Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” [HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946)]
Hadist di atas menurut saya telah dapat menjelaskan betapa pentingnya ilmu tentang finansial. Bahwa tidak sebagaimana nikmat Allah yang lain yang hanya dihisab terkait 'output'nya, maka untuk masalah finansial ini dihisab melalui dua pintu sekaligus yaitu pintu masuk dan juga pintu keluarnya. Bagaimana memperolehnya dan bagaimana membelanjakannya. Dan jawaban dari pertanyaan 'bagaimana' itu tadilah yang akan menjadi salah satu parameter bergesernya kaki kita di akhirat, mendekat ke surga atau justru ke neraka?
Ingat kisah Fir'aun, Namrud, Qarun? Orang-orang yang karena harta/kekayaan/kekuasaan yang dimilikinya menjadi sombong dan enggan mengesakan dan menyembah tuhannya. Lalu lihat betapa karena pemahaman yang tidak benar tentang rezeki/harta, orang-orang begitu banyak melakukan kemaksiatan/kedzaliman: menyogok agar bisa mendapatkan jabatan/proyek, korupsi, berbuat curang dalam timbangan, mencuri, merampok, jual/beli yang diharamkan dan seterusnya. Padahal jika satu kata kunci bahwa Allah telah 'membagi jatah' rezeki setiap orang/makhluk, pun bahkan sejak kita belum lahir, maka kita tidak akan serampangan dalam hal memperoleh rezeki ini. Rezeki kita ya akan tetap segitu saja, namun hal yang lebih besar yang harus diperhatikan adalah terkait 'cara'. Sebagaimana yang tersebut dalam hadist:
“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).
---
Alhamdulillah, level 8 Bunda Sayang ini temanya sangat dekat dengan keseharian sehingga banyak hal yang bisa dituangkan. Tidak perlu mencari-cari lagi. Pengayaan tentu tetap dibutuhkan nanti sesuai perkembangan usia anak.
Kemudian di level 8 ini saya baru menemukan kunci utk berhasil posting tanpa rapel, yaitu ambil start nya pas hari pertama. Jangan pernah menunda dengan alasan ah masih 17 hari lagi nanti saja pas hari ke-5 dst. Karena kita tdk pernah tau akan ada halangan apa nanti di hari-hari tsb. InsyaAllah saat mulai startnya di hari 1, maka setidaknya badge normal pengumpulan tugas dapat kita kantongi dengan lancar jaya. Kita tidak perlu stres harus merapel, justru kita berkesempatan untuk longkap hari apabila memang ada hal2 diluar kendali kita.
Semoga istiqomah dan dapat mencapai syarat kelulusan Bunda Sayang. Agar dapat kesempatan menimba ilmu dan mempratikkan kelas selanjutnya yaitu Bunda Cekatan. Aamiin..
Sumber:
Hadist diambil dari muslim.or.id
inspiring
BalasHapusماشاءالله.بارك الله فيك
BalasHapus