Sudah
sangat dimafhumi bahwa hati itu adalah sumber dan muara dari segala amal yang
kita lakukan. Dia adalah jenderal yang bertugas mengatur setiap anggota tubuh
kita. Dia juga menjadi cermin yang paling lugas menggambarkan diri kita yang
sebenarnya. Jika hati kita baik maka dengan izin Allah segala akhlaq dan
perilaku kita akan baik. Begitu pula sebaliknya, segala hal-hal yang tidak baik
yang ada pada diri kita maka akan bisa dijadikan parameter bagaimana kondisi
hati kita. Baik atau buruk. Iman atau kafir. Berjelaga atau bercahaya.
Dan
salah satu indra kita yang sangat dekat dengan hati adalah lisan. Kita bisa
mengukur apa yang ada di dalam otak dan hati seseorang melalui ucapan-ucapan
yang keluar dari lisannya. Begitu juga kita, akan dapat dinilai dari apa-apa
yang keluar dari lisan kita. Tetapi tentu saja, kita tidak bisa menyimpulkan
dan menjudge seseorang hanya dari perkenalan yang singkat. Karena lidah yang
tidak bertulang bisa mencitrakan seorang bejat seolah-olah Ustadz. Namun, yang
namanya barang palsu itu tidak akan bertahan lama. Dari seringnya kita
melakukan komunikasi, kita akan bisa memetakan seperti apa pribadinya yang
sebenarnya.
Yahya
bin Abi Katsir pernah berkata, ‘Seseorang
yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang
yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya’.
Imam
Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa
Nazhah Al-Fudhala:
“Lisan seorang yang berakal
berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan
bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat
bagi dirinya, maka dia akan berbicara. Tetapi apabila tidak bermanfaat, maka
dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali
lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya.
Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap
agamanya”.
Banyak
sekali hadist yang menyinggung terkait dengan bahaya lisan. Karena jika si kecil
ini ber-ulah, maka kecelakaan besarlah yang akan menimpa si empunya. Baik di
dunia maupun di akhirat. Sebutlah serentetan perilaku dari lisan yang tidak
baik ini seperti berkata dusta, memfitnah, menggunjing, mengadu domba, saksi
palsu, menghina, menyebar aib, mengungkit-ungkit pemberian dan seterusnya. Yang
beberapa diantaranya diancam dengan siksaan yang pedih di neraka.
Al-Bukhari
meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam
kitab Shahihnya no. 2988 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
“Sesungguhnya seorang hamba
yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya
akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak
timur dengan barat”
Ada
pula hadist lain yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi pada saat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menjawab
pertanyaan dari Mu’adz. Rasulullah shalallahu
‘alayhi wa sallam bersabda, “Bukankah
tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya?”
Saking
mudahnya lisan kita terpeleset dalam perkataan yang menyebabkan dosa baik yang
tidak kita sengaja dan lebih-lebih lagi yang kita sengaja, maka Allah menggaransi
surga bagi orang-orang yang mampu menjaga dan mengendalikan lisannya.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam
bersabda,
“Barangsiapa bisa memberikan
jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua bibirnya dan dua
kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”
Surga
itu sangat mahal dan tidak mudah digapai. Amal-amal yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dapat
memasukkan manusia ke dalam surga pastilah juga amalan-amalan yang tidak mudah
untuk dilakukan. Butuh perjuangan yang terus-menerus. Butuh latihan yang
berkepanjangan. Dan butuh usaha yang maksimal. Dan keberuntungan besarlah bagi
orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk dapat melakukannya.
Maka
nasehat bagi diri saya: berusahalah dengan sungguh-sungguh menjaga lisan agar bisa
menjaga iman. Karena apa yang terucap dari lisan itu dapat mempengaruhi iman, sekaligus
juga menjadi cermin dari iman itu sendiri. Hati dan kualitas iman yang baik akan
membuahkan lisan yang baik. Dan usaha kita untuk selalu berkata yang baik-baik
pun akan berdampak pada terbentuknya hati dan iman yang semakin baik.
Bismillah
bi idznillah.
Hadist dan takhrij banyak diambil dari http://almanhaj.or.id/content/3197/slash/0/menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar