Jika kemarin saya mengamati gaya belajar anak dari menonton video, maka kali ini pengamatan beralih ke aktivitas membaca buku.
Sebelum usia 3,5 tahun, Kakak menggunakan buku hanya untuk tahu gambarnya. Jadi Bunda menjelaskan secara cepat cerita yang terkait dengan gambar. Tapi kalo sekarang (4Y), yang dicari adalah jalan cerita. Jadi sudah tidak begitu peduli dengan gambar. Bahkan tidak peduli dengan bukunya. Jadi lebih sering nodong Bunda dengan cerita semau-mau Kakak. Misal malam ini tentang kucing, serigala, dan kupu-kupu. Besok tentang iguana, kancil, beruang. Malam lain, lain pula story starnya. Begitu setiap malam, sampai Bunda kadang minta waktu bentar untuk menggali ide cerita agar cerita Bunda tetap ada pelajaran yang bisa didapat oleh Kakak.
Daya imajinasi Kakak cukup bagus. Dia bisa mengarang cerita yang runtut dan dimengerti oleh saya. Walaupun kadang lompat-lompat alur juga sih. Setelah saya selesai bercerita, biasanya saya memang meminta Kakak untuk bergantian bercerita. Ini untuk mengamati perbendaharaan kata, komunikasi, dan kemampuan berbahasa Kakak.
Sedangkan Adek (2Y), saat ini menggunakan buku murni hanya untuk dibolak-balik lihat gambar. Belum ada keinginan untuk tahu gambar apa itu. Tapi saya gunakan momen itu untuk tetap menjelaskan sedikit tentang itu gambar apa. Selain dilihat gambarnya, buku lebih sering disusun memanjang dan didorong, dijadikan kereta. Atau disusun ke atas menjadi bangunan tinggi.
Dari aspek pengamatan terhadap buku ini, Kakak tetap cenderung ke auditory, sedangkan Adek cenderung kinestetik.
Minggu, 30 April 2017
Sabtu, 29 April 2017
Day 4 : Gaya Belajar
Indikator ke-empat yang saya amati adalah terkait daya tangkap anak terhadap informasi yang dilihat melalui visual misal video/film.
Walaupun dalam video/film ada aspek audio (suara), cuma disini agak saya sisihkan aspek itu dengan memilihkan film yang menggunakan bahasa asing agar pengamatan saya fokus ke aspek visualnya.
Walaupun dalam video/film ada aspek audio (suara), cuma disini agak saya sisihkan aspek itu dengan memilihkan film yang menggunakan bahasa asing agar pengamatan saya fokus ke aspek visualnya.
Jumat, 28 April 2017
Day 3: Gaya Belajar
Masuk ke indikator selanjutnya yaitu 'Apakah anak terganggu dengan bunyi-bunyian ketika sedang fokus mengerjakan suatu hal?'
Untuk Kakak, indikator ini sangat jelas terlihat. Ketika sedang fokus baca Iqra', menggambar, atau mau tidur, dan disampingnya ada orang yang bercakap-cakap maka akan langsung protes "Ih...Bunda berisik.. Kakak jadi tidak bisa blablabla ini.."
Sedangkan untuk Adek, masih belum terlihat jelas respon positif atas indikator ini. Adek bisa saja tidur ketika orang disekelilingnya berisik. Tapi adek mesti di elus-elus atau digarukkan punggungnya atau minta ditepuk-tepuk baru kemudian bisa tidur.
Atas pengamatan ini, bisa digolongkan bahwa Kakak bertipe auditory. Sedangkan Adek bukan auditory, bahkan cenderung ke kinestetik melihat bahwa harus dirangsang indra perabanya ketika mau tidur.
Untuk Kakak, indikator ini sangat jelas terlihat. Ketika sedang fokus baca Iqra', menggambar, atau mau tidur, dan disampingnya ada orang yang bercakap-cakap maka akan langsung protes "Ih...Bunda berisik.. Kakak jadi tidak bisa blablabla ini.."
Sedangkan untuk Adek, masih belum terlihat jelas respon positif atas indikator ini. Adek bisa saja tidur ketika orang disekelilingnya berisik. Tapi adek mesti di elus-elus atau digarukkan punggungnya atau minta ditepuk-tepuk baru kemudian bisa tidur.
Atas pengamatan ini, bisa digolongkan bahwa Kakak bertipe auditory. Sedangkan Adek bukan auditory, bahkan cenderung ke kinestetik melihat bahwa harus dirangsang indra perabanya ketika mau tidur.
Kamis, 27 April 2017
Day 2 : Gaya Belajar
Selanjutnya pengamatan kali ini beralih pada indikator 'Apakah anak suka membaca dengan suara keras?'
Berhubung Kakak dan Adek belum bisa membaca, maka indikator ini saya skip. Saya lanjut ke indikator selanjutnya yaitu 'Apakah anak berbicara dengan menggunakan gesture atau gerakan tangan?'
Untuk Kakak, dia tidak banyak menggunakan gesture ketika berbicara. Tapi dia ekspresif sekali mimik mukanya sesuai dengan apa yang sedang ia bicarakan. Selain itu intonasi yang dia pakai, penekanan pada hal-hal penting, dapat disampaikan dengan baik tanpa bantuan gesture tubuh/gerakan tangan. Berdasarkan pengamatan ini, maka menurut saya pada poin ini Kakak termasuk di auditory.
Sedangkan Adek, selain wajahnya yang ekspresif, intonasi suara, juga ditunjang dengan gerakan tubuh. Dia cenderung lebih banyak menggunakan gerakan-gerakan untuk menjelaskan apa yang sedang dia bicarakan. Tapi hal ini bisa jadi juga dikarenakan komunikasi verbal Adek yang masih terbatas (2tahun).. Hihi..tapi anggap saja untuk indikator ini Adek masuk di Kinestetik yaa..
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Berhubung Kakak dan Adek belum bisa membaca, maka indikator ini saya skip. Saya lanjut ke indikator selanjutnya yaitu 'Apakah anak berbicara dengan menggunakan gesture atau gerakan tangan?'
Untuk Kakak, dia tidak banyak menggunakan gesture ketika berbicara. Tapi dia ekspresif sekali mimik mukanya sesuai dengan apa yang sedang ia bicarakan. Selain itu intonasi yang dia pakai, penekanan pada hal-hal penting, dapat disampaikan dengan baik tanpa bantuan gesture tubuh/gerakan tangan. Berdasarkan pengamatan ini, maka menurut saya pada poin ini Kakak termasuk di auditory.
Sedangkan Adek, selain wajahnya yang ekspresif, intonasi suara, juga ditunjang dengan gerakan tubuh. Dia cenderung lebih banyak menggunakan gerakan-gerakan untuk menjelaskan apa yang sedang dia bicarakan. Tapi hal ini bisa jadi juga dikarenakan komunikasi verbal Adek yang masih terbatas (2tahun).. Hihi..tapi anggap saja untuk indikator ini Adek masuk di Kinestetik yaa..
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Selasa, 25 April 2017
Day 1: Gaya Belajar
Saya tidak melakukan kegiatan khusus untuk mengamati gaya belajar anak-anak. Sementara ini saya hanya mengumpulkan dari apa yang saya lihat dalam keseharian mereka.
Untuk poin pertama melakukan sesuatu dengan teliti, rapi, dan detil maka dapat dilihat bahwa si Kakak (4Y) tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini. Dia melakukan 'yang penting proper.' Menaruh sandal, menata mainan, berpakaian, dia biasa saja.
Nah, lain dengan si Adek (2Y). Adek sangat memperhatikan kerapian. Saat menata sendal/sepatu maka dia tata harus simetris, kanankirinya urut, besarkecilnya urut, dan tidak boleh miring-miring. Dia bisa stuck lama di depan rumah buat nata sendal/sepatu. Geser sanasini, pindah sanasini, sampai di posisi yang menurutnya perfect.
Dalam hal berpakaian pun begitu. Suka teriak marah-marah kalo keinginannya tidak terpenuhi. Misal baju A harus masuk celana, baju B harus keluar celana, atau celana X harus digulung sekian kali bawahnya.
Jadi untuk parameter pertama ini bisa dikategorikan bahwa Kakak gaya belajarnya bukan visual, sedangkan Adek visual.
#Tantangan10Hari,#Level4,#GayaBelajarAnak,#KuliahBunsayIIP
Untuk poin pertama melakukan sesuatu dengan teliti, rapi, dan detil maka dapat dilihat bahwa si Kakak (4Y) tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini. Dia melakukan 'yang penting proper.' Menaruh sandal, menata mainan, berpakaian, dia biasa saja.
Nah, lain dengan si Adek (2Y). Adek sangat memperhatikan kerapian. Saat menata sendal/sepatu maka dia tata harus simetris, kanankirinya urut, besarkecilnya urut, dan tidak boleh miring-miring. Dia bisa stuck lama di depan rumah buat nata sendal/sepatu. Geser sanasini, pindah sanasini, sampai di posisi yang menurutnya perfect.
Dalam hal berpakaian pun begitu. Suka teriak marah-marah kalo keinginannya tidak terpenuhi. Misal baju A harus masuk celana, baju B harus keluar celana, atau celana X harus digulung sekian kali bawahnya.
Jadi untuk parameter pertama ini bisa dikategorikan bahwa Kakak gaya belajarnya bukan visual, sedangkan Adek visual.
#Tantangan10Hari,#Level4,#GayaBelajarAnak,#KuliahBunsayIIP
Kamis, 20 April 2017
Cemilan Rabu: Gaya Belajar#1
Camilan Rabu, 19 April 2017
๐บ *Sensory Integration Bekal Melatih pilihan Gaya Belajar Anak Secara Optimal* ๐บ
Apakah Bunda sudah mulai mengamati ananda, seperti apakah kecenderungan pilihan cara belajar yang mungkin nampak dominan pada ananda? Apakah Bunda melihat kadang ketika mempelajari satu bidang anak cenderung suka dengan cara mendengar, namun untuk bidang pelajaran yang lain anak kita lebih dapat memahami dengan cara membaca misalnya. Lalu apakah visual, auditory dan kinestetik sebuah karakter? Atau sebetulnya itu adalah sebuah modalitas belajar?
Lalu kemudian jika itu merupakan modalitas belajar, bagaimanakah cara bekerjanya?
Dalam kajian NLP ( _Neuro-Linguistic Programming_) gambar, suara, rasa aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran kita disebut sebagai representasi internal atau dalam bahasa psikologi lazim disebut sebagai *persepsi*. Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan ujung-ujungnya mempengaruhi perilaku anak. Representasi internal terbentuk melalui sistem representasi. Sistem representasi (biasa disingkat dengan rep system) ini adalah ibarat pintu masuk dari persepsi. Berupa apakah rep system tersebut? Betul, rep system tak lain adalah VAKOG itu sendiri yaitu visual, auditorial, kinestetik, olfaktory (Indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan).
Bagaimanakah rep system bekerja? Rep system bekerja dengan cara menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki untuk kemudian digunakan sebagai referensi dalam menghasilkan perilaku tertentu.
Nah, Rep system inilah yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas belajar. Maka dengan rep system yang terstimulasi dengan optimal maka akan menentukan kualitas yang dihasilkan dalam pemrosesan informasi oleh rep system ini. Contohnya, jika kita stimulasi anak secara optimal untuk mempelajari satu buah jeruk, seperti apa jeruk itu?? Maka learning modality nya kita optimalkan penuh secara full sensori.
Informasi-->masuk melalui rep system (VAKOG)= learning modalities
Setiap individu memiliki perpaduan _learning modalities_(gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap, atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.
Bisa saja kita mengembangakan gaya belajar yang semula jarang kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.
Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?
Sebab bisa jadi bekal seorang anak bisa mendapatkan learning style nya ada proses yang bisa kita awali dari proses stimulasi atas sensory integrasi ini. Menariknya dalam sensory integrasi, ditambahkan dua macam sensori lagi, apa sajakah? Mari kita simak tulisan saudari Riezqa Ratna berikut:
Istilah sensory integration (SI) pertama kali dicetuskan oleh DR. Anna Jean Ayres (1920-1989). Beliau seorang psikolog pendidikan, neuropsychologist dan terapis okupasi. Ayres mengemukakan adanya hubungan antara perilaku seseorang dengan perkembangan fungsi otak.
Teori Sensory Integration menjelaskan bagaimana cara otak menerima dan memproses stimulus atau input sensorik dari lingkungan di sekitar kita dan dari dalam tubuh kita sendiri. Apabila seorang anak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka ia akan berperilaku secara adaptif. Akan tetapi bila seorang anak tidak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka perilaku yang muncul seperti mereka mengalami kesulitan untuk mengolah input sensorik yang masuk, misalnya bila dipanggil namanya mereka tidak merespon, diajak bicara, tidak menanggapi (Ayres, 1979). Anak akan berespon secara berlebihan pada suatu input yang sebenarnya tidak membahayakan atau anak mengabaikan input yang masuk (perilaku maladaptive). Menurut Bundy, Lane dan Murray (2002), Sensory Integration adalah teori hubungan antara otak dan perilaku. Ayres (1972) mendefinisikan Sensory Integration sebagai:
“The neurological process that organized sensation from one’s own body and from environmental and make it possible to use the body effectively within the environment”. (Proses neurologis individu dalam mengorganisasikan sensasi dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar dan dapat digunakan secara efektif dalam lingkungannya).
Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika seseorang ingin bergerak, belajar dan berperilaku. Sensori tersebut memberikan informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.
Adapun ketidakberfungsian integrasi sensoris atau sensory integration dysfunction itu sendiri adalah ketidakmampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui indra. Ketidakberfungsian terjadi di dalam sistem saraf pusat yang terdapat dalam kepala yang disebut dengan otak. Ketika masalah teknis terjadi, otak tidak mampu untuk melakukan analisis, pengorganisasian, dan tidak mampu melakukan hubungan atau integrasi pesan-pesan sensoris. Akibat ketidakberfungsian integrasi sensoris, seorang anak tidak dapat melakukan respon atau menanggapi informasi sensoris untuk dijadikan sesuatu yang bermakna secara konsisten. Anak tersebut memperoleh kesulitan dalam menggunakan informasi sensoris untuk dibuat rencana atau diorganisasi dengan apa yang semestinya ia lakukan (konsentrasi belajar terganggu). Jadi, ia tidak belajar secara mudah.
Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979). Informasi sensorik (Sensory information) tersebut berasal dari:
1. Mata (Visual)
Mata (Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.
2. Telinga (Auditory)
Telinga (Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam. Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.
3. Hidung (Olfactory)
Hidung (Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung, fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).
4. Lidah (Gustatory)
Lidah (Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).
5. Kulit (Tactile)
Kulit (Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:
“Processing tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”
Sistem taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif. Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas), sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck, 1993).
6. Otot dan persendian (Proprioceptive)
Ayres (1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai “The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).
7. Keseimbangan / balance (Vestibular)
Ayres (1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.
Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).
Level-Level Sensory Integration
Ada empat level dalam proses sensori integrasi. Level pertama berlangsung di usia 0-1 tahun, level kedua 1-2 tahun, level ketiga 3-7 tahun, dan level keempat tercapai saat anak masuk SD.
1. Level Pertama (0 – 1 tahun)
Anak picky eater (pemilih dalam makan)? sulit menangkap bola? Takut bermain ayunan atau perosotan Proses Sensori integrasi level pertama terjadi saat anak berusia 0-1 tahun. Tiga hal penting yang terbentuk adalah taktil, integrasi vestibular dan proprioreseptif, dan gravitational security.
Tactile memberikan rasa aman dan nyaman terhadap apa yang anak menyentuh dan ketika disentuh, ini bahkan berpengaruh pada kenyamanannya bersosialisasi kelak. Awal dari tactile adalah kelekatan ibu dan anak. Menyusui dan menggendong anak adalah stimulasi yang baik bagi si kecil. Dengan menyusui, bayi akan menerima informasi suhu tubuh dan tekstur kulit ibu serta tekanan yang ia rasakan. Ini menjelaskan kenapa bayi hanya benar-benar bisa tenang saat ia berada di dekat ibunya, karena suhu, tekstur, dan tekanan ibulah yang familiar dengannya. Anak yang picky eater biasanya punya masalah pada saat menghisap, dan ini akan terdeteksi ketika anak menyusu. Bila hisapannya lemah, otot kunyahnya juga tidak bekerja baik sehingga kesulitan memakan makanan yang dengan tekstur tertentu.
Gravitational security juga terbentuk di level pertama. Pernah dengar larangan menggendong dan mengayun-ayun bayi? Sebaiknya anda abaikan karena apabila bayi digendong dan diayun maka itu berarti ia mendapat informasi yang lebih banyak tentang arah dan merasakan gravitasi, dan karena ia merasa tetap nyaman dalam gendongan, iapun merasa aman dengan gaya gravitasi. Tak heran kalau nanti di usia 3-4 tahun ia akan dengan yakin melompat, berayun, dan meluncur. Stimulasi yang ia terima jauh lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lebih banyak didiamkan saja di ranjang atau stroller. Salah satu integrasi vestibular dan proprioreseptif yang penting di level ini adalah kontrol gerakan mata. Mainan yang digantung di atas ranjang bayi bisa berpengaruh pada perkembangan vestibular si kecil. Hindari mainan yang berputar, pilih mainan yang bergerak kanan-kiri atau depan belakang karena gerakan ini yang ia butuhkan untuk menstimulasi system vestibularnya, gerak otot matapun akan terlatih dengan baik dan inilah pondasi untuknya saat belajar menbaca kelak. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang bergerak sederhana, kanan-kiri, depan-belakang, atas bawah. Gerakan berputar, apalagi layar televisi yang bergerak sangat cepat terlalu kompleks dan malah membuat gerak otot matanya tidak berkembang dengan baik.
2. Level Kedua (1-2 Tahun)
Anak pendiam? Hiperaktif? Enggan mencoba hal baru? Tidak tertarik dengan mainan atau permainan yang baru? Anak usia 1-2 tahun mulai tertarik pada benda-benda di luar dirinya. Dia mulai suka mencopot , memasang, membuka, menutup, mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya saja saat ia melihat botol berisi air, dia mungkin akan mencoba membukanya dengan memukul-mukul, membanting, menggigit, dan seterusnya. Fungsi taktil, vestibular, dan proprioreseptif sebagai dasar kestabilan emosi berkembang pada level ini. Sangat penting untuk membiarkannya mencoba banyak hal sehingga pengalamannya semakin banyak. Bila anak banyak dibatasi, dua perilaku akan mungkin terbentuk saat ia tumbuh : Pendiam atau hiperaktif.
Mungkin dia akan tampak seperti pendiam, menarik diri, saat berhadapan dengan lingkungan yang baru. Perilaku ini muncul karena sedikitnya pengalaman membuat ia tak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Iapun menarik diri, seolah-olah ia adalah anak yang pendiam. Sebaliknya, bisa juga ia menjadi hiperaktif karena haus akan pengalaman. Ia tak bisa menahan dirinya untuk beralih dari satu permainan ke permainan yang lain. Tubuh kita memang secara alamiah mencari kebutuhannya yang tak terpenuhi. Persepsi tubuh anak juga terbentuk di tahap ini. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya, anak akan membentuk peta bagian tubuh di otak. “Data mentah”-nya adalah pengalaman sensasi dari kulit, otot, sendi, gravitasi, dan reseptor gerak. Pemetaan yang baik akan menentukan keberhasilan anak dalam melakukan motor planning, yang berguna dalam kemampuan beradaptasi dengan hal yang tidak dikenal dan belajar melakukannya secara otomatis. Apakah anak tampak tak tertarik saat dibelikan mainan baru? Enggan mencoba atau menunggu dulu dicontohkan oleh orangtuanya? Apakah anak selalu harus diberi petunjuk ketika memasuki lingkungan yang baru? Tidak berani berinisiatif?
3. Level Ketiga (2-5 tahun)
Level ini dijalani saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Proses yang terjadi adalah masa perkembangan bicara dan bahasa, pembentukan persepsi visual, penguasaan tingkat persepsi yang lebih tinggi, merasakan benda melalui menyentuh, memegang, dan menggerakkannya, serta masa berkembangnya koordinasi mata-tangan. Hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan bicara dan bahasa adalah, kemampuan bicara dan berbahasa tidak terjadi begitu saja. Sebelum mengerti kata, anak harus mampu memperhatikan orang yang berbicara. Sistem vestibular yang berkembang dengan baik di level sebelumnya membantu anak untuk memproses apa yang ia dengar dan lihat dengan tepat. Banyaknya pengalaman di level sebelumnya akan menjadi bank data dalam membentuk persepsi visual. Anak di usia ini sudah mengenali apa yang ia lihat, apa yang harus dia lakukan dengan objek yang ia lihat, dan apabila melihat benda yang baru, berdasarkan pengalamannya ia akan percaya diri akan apa yang bias dilakukan terhadapnya. Sebagai perkembangan selanjutnya, ia mulai menguasai tingkat persepsi yang lebih tinggi. Tak hanya melihat benda, ia juga melihat hubungannya terhadap benda lain dan latar. Contohnya : ia melihat bola, lapangan, dan gawang…ia pun berlari mengarahkan bola untuk dimasukkan ke gawang. Kali lain ia melihat bola yang sama, tapi tidak ada gawang, yang ada botol botol berjajar, ia tidak akan menendangnya tapi menggelindingkan bole ke arah botol. Untuk belajar, anak usia ini harus merasakan langsung. Misalnya, untuk mengenal berat sebuah benda, ia akan menyentuh, memegang, dan menggerakkannya. Semakin banyak informasi yang masuk melalui indera akan menambah bank data pengalaman di otaknya sehingga membuatnya semakin percaya diri saat bertemu dengan benda-benda yang baru. Apabila anak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget berlayar (HP, tablet, laptop), kesempatannya untuk mendapat banyak informasi melalui indera akan sangat sedikit. Ia hanya menonton orang yang menari, tapi tidak merasakan tubuhnya yang bergerak, perubahan gerak udara, perubahan tekanan pada otot. Tidak ada data yang masuk ke otak, tidak ada yang diintegrasikan sehingga pengalaman mereka sangat sedikit. Keasyikan menonton juga mengurangi pengalaman sosialisasi dan berbahasa.
Level ini juga merupakan masa penting bagi koordinasi mata dan tangan. Di usia yang muda, tangan dan jari akan berusaha meraih atau mencoba melakukan hal yang dilihat oleh mata. Semakin berkembangnya koordinasi mata dan tangan akan membuatnya siap untuk kegiatan yang lebih kompleks seperti merakit dan menulis.
4. Level Keempat (5-7 tahun)
Level ini tercapai saat anak masuk SD. Ia akan lebih spesifik dalam menggunakan satu sisi tubuh, lebih jelas bagian tubuh sebelah mana yang dominan ia gunakan. Akhirnya, setelah proses sensori integrasi yang panjang dari pengalaman yang banyak, harga diri anak, kontrol diri dan kepercayaan diri akan terbentuk. Ia akan bersikap tenang dan siaga saat mengikuti pelajaran di sekolah. Insyaallah tak ada lagi cerita anak yang butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas karena mencari barang-barang seperti pensil dan penghapus, memberi alasan alih-alih menyelesaikan tugas, ataupun masalah-masalah seperti konsentrasi dan kekuatan saat menulis.
Bagaimanapun, anak usia 0-7 tahun kondisinya belumlah stabil, mereka butuh pengalaman sebanyak-banyaknya sehingga mereka puas bereksplorasi. Kelak saat waktunya mereka tenang dan siaga mereka telah siap, tak lagi menghindar atau mencari-cari . Merekapun akan mudah beradaptasi dengan aneka keadaan.
Daftar Pustaka:
NLP The Art of Enjoying Life, Teddi Prasetya Yuliawan, Jakarta: 2014
https://riezkaratna73.wordpress.com/2015/03/09/gangguan-belajar-sensory-integration-dan-dispraxia/, diakses 17 April 2017
๐บ *Sensory Integration Bekal Melatih pilihan Gaya Belajar Anak Secara Optimal* ๐บ
Apakah Bunda sudah mulai mengamati ananda, seperti apakah kecenderungan pilihan cara belajar yang mungkin nampak dominan pada ananda? Apakah Bunda melihat kadang ketika mempelajari satu bidang anak cenderung suka dengan cara mendengar, namun untuk bidang pelajaran yang lain anak kita lebih dapat memahami dengan cara membaca misalnya. Lalu apakah visual, auditory dan kinestetik sebuah karakter? Atau sebetulnya itu adalah sebuah modalitas belajar?
Lalu kemudian jika itu merupakan modalitas belajar, bagaimanakah cara bekerjanya?
Dalam kajian NLP ( _Neuro-Linguistic Programming_) gambar, suara, rasa aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran kita disebut sebagai representasi internal atau dalam bahasa psikologi lazim disebut sebagai *persepsi*. Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan ujung-ujungnya mempengaruhi perilaku anak. Representasi internal terbentuk melalui sistem representasi. Sistem representasi (biasa disingkat dengan rep system) ini adalah ibarat pintu masuk dari persepsi. Berupa apakah rep system tersebut? Betul, rep system tak lain adalah VAKOG itu sendiri yaitu visual, auditorial, kinestetik, olfaktory (Indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan).
Bagaimanakah rep system bekerja? Rep system bekerja dengan cara menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki untuk kemudian digunakan sebagai referensi dalam menghasilkan perilaku tertentu.
Nah, Rep system inilah yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas belajar. Maka dengan rep system yang terstimulasi dengan optimal maka akan menentukan kualitas yang dihasilkan dalam pemrosesan informasi oleh rep system ini. Contohnya, jika kita stimulasi anak secara optimal untuk mempelajari satu buah jeruk, seperti apa jeruk itu?? Maka learning modality nya kita optimalkan penuh secara full sensori.
Informasi-->masuk melalui rep system (VAKOG)= learning modalities
Setiap individu memiliki perpaduan _learning modalities_(gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap, atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.
Bisa saja kita mengembangakan gaya belajar yang semula jarang kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.
Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?
Sebab bisa jadi bekal seorang anak bisa mendapatkan learning style nya ada proses yang bisa kita awali dari proses stimulasi atas sensory integrasi ini. Menariknya dalam sensory integrasi, ditambahkan dua macam sensori lagi, apa sajakah? Mari kita simak tulisan saudari Riezqa Ratna berikut:
Istilah sensory integration (SI) pertama kali dicetuskan oleh DR. Anna Jean Ayres (1920-1989). Beliau seorang psikolog pendidikan, neuropsychologist dan terapis okupasi. Ayres mengemukakan adanya hubungan antara perilaku seseorang dengan perkembangan fungsi otak.
Teori Sensory Integration menjelaskan bagaimana cara otak menerima dan memproses stimulus atau input sensorik dari lingkungan di sekitar kita dan dari dalam tubuh kita sendiri. Apabila seorang anak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka ia akan berperilaku secara adaptif. Akan tetapi bila seorang anak tidak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka perilaku yang muncul seperti mereka mengalami kesulitan untuk mengolah input sensorik yang masuk, misalnya bila dipanggil namanya mereka tidak merespon, diajak bicara, tidak menanggapi (Ayres, 1979). Anak akan berespon secara berlebihan pada suatu input yang sebenarnya tidak membahayakan atau anak mengabaikan input yang masuk (perilaku maladaptive). Menurut Bundy, Lane dan Murray (2002), Sensory Integration adalah teori hubungan antara otak dan perilaku. Ayres (1972) mendefinisikan Sensory Integration sebagai:
“The neurological process that organized sensation from one’s own body and from environmental and make it possible to use the body effectively within the environment”. (Proses neurologis individu dalam mengorganisasikan sensasi dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar dan dapat digunakan secara efektif dalam lingkungannya).
Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika seseorang ingin bergerak, belajar dan berperilaku. Sensori tersebut memberikan informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.
Adapun ketidakberfungsian integrasi sensoris atau sensory integration dysfunction itu sendiri adalah ketidakmampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui indra. Ketidakberfungsian terjadi di dalam sistem saraf pusat yang terdapat dalam kepala yang disebut dengan otak. Ketika masalah teknis terjadi, otak tidak mampu untuk melakukan analisis, pengorganisasian, dan tidak mampu melakukan hubungan atau integrasi pesan-pesan sensoris. Akibat ketidakberfungsian integrasi sensoris, seorang anak tidak dapat melakukan respon atau menanggapi informasi sensoris untuk dijadikan sesuatu yang bermakna secara konsisten. Anak tersebut memperoleh kesulitan dalam menggunakan informasi sensoris untuk dibuat rencana atau diorganisasi dengan apa yang semestinya ia lakukan (konsentrasi belajar terganggu). Jadi, ia tidak belajar secara mudah.
Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979). Informasi sensorik (Sensory information) tersebut berasal dari:
1. Mata (Visual)
Mata (Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.
2. Telinga (Auditory)
Telinga (Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam. Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.
3. Hidung (Olfactory)
Hidung (Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung, fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).
4. Lidah (Gustatory)
Lidah (Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).
5. Kulit (Tactile)
Kulit (Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:
“Processing tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”
Sistem taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif. Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas), sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck, 1993).
6. Otot dan persendian (Proprioceptive)
Ayres (1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai “The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).
7. Keseimbangan / balance (Vestibular)
Ayres (1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.
Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).
Level-Level Sensory Integration
Ada empat level dalam proses sensori integrasi. Level pertama berlangsung di usia 0-1 tahun, level kedua 1-2 tahun, level ketiga 3-7 tahun, dan level keempat tercapai saat anak masuk SD.
1. Level Pertama (0 – 1 tahun)
Anak picky eater (pemilih dalam makan)? sulit menangkap bola? Takut bermain ayunan atau perosotan Proses Sensori integrasi level pertama terjadi saat anak berusia 0-1 tahun. Tiga hal penting yang terbentuk adalah taktil, integrasi vestibular dan proprioreseptif, dan gravitational security.
Tactile memberikan rasa aman dan nyaman terhadap apa yang anak menyentuh dan ketika disentuh, ini bahkan berpengaruh pada kenyamanannya bersosialisasi kelak. Awal dari tactile adalah kelekatan ibu dan anak. Menyusui dan menggendong anak adalah stimulasi yang baik bagi si kecil. Dengan menyusui, bayi akan menerima informasi suhu tubuh dan tekstur kulit ibu serta tekanan yang ia rasakan. Ini menjelaskan kenapa bayi hanya benar-benar bisa tenang saat ia berada di dekat ibunya, karena suhu, tekstur, dan tekanan ibulah yang familiar dengannya. Anak yang picky eater biasanya punya masalah pada saat menghisap, dan ini akan terdeteksi ketika anak menyusu. Bila hisapannya lemah, otot kunyahnya juga tidak bekerja baik sehingga kesulitan memakan makanan yang dengan tekstur tertentu.
Gravitational security juga terbentuk di level pertama. Pernah dengar larangan menggendong dan mengayun-ayun bayi? Sebaiknya anda abaikan karena apabila bayi digendong dan diayun maka itu berarti ia mendapat informasi yang lebih banyak tentang arah dan merasakan gravitasi, dan karena ia merasa tetap nyaman dalam gendongan, iapun merasa aman dengan gaya gravitasi. Tak heran kalau nanti di usia 3-4 tahun ia akan dengan yakin melompat, berayun, dan meluncur. Stimulasi yang ia terima jauh lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lebih banyak didiamkan saja di ranjang atau stroller. Salah satu integrasi vestibular dan proprioreseptif yang penting di level ini adalah kontrol gerakan mata. Mainan yang digantung di atas ranjang bayi bisa berpengaruh pada perkembangan vestibular si kecil. Hindari mainan yang berputar, pilih mainan yang bergerak kanan-kiri atau depan belakang karena gerakan ini yang ia butuhkan untuk menstimulasi system vestibularnya, gerak otot matapun akan terlatih dengan baik dan inilah pondasi untuknya saat belajar menbaca kelak. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang bergerak sederhana, kanan-kiri, depan-belakang, atas bawah. Gerakan berputar, apalagi layar televisi yang bergerak sangat cepat terlalu kompleks dan malah membuat gerak otot matanya tidak berkembang dengan baik.
2. Level Kedua (1-2 Tahun)
Anak pendiam? Hiperaktif? Enggan mencoba hal baru? Tidak tertarik dengan mainan atau permainan yang baru? Anak usia 1-2 tahun mulai tertarik pada benda-benda di luar dirinya. Dia mulai suka mencopot , memasang, membuka, menutup, mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya saja saat ia melihat botol berisi air, dia mungkin akan mencoba membukanya dengan memukul-mukul, membanting, menggigit, dan seterusnya. Fungsi taktil, vestibular, dan proprioreseptif sebagai dasar kestabilan emosi berkembang pada level ini. Sangat penting untuk membiarkannya mencoba banyak hal sehingga pengalamannya semakin banyak. Bila anak banyak dibatasi, dua perilaku akan mungkin terbentuk saat ia tumbuh : Pendiam atau hiperaktif.
Mungkin dia akan tampak seperti pendiam, menarik diri, saat berhadapan dengan lingkungan yang baru. Perilaku ini muncul karena sedikitnya pengalaman membuat ia tak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Iapun menarik diri, seolah-olah ia adalah anak yang pendiam. Sebaliknya, bisa juga ia menjadi hiperaktif karena haus akan pengalaman. Ia tak bisa menahan dirinya untuk beralih dari satu permainan ke permainan yang lain. Tubuh kita memang secara alamiah mencari kebutuhannya yang tak terpenuhi. Persepsi tubuh anak juga terbentuk di tahap ini. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya, anak akan membentuk peta bagian tubuh di otak. “Data mentah”-nya adalah pengalaman sensasi dari kulit, otot, sendi, gravitasi, dan reseptor gerak. Pemetaan yang baik akan menentukan keberhasilan anak dalam melakukan motor planning, yang berguna dalam kemampuan beradaptasi dengan hal yang tidak dikenal dan belajar melakukannya secara otomatis. Apakah anak tampak tak tertarik saat dibelikan mainan baru? Enggan mencoba atau menunggu dulu dicontohkan oleh orangtuanya? Apakah anak selalu harus diberi petunjuk ketika memasuki lingkungan yang baru? Tidak berani berinisiatif?
3. Level Ketiga (2-5 tahun)
Level ini dijalani saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Proses yang terjadi adalah masa perkembangan bicara dan bahasa, pembentukan persepsi visual, penguasaan tingkat persepsi yang lebih tinggi, merasakan benda melalui menyentuh, memegang, dan menggerakkannya, serta masa berkembangnya koordinasi mata-tangan. Hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan bicara dan bahasa adalah, kemampuan bicara dan berbahasa tidak terjadi begitu saja. Sebelum mengerti kata, anak harus mampu memperhatikan orang yang berbicara. Sistem vestibular yang berkembang dengan baik di level sebelumnya membantu anak untuk memproses apa yang ia dengar dan lihat dengan tepat. Banyaknya pengalaman di level sebelumnya akan menjadi bank data dalam membentuk persepsi visual. Anak di usia ini sudah mengenali apa yang ia lihat, apa yang harus dia lakukan dengan objek yang ia lihat, dan apabila melihat benda yang baru, berdasarkan pengalamannya ia akan percaya diri akan apa yang bias dilakukan terhadapnya. Sebagai perkembangan selanjutnya, ia mulai menguasai tingkat persepsi yang lebih tinggi. Tak hanya melihat benda, ia juga melihat hubungannya terhadap benda lain dan latar. Contohnya : ia melihat bola, lapangan, dan gawang…ia pun berlari mengarahkan bola untuk dimasukkan ke gawang. Kali lain ia melihat bola yang sama, tapi tidak ada gawang, yang ada botol botol berjajar, ia tidak akan menendangnya tapi menggelindingkan bole ke arah botol. Untuk belajar, anak usia ini harus merasakan langsung. Misalnya, untuk mengenal berat sebuah benda, ia akan menyentuh, memegang, dan menggerakkannya. Semakin banyak informasi yang masuk melalui indera akan menambah bank data pengalaman di otaknya sehingga membuatnya semakin percaya diri saat bertemu dengan benda-benda yang baru. Apabila anak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget berlayar (HP, tablet, laptop), kesempatannya untuk mendapat banyak informasi melalui indera akan sangat sedikit. Ia hanya menonton orang yang menari, tapi tidak merasakan tubuhnya yang bergerak, perubahan gerak udara, perubahan tekanan pada otot. Tidak ada data yang masuk ke otak, tidak ada yang diintegrasikan sehingga pengalaman mereka sangat sedikit. Keasyikan menonton juga mengurangi pengalaman sosialisasi dan berbahasa.
Level ini juga merupakan masa penting bagi koordinasi mata dan tangan. Di usia yang muda, tangan dan jari akan berusaha meraih atau mencoba melakukan hal yang dilihat oleh mata. Semakin berkembangnya koordinasi mata dan tangan akan membuatnya siap untuk kegiatan yang lebih kompleks seperti merakit dan menulis.
4. Level Keempat (5-7 tahun)
Level ini tercapai saat anak masuk SD. Ia akan lebih spesifik dalam menggunakan satu sisi tubuh, lebih jelas bagian tubuh sebelah mana yang dominan ia gunakan. Akhirnya, setelah proses sensori integrasi yang panjang dari pengalaman yang banyak, harga diri anak, kontrol diri dan kepercayaan diri akan terbentuk. Ia akan bersikap tenang dan siaga saat mengikuti pelajaran di sekolah. Insyaallah tak ada lagi cerita anak yang butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas karena mencari barang-barang seperti pensil dan penghapus, memberi alasan alih-alih menyelesaikan tugas, ataupun masalah-masalah seperti konsentrasi dan kekuatan saat menulis.
Bagaimanapun, anak usia 0-7 tahun kondisinya belumlah stabil, mereka butuh pengalaman sebanyak-banyaknya sehingga mereka puas bereksplorasi. Kelak saat waktunya mereka tenang dan siaga mereka telah siap, tak lagi menghindar atau mencari-cari . Merekapun akan mudah beradaptasi dengan aneka keadaan.
Daftar Pustaka:
NLP The Art of Enjoying Life, Teddi Prasetya Yuliawan, Jakarta: 2014
https://riezkaratna73.wordpress.com/2015/03/09/gangguan-belajar-sensory-integration-dan-dispraxia/, diakses 17 April 2017
Rabu, 19 April 2017
Tantangan 10 Hari: Gaya Belajar
๐GAME LEVEL 4๐
*๐ Gaya belajar anak ๐*
Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.
Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan lebih mudah mempelajari sesuatu.
๐Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
*Tantangan 10 hari level 4*
๐Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan
๐Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat
๐Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
*๐ Gaya belajar anak ๐*
Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.
Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan lebih mudah mempelajari sesuatu.
๐Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
*Tantangan 10 hari level 4*
๐Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan
๐Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat
๐Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Senin, 17 April 2017
Materi 4: Gaya Belajar
*MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR*
Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Rabu, 05 April 2017
Menyapih dengan Keyakinan
Proses penyapihan adalah proses yang 'horor' bagi saya. Bahkan sejak si anak masuk ke usia 20 bulan, proses sapih ini selalu membayangi dan selalu membawa 'keresahan' tersendiri. Sedih. Membayangkan apa yang akan dirasakan oleh si anak. Dan yang dirasakan oleh diri saya sendiri. Ada sesuatu yang terasa 'hilang'. Ada goresan-goresan yang ah barang kali 'hanya para Bunda' yang bisa merasainya.. ;p
Saya bahkan harus membaca banyak ulasan orang beserta teori yang menyertainya. Tapi tentu saja tinjauan syariah yang saya utamakan terlebih dahulu. Karena ini salah satu value yang coba kami bangun dalam keluarga kami: 'thaat syariat'. Jadi seberapa hebatpun teori-teori yang berkembang saat ini, kalau menurut kami (setelah banyak membaca) ada sesuatu yang membuat tidak relevan dengan apa yang sudah diatur Allah, insyaAllah dengan sadarjaga akan kami usahakan untuk meninggalkannya. Termasuk terkait dengan penyapihan ini.
Saya bahkan harus membaca banyak ulasan orang beserta teori yang menyertainya. Tapi tentu saja tinjauan syariah yang saya utamakan terlebih dahulu. Karena ini salah satu value yang coba kami bangun dalam keluarga kami: 'thaat syariat'. Jadi seberapa hebatpun teori-teori yang berkembang saat ini, kalau menurut kami (setelah banyak membaca) ada sesuatu yang membuat tidak relevan dengan apa yang sudah diatur Allah, insyaAllah dengan sadarjaga akan kami usahakan untuk meninggalkannya. Termasuk terkait dengan penyapihan ini.
Langganan:
Komentar (Atom)