Jumat, 22 September 2017

Day 9: Cerdas Finansial

[MEMBELANJAKAN REZEKI DARI ALLAH: BOROS VS PELIT?]

Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan:67)

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS al-Israa’:29


Imam asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Arti ayat ini: larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah”

Sumber: https://muslim.or.id/3952-mengatur-dan-membelanjakan-harta.html



Sedangkan terkait dengan pemborosan, dapat dijelaskan secara lebih mendalam melalui ayat ini:

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27)

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.”

Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Seandainya seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).”

Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474-475)

Sumber : https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html


Belajar hal-hal seperti ini, menurut saya akan sangat subyektif untuk setiap keluarga bahkan untuk setiap orang. Hal ini akan berubah terus sesuai dengan kadar keimanan dan keilmuan dari orang yang bersangkutan. Tetapi setidaknya mengenalkan dalilnya kepada anak-anak dan mengajarkan yang kami anggap bisa mewakili sikap moderat terhadap harta ini dalam keluarga kami, saya anggap perlu. Meskipun sebenarnya kami sendiri masih terus mencari dimana titik keseimbangan dalam membelanjakan harta kami.

Untuk saat ini, praktik pengenalan terkait boros/pelit yang kami ajarkan ke anak-anak mencakup:

(1) Tidak Boros

  • Tidak menggunakan air secara berlebihan, secukupnya saja.
  • Tidak mudah meminta ganti-ganti baju setiap sedikit kotor/basah sedikit.
  • Tidak membuang-buang makanan dengan mengambil sedikit dulu saja. Jika tetap tidak mampu menghabiskan maka minta tolong ke Ayah/Bunda untuk menghabiskan. Jika AyBun pun tidak mampu, maka bisa diberikan ke binatang. Jika tidak bisa, beristighfar kepada Allah.
  • Tidak membeli makanan/jajanan yang tidak sehat.
  • Tidak membeli mainan yang tidak bermanfaat.
  • Tidak bermewah-mewahan dalam berpakaian.
  • Menjaga barang-barang yang sudah dimiliki dengan baik.
(2) Tidak Pelit

  • Mau berbagi mainan dengan Saudara dan teman.
  • Berbagi makanan dengan tetangga.
  • Membawakan buah tangan ketika berkunjung ke rumah kerabat/sahabat.
  • Memberi kado kepada teman.
  • Menginfakkan sebagian rezeki.
  • Menebar salam, senyum, dan berwajah ceria.
Tapi tentu saja kami terkadang masih terpeleset dalam kekhilafan.. Atau malah sering? Duhhh.. Semoga ke depannya bisa terus memperbaiki diri.. Aamiin..Aamiin..Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar