Kamis, 31 Januari 2013

Lisan dan Iman Itu Bersaudara


Sudah sangat dimafhumi bahwa hati itu adalah sumber dan muara dari segala amal yang kita lakukan. Dia adalah jenderal yang bertugas mengatur setiap anggota tubuh kita. Dia juga menjadi cermin yang paling lugas menggambarkan diri kita yang sebenarnya. Jika hati kita baik maka dengan izin Allah segala akhlaq dan perilaku kita akan baik. Begitu pula sebaliknya, segala hal-hal yang tidak baik yang ada pada diri kita maka akan bisa dijadikan parameter bagaimana kondisi hati kita. Baik atau buruk. Iman atau kafir. Berjelaga atau bercahaya.

Dan salah satu indra kita yang sangat dekat dengan hati adalah lisan. Kita bisa mengukur apa yang ada di dalam otak dan hati seseorang melalui ucapan-ucapan yang keluar dari lisannya. Begitu juga kita, akan dapat dinilai dari apa-apa yang keluar dari lisan kita. Tetapi tentu saja, kita tidak bisa menyimpulkan dan menjudge seseorang hanya dari perkenalan yang singkat. Karena lidah yang tidak bertulang bisa mencitrakan seorang bejat seolah-olah Ustadz. Namun, yang namanya barang palsu itu tidak akan bertahan lama. Dari seringnya kita melakukan komunikasi, kita akan bisa memetakan seperti apa pribadinya yang sebenarnya.
Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, ‘Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya’.
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala:
“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan berbicara. Tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.
Banyak sekali hadist yang menyinggung terkait dengan bahaya lisan. Karena jika si kecil ini ber-ulah, maka kecelakaan besarlah yang akan menimpa si empunya. Baik di dunia maupun di akhirat. Sebutlah serentetan perilaku dari lisan yang tidak baik ini seperti berkata dusta, memfitnah, menggunjing, mengadu domba, saksi palsu, menghina, menyebar aib, mengungkit-ungkit pemberian dan seterusnya. Yang beberapa diantaranya diancam dengan siksaan yang pedih di neraka.
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”
Ada pula hadist lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi pada saat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan dari Mu’adz. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya?”
Saking mudahnya lisan kita terpeleset dalam perkataan yang menyebabkan dosa baik yang tidak kita sengaja dan lebih-lebih lagi yang kita sengaja, maka Allah menggaransi surga bagi orang-orang yang mampu menjaga dan mengendalikan lisannya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua bibirnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”
Surga itu sangat mahal dan tidak mudah digapai. Amal-amal yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dapat memasukkan manusia ke dalam surga pastilah juga amalan-amalan yang tidak mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan yang terus-menerus. Butuh latihan yang berkepanjangan. Dan butuh usaha yang maksimal. Dan keberuntungan besarlah bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk dapat melakukannya.
Maka nasehat bagi diri saya: berusahalah dengan sungguh-sungguh menjaga lisan agar bisa menjaga iman. Karena apa yang terucap dari lisan itu dapat mempengaruhi iman, sekaligus juga menjadi cermin dari iman itu sendiri. Hati dan kualitas iman yang baik akan membuahkan lisan yang baik. Dan usaha kita untuk selalu berkata yang baik-baik pun akan berdampak pada terbentuknya hati dan iman yang semakin baik.
Bismillah bi idznillah.

Hadist dan takhrij banyak diambil dari http://almanhaj.or.id/content/3197/slash/0/menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar