Selasa, 28 Februari 2012

Kepekaan Hati di Era Modernisasi

Di sebuah antrian panjang menunggu pemeriksaan untuk melengkapi berkas pengangkatan sebagai abdi negara di suatu Puskesmas di ibu kota, seorang wanita muda nampak tertarik memperhatikan seorang nenek-nenek yang sudah sangat sepuh yang terlihat kebingungan di tengah riuhnya manusia. Dengan langkah yang pelan tertatih dan kebongkokan dimakan usia, nenek itu nampak bertanya kepada beberapa pengantri yang ada di situ. Jarak wanita muda dan manula itu cukup jauh sehingga ia tidak mengerti dengan benar apa sedang terjadi. Namun dari raut wajah nenek tersebut wanita itu bisa mengira-ngira sepetak peristiwa yang mungkin tergambar di sana.

Jumat, 17 Februari 2012

Jika Ujian Dakwah Itu Melanda

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut : 2 - 3)

Mungkin selama ini, kita yang turut serta berada dalam gerbong dakwah aktif telah merasakan ‘ujian-ujian’ dalam dakwah. Entah itu wujudnya berupa sedikitnya tidur, badan yang pegal-pegal, tulang yang linu-linu kepayahan, akibat dari banyaknya aktivitas dan amanah yang kita pikul di pundak-pundak kita setiap harinya.

Kamis, 09 Februari 2012

Dimanakah Saya Bisa Membeli Komitmen?



Komitmen, adalah satu hal yang mutlak diperlukan dalam hal apapun. Komitmen terhadap organisasi, terhadap pasangan, terhadap keluarga, terhadap agama, juga komitmen terhadap diri kita sendiri tentunya. Karena tanpa komitmen, kita tidak akan mampu melewati rintangan-rintangan yang berserakan di jalan menuju cita-cita besar kita. Tanpa komitmen, maka kita hanya akan menjadi para penghayal dan bukan menjadi para pemimpi. Walaupun secara istilah keduanya tidaklah berbeda jauh, tapi dalam konteks aplikasi maka bagaikan bumi dengan langit. Penghayal dan pemimpi adalah orang yang sama-sama membangun cita-cita besar tentang suatu hal di masa yang akan datang. Namun bedanya, kebesaran cita-cita seorang penghayal hanya tergambar dalam batok kepalanya saja sedangkan seorang pemimpi cita-cita besarnya tak hanya ada di kepalanya namun juga melahirkan berbilang jumlah kerja dan kesungguhan amal untuk mencapainya.

Mencintai Sewajarnya

Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran-Nya, dan hal prinsip dalam ukuran ini adalah ketawazunan/keseimbangan. Maka coba tengok saja, adakah ciptaan Allah yang keluar dari keseimbangan ini? Mulai dari penciptaan galaksi dan alam semesta hingga sampai pada materi terkecil dari suatu benda yang dikenal dengan istilah atom. Semuanya sesuai dengan ukuran. Tidak lebih. Dan tidak kurang.

Jika kemudian kita menemukan fakta bahwa ada beberapa ciptaan-Nya yang memang dikehendaki untuk tidak seimbang, semisal manusia yang kakinya hanya sebelah dan seterusnya maka itu bukanlah penyimpangan dari kaidah umum, namun pasti ada hikmah yang dikehendaki-Nya untuk si makhluk tersebut dan untuk manusia-manusia lain di sekitarnya. Entah tentang kesabaran, tentang kesyukuran, tentang kelemahan manusia sebagai makhluk, dan tentang-tentang yang lain yang bila kita benar dalam memandang fenomena itu maka ada banyak pelajaran yang akan bisa diambil.