Selasa, 28 Februari 2012

Kepekaan Hati di Era Modernisasi

Di sebuah antrian panjang menunggu pemeriksaan untuk melengkapi berkas pengangkatan sebagai abdi negara di suatu Puskesmas di ibu kota, seorang wanita muda nampak tertarik memperhatikan seorang nenek-nenek yang sudah sangat sepuh yang terlihat kebingungan di tengah riuhnya manusia. Dengan langkah yang pelan tertatih dan kebongkokan dimakan usia, nenek itu nampak bertanya kepada beberapa pengantri yang ada di situ. Jarak wanita muda dan manula itu cukup jauh sehingga ia tidak mengerti dengan benar apa sedang terjadi. Namun dari raut wajah nenek tersebut wanita itu bisa mengira-ngira sepetak peristiwa yang mungkin tergambar di sana.

Ya, seorang wanita tua dengan pakaian model embah-embah jawa kuno yang kusut masai. Dengan sandal jepit usang dan membawa buntalan tas yang sudah lapuk pula. Berjalan terbongkok-bongkok dengan lisan yang sudah tidak fasih, pendengaran yang sudah berkurang, dan penglihatan yang pasti sudah tak lagi awas. Tak heran jika orang-orang yang ditanya mengacuhkannya atau menjawab sekenanya. Mungkin mereka menganggap beliau seorang nenek-nenek gila. Kemudian sepertinya ada seseorang yang menyarankan nenek itu menuju loket pendaftaran. Tapi setelah dari loket, nenek itu justru hanya berdiri mematung kebingungan. Melihat sekeliling kepada orang-orang yang ada di sana dengan raut wajah, ‘Adakah yang bisa membantu saya?’ Namun tak jua ada seorang pun yang terlihat tertarik kepada si nenek tua.

Wanita itu mulai paham kondisinya, dan dengan bersegera ia menghampiri si nenek renta.

‘Nenek mau berobatkah ke sini? Mari saya bantu mengisi formulir pendaftarannya..’ sambil tersenyum wanita itu membimbing nenek menuju meja tempat form pendaftaran berada. Karena melihat sudah tidak ada kursi antrian yang kosong maka wanita itu memintanya berdiri di sampingnya.

Perlu diketahui bahwa untuk bisa mendapatkan nomor antrian di Puskesmas yang sudah modern ini maka setiap calon pasien harus mengisi form biodata dan Poli mana yang hendak dituju terlebih dahulu, baru kemudian menyerahkan ke loket di tempat nenek tadi bertanya. Maka tak heran jika setelah bertanya ke petugas penjaga loket si nenek kelihatan makin bingung tadi, karena si penjaga pasti memintanya untuk mengisi form itu dan menyerahkan kepadanya. Subhanallah, tidakkah mereka berfikir bahwa nenek ini tak bisa baca tulis? Dari kesan canggung dan penampilannya saja wanita itu dengan sangat yakin bisa menyimpulkannya. Belum lagi ditambah uzur. Seorang profesor saja jika sudah sampai di usia seperti beliaunya maka bisa jadi sudah takkan bisa mengeja dengan benar kata-kata.

Maka kemudian wanita itu bertanya tentang sesuatu berkenaan dengan biodata si nenek yang diminta dalam form itu. Cukup lama, karena menerjemah dan memposisikan kata-kata tersebut agar bisa dimengerti oleh si nenek butuh etika tersendiri. Senyum tak lekang dari wanita itu dan menatap penuh kasih ke nenek yang disebelahnya. Walaupun mungkin yang ditatap tak lagi bisa melihat dengan jelas semuanya. Namun wanita itu berharap, ketulusan hati itu bisa dirasakan si nenek pula. Kemudian wanita itu mengangsurkan form pendaftaran ke petugas dan kembali menemani si nenek. Sambil menunggu nama nenek tersebut dipanggil untuk mendapatkan nomor antrian, ia mengajak si nenek berbincang.

‘Putranya kemana Nek, kok tidak diminta untuk mengantar?’ wanita itu mulai membuka percakapan

‘Sedang repot berjualan. Saya juga sudah biasa kemana-mana sendiri, tidak ada yang mengantar.’

‘Lha terus nenek tinggal sama beliaunya di sini?’

‘Iya, saya numpang tinggal di sana’

‘Lain kali tak apa lah Nek kalo lagi periksa minta diantar. Jauh kan rumahnya? Tadi nenek naik apa ke sininya?’

‘Jalan. Sambil jualan.’

‘Hah, nenek jualan apa?’ Rabbiy, sesepuh ini? Batin wanita itu berguncang.

‘Ini jualan baju-baju.’ Ia menunjukkan buntalan kecil kumuh yang dibawanya. Kemudian membukanya dan menunjukkannya.

Hanya ada beberapa helai saja, tak layak sepertinya disebut berjualan. Dan juga jenis pakaian yang ditawarkan sudah ketinggalan mode beberapa dekade lamanya, pun bagi ibu-ibu yang sudah tua sekalipun. Apa ada yang akan membeli? Wanita itu hanya bisa menggigit bibir, menahan perih yang tiba-tiba saja mencabik hatinya. Riuh air mata sudah melesak-lesak ingin keluar, namun ia tahan dengan memoles sepenggal senyum di wajahnya. Ia genggam telapak renta itu, berharap ada cinta, kehangatan, dan kekuatan yang bisa ia bagi kepada beliaunya. Namun, justru wanita muda itu yang merasainya dari si manula.

Tak berapa lama nama nenek dipanggil. Si wanita itu bergegas menuju penjaga loket. Melihat sekilas nomor antrian, dan melihat penunjuk arah di mana Poli dimaksud berada. Ia hampiri nenek itu, ia bawakan bawaannya, ia genggam tangan si nenek, kemudian membimbingnya menaiki tangga menuju Poli Umum yang ada di lantai kedua. Setelah mendudukkannya di tempat antrian, ia berkata agar nenek nanti masuk setelah namanya dipanggil. Merasa bahwa nenek tersebut telah dapat memahami kata-katanya, maka si wanita segera memohon diri karena ia juga sedang menunggu antrian pemeriksaan bersama teman-temannya yang lain. Tak lupa ia meraih tangan si nenek dan menciumnya dengan takzim. Para pengantri yang lain melihat dengan tatapan aneh dua wanita beda zaman yang nampak ganjil lakunya di penglihatan mereka.

Si wanita pun pergi, sambil menitip sebait doa dalam hati, ‘Jaga selalu beliaunya Yaa Rabbiy…’

Kisah di atas adalah kisah yang sangat lazim terjadi. Dan mungkin sangat sering kita temui. Namun ada hal yang cukup menarik untuk dijadikan koreksi. Tentang sisi lain modernisasi.

Saat setiap orang berbangga dengan  apa yang telah dicapai oleh kata reformasi dan modernisasi, serta semua instansi berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan primanya melalui sistem yang canggih, tertata, dan modern demi perbaikan pelayanannya, namun ternyata tetap saja masih ada beberapa gelintir orang yang termarginalkan.

Sebagaimana juga dengan Puskesmas tersebut. Mereka berbenah agar memiliki sistem yang rapi, efektif, dan efisien dalam pelayanan sehingga prosedural pemeriksaannya benar-benar bisa sesuai dengan keinginan masyarakat. Tidak bertele-tele. Service excellent. Namun mereka lupa, ada ‘orang-orang istimewa’ yang tak bisa menjangkau itu semua. Yang kemudian tersingkirkan dan tak bisa dilayani dengan maksimal hanya karena tuntutan sistem yang menuntut keserbacepatan dan keteraturan.

Dan buah sampingan dari sistem itu adalah tumbuh suburnya sikap individualis, menjamurnya sikap egois, dan merebaknya sikap apatis di masyarakat. Mereka hanya akan melakukan apa yang menguntungkan untuk mereka dan apa yang tertera dalam kontrak kinerja dan standard operating procedure dari pekerjaannya. Mereka lupa, bahwa mereka seharusnya melibatkan hati mereka di manapun mereka berada. Senyum yang terlatih namun hambar karena tak ada ketulusan. Gerak yang luwes, namun gagap karena tak ada keikhlasan. Dan kata yang sopan, namun jauh dari getar cinta yang memancar pesona keindahan. Itulah kondisi yang ada sekarang.

Padahal pemilik akhlaq teragung pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim, ‘Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah..’ Dan lebih dari itu, di lain kesempatan dari periwayat yang sama beliau pun berpesan, ‘Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain..’

Maka semoga kita tak menjadi manusia yang mematikan cahaya kepekaan hati hanya karena tuntutan modernitas yang memaksa kita untuk bergerak cepat mengikuti ritme perputarannya. Semoga masih ada ketulusan dan pancaran keindahan akhlaq dari iman-iman yang menghujam  dalam hati kita, yang akan membuahkan senyum, keceriaan wajah, dan laku yang baik untuk sesama. Tak peduli ia kaya maupun papa. Tak peduli ia orang terhormat maupun jelata..

Shabra Shatila, 4 Rabiul Akhir 1433 H.
Dimuat di masjidalamanah.com tgl 27 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar