-bekerja-untuk-meraih-rizki.html


Sehubungan dengan hal tersebut maka (bahasa surat dinas banget..^^) saya menyelipkan materi tentang bekerja dan pekerjaan/profesi kepada anak-anak pada usia-usia sekarang.

Yang diperkenalkan adalah kehalalan profesi dari sudut pandang umum. Misal profesi sebagai guru, pedagang, penjahit, petani, nelayan, pegawai, dokter, tukang kebun, pembantu (dicari yang anak-anak pernah bersinggungan langsung) itu adalah profesi halal. Uang yang dihasilkan insyaAllah halal asalkan dia dalam bekerja tidak melakukan kecurangan/penipuan/bohong.

Nah kemudian diperkenalkan juga profesi yang haram dari sudut pandang agama Islam. Untuk saat ini saya rasa baru satu profesi yang saya bisa menjelaskan dengan mudah. Apalagi anak-anak saya perempuan yaitu profesi sebagai artis/model atau apalah itu namanya.

Kalo lihat iklan perempuan yang syuantiikkk dengan baju yang aduhai dimana anak-anak pun melongo, tinggal bilang, 'Profesi sebagai artis seperti itu dilarang Kak sama Allah. Uang yang dihasilkan pun jadi haram."

"Kenapa Bunda?"

"Karena muslimah seperti Bunda, Kakak, Adek ini serta muslimah-muslimah yang lain punya kewajiban untuk menutup aurat. Harus berjilbab sesuai syariat dan dilarang memamerkan kecantikan diri di muka umum. InsyaAllah kalau kita menutup rapat-rapat aurat kita di dunia, nanti di surga Allah kasih untuk kita pakaian yang indah-indah, perhiasan yang indah-indah, kita dijadikan super cantik jauh melebihi kecantikan wanita-wanita yang pamer kecantikan di dunia."

Maka kalau Kakak lihat wanita yang tidak pakai jilbab dan baju kemana-mana pasti langsung bilang, 'Ngga shalihah ya Bunda..'

Untuk saat ini saya iyakan saja sambil bilang ke Kakak agar tetap berkhusnudzon mungkin tante tersebut belum ngaji, jadi belum tau. Kita do'akan semoga Allah memberi hidayah kepada tante tersebut agar dapat menjaga auratnya di kelak kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar