Minggu, 21 Januari 2018

Day 8: Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Kelompok 8:
1. Nyai Mubinah
2. Elvira Chaerunnisa
3. Widya Dista (Cuti)

Pemaparannya kurang lebih sama dgn beberpa kel. Sebelumnya, ada tambahan solusi dan tips.

 Di masa ini, orang tua dituntut utk lebih aware dlm menumbuhkan fitrah seksualitas. Maraknya penyimpangan2 yg kini sudah tidak malu malu lagi dalam menyatakan eksistensinya. Bahkan jumlah mereka tidak sedikit.



Kita juga sering mendengar kekerasan seksual terhadap anak, pelecehan seksual terhadap anak yang di lakukan orang lain bahkan oleh kerabat terdekatnya sendiri.

Terjadinya kekerasan seksual pada anak tidak bisa di lepas dari peran orang tua. Pola pengasuhan orang tua menjadi faktor yang penting dalam mencegah anak menjadi korban ataupun pelaku kekerasan seksual maupun penyimpangan seksual.

Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing, tugas orang tua adalah membangkitkan fitrah seksualitas yang di miliki anak.  Fitrah seksualitas manusia sudah jelas sejak lahir yaitu laki laki sejati atau perempuan sejati, yang kelak akan menjadi ayah sejati atau ibu sejati.

Fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan sex. Sederhananya, Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati. Proses pembentukkannya sangat tergantung pada kehadiran dan kedekatan anak dengan orang tuanya. Fitrah seksualitas ini terbawa sejak lahir dan terus berkembang sampai usia aqil baligh dan mencapai golden age nya pada usia 10-14 thn.

Seberapa penting membangkitkan fitrah seksualitas yaitu sangatlah penting.
Membangkitkan fitrah seksualitas bertujuan untuk :
1. Agar anak mengerti ttg identitas seksualnya
- anak bisa memahami dia laki2 atau perempuan
- harus bisa memastikan identitas seksual sejak usia 3 tahun
- orangtua mengenalkan dgn bahasa ilmiah organ sex tsb

2. Agar anak bisa mengenali peran seksual yang ada pada dirinya, dimana anak mampu menempatkan diri sesuai peran seksualnya, seperti cara berbicara, berpakaian, bertindak, merasa, dan berpikir, sehingga bisa dgn tegas mengatakan saya laki2 atau saya perempuan.

3. Untuk mengajarkan anak melindungi dirinya dari kejahatan seksual, dengan mengenalkan area2 pribadi, sehingga anak bisa aware apabila ada pihak yg akan melakukan kejahatan seksual kepadanya.

Tantangan yg dihadapi adalah bagaimana tujuan tersebut diatas dpt tercapai.

Solusi :
Anak mengerti tentang identitas dirinya
Peran orang tua, baik ayah maupun ibu sangatlah penting. Tahapan2 dlm membangkitkan fitrah seksual yg harus diterapkan orang tua kpd anak :

Usia 0-2 thn dekat dgn ibu karena proses menyusui, fokus menyusui sehingga tercapai bonding yg kuat antara ibu dan anak.

Usia 3-6 thn dekat dgn ayah dan ibu agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional.     Kedekatan kedua orang tua membuat anak mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Usia 7-10 thn dekatkan anak sesuai gender (anak perempuan dekat dengan ibu, anak laki2 dekat dengan ayah). karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.  Jika anak laki-laki dekatkan dengan ayahnya ajak anak beraktifitas yang menonjolkan sisi kemaskulinannya. Seperti main bola, nyuci motor, sholat ke masjid bersama ayah.  Anak perempuan dekatkan dengan ibunya, libatkan anak dalam aktifitas yang menonjolkan kefeminimannya. Seperti mulai di ajarkan menutup aurat seperti pakai jilbab, membantu ibu memasak, belajar sholat bersama ibu di rumah, dll.
Pada usia ini kenalkan mana yang mahram dan bukan mahram, anak laki-laki dan perempuan di pisahkan tempat tidurnya, pengenalan organ seks secara detail, mempersiapkan masa pubertas, mempersiapkan proses terjadinya mimpi basah dan menstruasi.

Usia 11-14 thn anak pre aqil balig, lintas gender (anak perempuan dekat dgn ayah, anak laki2 dekat dgn ibu). Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis,  maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki dewasa atau suami yang kasar, egois, tidak peka thd pasangan dsb.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar mudah tergoda pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang.
>15 usia anak aqil balik, sudah tuntas

Anak bisa mengenali peran seksual yg ada pada dirinya.  Jika tahapan2 yang telah disebutkan diatas dilalui dengan baik. Maka anak akan bisa mengenali peran seksualitasnya. Sejak usia batita sudah diajarkan nama2 bagian tubuh, diajarkan tentang hanya ada 2 jenis kelamin yaitu perempuan dan laki laki. Diajarkan perbedaan anak perempuan dan laki laki. Sehingga mampu dgn tegas menyatakan “saya perempuan” bagi anak perempuan, begitu pula srbaliknya. Hingga tahapan pre aqil baligh dilalui dengan sempurna akan lahir generasi lelaki sejati dan perempuan sejati dan berlanjut menjadi ayah sejati dan ibu sejati yg sangat dibutuhkan dlm membangun keluarga kelak.

Mengajarkan anak melindungi dirinya dr kejahatan seksual.

Kenapa anak rentan menjadi korban kejahatan seksual?

1. Anak sangat mudah terpengaruh oleh iming2 pelaku terutama yg memiliki hububgan lingkungan keluarga dan pendidikan.
2. Anak tdk bisa mengekspresikan secara verbal apa yg dialaminya.
3. Anak menggantungkan hidupnya kod pelaku
4. Korban takut utk melaporkan pelaku

Pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak akan berdampak bagi masa depannya, misalnya :
1. Anak rentan utk mengalami perubahan karakter
2. Anak menyukai perbuatan seksual bahkan rentan menjadi pelaku di masa depan

Dampingi selalu setiap perkembangan anak, slalu memonitor segala aktivitas anak, dengan siapa anak2 berteman.  Karna peluang penyimpangan bisa terjadi dimana saja. Ada kalanya lingkungan keluarga baik tetapi lingkungan pergaulan kurang baik sehingga anak terbawa oleh pergaulan yg tdk baik. Bentengi anak dengan ilmu agama dan doa orang tua kpd anak.

Tanamkan kpd anak bahwa tubuh mereka berharga dpt membantu agar terhindar dr kejahatan seksual.

https://youtu.be/vv1Jm42uj-M adalah video edukasi anak untuk mengetahui anggota tubuh mana yang boleh di sentuh dan tidak boleh di sentuh oleh orang lain.

Ajarkan anak untuk melindungi diri dari kejahatan seksual :
1. Jangan berinteraksi dengan orang asing
2. Minta ijin jika ingin pergi kemana pun dan dengan siapa pun
3. Tidak boleh ada yg melihat/menyentuh bagian tubuh pribadi
4. Ajarkan cara menolak jika ia merasa tidak nyaman
5. Titipkan anak pada orang yg dipercaya
6. Ajarkan utk melapor kpd orangtua jika ada yg menyentuh bagian pribadi mereka
7. Berteriak atau kabur jika merasa terancam oleh org asing
8. Berteriak “TOLONG” bukan “mama” lebih bisa menarik perhatian lingkungan.
Sampaikan berulang ulang kepada anak.

Tips menghindari penculikan
1. Tunjukan lokasi yang berbahaya kepada anak dan beritahu anak untuk menghindari tempat tsb (area yg sepi)
2. Minta anak untuk mengingat nomor telepon orang tua.
3. Kenali semua orang2 disekitar anak dan tempat favorit mereka.

Video kisah si aksa dan kisah si geni bisa sbg salah satu media edukasi utk anak.

Karena kita sendiri tidak mengetahui lingkungan anak-anak bermain aman atau tidak, setidaknya solusi yang bisa dilakukan kita sebagai orangtua adalah:
Kita harus waspada dengan mengetahui siapa teman main anak, juga jika body language anak berubah.

Daripada main di luar tdk jelas dengan siapa lebih baik mengundang teman anak main di rumah, walau rumah berantakan tidak jadi masalah.

mendampingi anak untuk menonton, main game bareng sehingga anak terbuka pada orangtua dan kalau ada apa-apa bisa diketahui dengan cepat.

Dekat pada anak sehingga bisa memberi pengertian yang benar.

Dan pastinya berdoa kuat-kuat tiap saat karena Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.

Poin diskusi yang berkesan:
Ajarkan anak tentang auratnya sejak dini. Tidak membiarkan anak hanya memakai singlet dan celana dalam atau bahkan dalam keadaan telanjang berjalan-jalan di luar rumah walaupun masih balita. Jangan bermudah2 mengshare foto anak2 di medsos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar