Senin, 30 Januari 2012

Keluhan Si Wanita Tukang Keluh

Saya hanya ingin menangis kali ini. Sekali lagi. Yang entah tangisan ke berapa. Dan entah kapan akan berakhirnya. Tangisan atas nama kekecewaan yang seharusnya tak ada dalam kamus manusia yang mukhlisin, yang menyerahkan semua urusannya hanya kepada-Nya. Tapi bukankah wanita ini baru belajar untuk menggapainya? Tertatih, berjalan pelan, meraup ilmu, dan mencoba membingkainya dalam laku akhlak yang bersumber pada aturan-Nya berbekal ittiba’ pada Rasul-Nya, Sang Pemilik kesempurnaan akhlaq yang mulia.

Bagaimana Bila Saya Mati Dalam…

Jumat kemarin, teman-teman seruangan saya mengadakan acara perpisahan bagi salah seorang pegawai yang purnabakti setelah mengabdi kepada Negara selama 34 tahun lamanya. Acara sengaja tidak diadakan di kantor agar terkesan lebih ‘pribadi’ dan tidak terjebak dalam keadaan formal. Maka pada akhirnya diputuskanlah untuk meminjam apartemen Bu Bos yang letaknya di belakang kantor sebagai tempat acara, agar jika sewaktu-waktu ada panggilan mendadak dan pekerjaan yang segera kami bisa langsung kembali ke kantor secepatnya.

Acara dipersiapkan secara sederhana, namun meriah. Ada acara lomba karaokenya untuk menambah kedekatan antar pegawai. Disiapkan juga doorprize-doorprize kecil-kecilan untuk menambah semaraknya acara. Sebelum berangkat perasaan saya sudah sangat tidak enak. Tapi saya tidak mungkin tidak ikut, karena bagaimanapun semua orang turut serta sebagai bentuk penghormatan kepada si Ibu yang telah menyelesaikan masa baktinya. Apalagi saya termasuk orang yang cukup dekat dengan Ibu yang purnabakti ini. Jadi berangkatlah saya bersama yang lain, dengan komitmen sedari awal saya tidak mau ikut karaokeannya. Cukuplah suara saya, didengar oleh cicak dan semut yang ada di dalam kamar kos saya hehe..

MENIMBANG AMAL



Apakah anda saat ini sedang mengerjakan hal-hal besar? Jika iya, maka selamat untuk Anda, karena para pahlawan memang dilahirkan untuk memikul amanah-amanah besar yang tidak bisa dipikul oleh sembarang orang. Namun tunggu dulu, label ‘hal besar’ itu dipandang dari perspektif Anda sendiri, orang-orang umum di sekitar Anda, atau dari kaca mata siapa?

DEKLARASI AIR AKAN TUHAN



Apakah anda pernah berfikir, bahwa Alloh telah menciptakan dunia ini sungguh dengan tidak main-main? Benar-benar tidak main-main!!! Dengan perhitungan yang sangat teliti. Dengan sistem maha kompleks dan maha dahsyat yang berjalan dengan kehendak-Nya tanpa perlu sedikitpun campur tangan manusia dan bahkan bisa jadi manusia itu tak menyadari karena menganggapnya hanya sebagai suatu yang biasa.

KAMU DAN AKU

Duniamu hitam dan putih
Duniaku berpelangi warna

Pikiranmu terkotak-kotak sempit
Pikiranku seluas bentangan cakrawala

Kamu antipati memajang foto diri
Aku bisa memajang berbagai poseku sesuka hati

Jumat, 27 Januari 2012

Bait ad-Da’wah, Sebuah Mimpi tentang Masa Depan

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Curcol Yaa.. ^^

Huaaa,,, hari ini sedang sangat tidak jelas Sist! Jadi binun mau nulis apaan. Otaknya lagi mampet. Setak. Setelah berkelindan dengan dunia keabu-abuan akhir taun anggaran, sepertinya butuh sedikit istirahat. Sehari saja. Namun apa daya,, tahun baru masi setengah purnama lagi.. Jadi ya biarkan saja saya menceracau sedikit di sini untuk melepas gumpalan-gumpalan emosi yang menggelayut di langit hati ;p

Setelah berhari-hari disibukkan dengan dinas liar, akhirnya terantuk di depan komputer mengurus segala tetek bengek tentang pertanggungjawaban keuangan. Jam kerja yang selalu panjang di hari-hari terakhir menjelang tutup tahun karena hampir selalu pulang menjelang pukul 10 malam. Dan PR-nya adalah: kenapa selalu seperti ini setiap tahun? Hal yang berulang itu bukannya harus bisa disikapi dari awal? Tapi embuhlah, semuanya nampak ngga begitu penting lagi. Saat tumpukan berkas sudah menutup meja kerja dengan sempurna. Yang ada dalam pikiran cuma cepat selesaikan, dan segera pulang. Enough!

ANAK-ANAK DUNIA

Seorang perawat lansia kalang kabut dengan ulah pasiennya beberapa hari ini. Seorang Ibu berumur 67 tahun yang menderita pengapuran tulang yang mengakibatkan ruang geraknya terbatas dan harus selalu ditemani untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Apa pasal? Tiga hari terakhir, Ibu yang biasanya penurut ini tiba-tiba saja ‘membandel’ seperti anak kecil. Mogok makan. Mogok minum obat. Menampik suntikan rutinnya.

Hari pertama si perawat masih menganggap hal itu wajar sebagai ekspresi ‘kebosanan’ terhadap rutinitas hidup yang harus dijalani ibu ini di masa senjanya. Motivasi-motivasi senantiasa diucapkan si perawat agar ibu ini mau bangkit kembali. Entah motivasi itu benar-benar tulus dari hatinya untuk kebaikan si Ibu, atau hanya sekadar untuk kepentingan dirinya. Karena bagaimanapun juga dia butuh pekerjaan dengan gaji besar ini agar tetap bisa menghidupi anak-anaknya. Kalau Ibu ini ‘mempercepat’ kematiannya dengan ulah konyolnya, maka itu berarti kiamat akan segera menyapa keluarga si perawat.

Budak-Budak Persepsi Kecantikan

Cantik. Siapa sih wanita yang tidak tergila-gila dengan satu kata itu? Tentu saja ‘normalnya’ sih tidak ada, karena secara fitrah dan insting alaminya, wanita telah diciptakan sebagai makhluk yang senang berhias dan cinta keindahan. Makanya tak heran jika para pebisnis kemudian berlomba-lomba untuk memproduksi segala tetek bengek untuk kecantikan wanita karena pangsa pasarnya sungguh luar biasa dan keuntungan yang dihasilkanpun sangat menggiurkan. Bagaimana tidak?! Karena walaupun wanita pada umumnya cukup ‘pelit’ dalam membelanjakan uangnya, namun mereka jadi bisa begitu royalnya untuk kebutuhan mempercantik dirinya.


Kesempurnaan Cinta Seorang Wanita (Bagian 2)

Hari Ahad pagi. Lelaki itu sendirian di rumahnya. Istrinya tadi ijin untuk mengisi ta’lim rutin pekanan. Ia pergi dengan membawa kedua putra angkat mereka. Lelaki itu tadi sudah menawarkan untuk mengantarkannya seperti biasa. Tapi istrinya menolak karena mungkin agendanya kali ini cukup lama. Apalagi lelaki itu harus mengisi ta’lim pukul 10 pagi ini, jadi wanita itu tidak mau jika suaminya sampai terlambat datang nanti.

Lelaki itu baru saja selesai dhuha dan memurajaah hafalannya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia pergi ke ta’lim yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tiba-tiba lintasan mimpinya semalam berkelebat di ruang pikirnya. Ah, kenapa tiba-tiba ia memimpikan perempuan itu lagi? Dan petikan memori tentang sebuah mozaik kelabu dalam perjalanan hidupnya pun membuka dengan terang pagi itu. Dan tanpa sadar ia mulai menapaktilas atsar-atsarnya yang digoreskan sang waktu dalam episode bernama masa lalu.

Tsabita..

Kesempurnaan Seorang Wanita (Bagian ke-1)

Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih menggelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.

“Tsabita.. Tsabita..”

Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya, dia amati wajah teduh pemilik suara. Perempuan itu tidak bermimpi. Dia dalam keterjagaan yang sempurna.

“Tsabita…” Nama itu kembali terucap dari lelaki di sampingnya. Begitu lirih. Begitu dalam. Begitu.., ah tak mampu ia menggambarkannya.

Menyamuderakan Cinta Sang Pecinta

Malam semakin larut, angin berbisik sayup-sayup terdengar di balik jendela yang sedikit terbuka. Menyelisik hati bersama hawa dingin yang diam-diam mengalir masuk. Dinginnya mampu menggigilkan tubuh perempuan yang mengintip rembulan dari sebalik gorden kamarnya. Ah, rembulan perak pun enggan memurnama. Padahal tinggal seselaput tipis untuk menjadikannya bulat seutuhnya. Laksana dekatnya bilangan hari yang akan menyampaikannya pada purnama agamanya.

Andaikan waktu itu benar-benar bisa dihentikan, ia berharap waktu itu terhenti saat sunyi ini. Menyendiri dalam ruang hampa waktu. Sejenak meninggalkan segala gundah galau yang selama ini membuat hatinya menceracau. Atau jika tidak, tak bisakah hari-hari itu mengurai dalam bilangan detik yang lebih panjang? Agar ia punya kesempatan bernafas lebih lepas. Membuang segala sesak yang telah lama menyeruak.