Rabu, 05 April 2017

Menyapih dengan Keyakinan

Proses penyapihan adalah proses yang 'horor' bagi saya. Bahkan sejak si anak masuk ke usia 20 bulan, proses sapih ini selalu membayangi dan selalu membawa 'keresahan' tersendiri. Sedih. Membayangkan apa yang akan dirasakan oleh si anak. Dan yang dirasakan oleh diri saya sendiri. Ada sesuatu yang terasa 'hilang'. Ada goresan-goresan yang ah barang kali 'hanya para Bunda' yang bisa merasainya.. ;p

Saya bahkan harus membaca banyak ulasan orang beserta teori yang menyertainya. Tapi tentu saja tinjauan syariah yang saya utamakan terlebih dahulu. Karena ini salah satu value yang coba kami bangun dalam keluarga kami: 'thaat syariat'. Jadi seberapa hebatpun teori-teori yang berkembang saat ini, kalau menurut kami (setelah banyak membaca) ada sesuatu yang membuat tidak relevan dengan apa yang sudah diatur Allah, insyaAllah dengan sadarjaga akan kami usahakan untuk meninggalkannya. Termasuk terkait dengan penyapihan ini.


Tentu saja yang kami jadikan dasar rujukan yang pertama adalah Al-Quran, dimana Allah berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan."

Penyebutan sesuatu yang spesifik dalam Al-Quran yaitu dalam hal ini adalah '2 tahun penuh' dan 'menyempurnakan penyusuan' pastilah mempunyai ibrah yang tidak bisa digantikan dengan yang selainnya. Terus apakah tidak boleh jika menyapih sebelum 2 tahun itu? Boyeeh Kakak, kan di lanjutan dari penggalan ayat di atas itu membahas tentang hal ini (cari sendiri ya, Al-Baqarah : 233). Terus kalo lebih dari 2 tahun? Menurut para ulama juga dibolehkan kok. Mubah hukumnya. Dengan syarat tidak membahayakan baik bagi orang tua maupun anaknya. Tapi, disini saya tidak akan membahas yang kurang atau yang lebih. Karena balik ke value keluarga, kalo ada yang lebih utama, maka itulah yang akan kami kejar. Utama menurut ilmu yang kami miliki saat ini tentu saja.. :)

Saya tidak melihat lebih jauh tentang misal plus minus anak yang disusui lebih dari 2 tahun atau yang pas dua tahun, karena menurut saya teori atau hasil kajian tentang 'manusia' ini cenderung debatable dan selalu ada yang baru dari waktu ke waktu. Jadi saya mengesampingkan ranah ini. Yang saya banyak cari langsung ke metode penyapihannya dan saya mengobservasi sedikit karakter anak saya agar menemukan mana yang kira-kira baik untuk diterapkan.

Oya, terkait definisi 2 tahun ini, membuat saya sedikit tersenyum kecut kalo mengingat-ingat pengalaman menyapih Kakak dulu. Jadi dengan polos, lugu atau bodohnya, saya menyapih Kakak di 2 tahun itu ya pas di tanggal lahirnya a.k.a 2 tahun kalender masehi. Baru ngeh pas di anak kedua, kalau 2 tahun dalam al-Quran itu menghitungnya dengan kalender hijriyah.. Tapi Allah kan Maha Baik ya, semoga termasuk yang dimaafkan karena ketidaktahuan.. :'(

Kalo dulu pas Kakak, saya menyapihnya dengan agak patuh pada teori weaning with love walaupun dimodifikasi terkait batasan waktu cut off yaitu usia 2 tahun, bukan mengikuti waktu anak untuk meminta berhenti menyusu sendiri. Saya sounding sejak berbulan-bulan sebelumnya bahwa saat 2 tahun nanti Kakak minumnya sudah bisa dengan gelas, dan lebih sering diulang-ulang pas sebulan sebelum hari H-nya. Kemudian di rentang 2 pekan sebelum hari H memberi batasan frekuensi menyusu dan mengalihkan ke hal lain yang menarik ketika anak meminta menyusu di luar jam yang ditentukan. Dan frekuensi ini terus diturunkan sampai di hari H tidak menyusu sama sekali.

Dan... pas hari H-nya, tetap saja ada drama. Kakak menangis berguling-guling kayak orang sakaw (dalam pandangan saya) sampe lebih dari tengah malam. Saya pun ikut menangis dan sengaja tidak menahan tangis. Saya ingin menunjukkan bahwa Bunda juga merasa sedih dan menangis itu tidak masalah. Saya ulang-ulang bilang ke Kakak: 'Kakak sedih ya? Sedih sekali? Iya? Bunda juga sedih Kak.. Tapi kita harus mendahulukan Allah dari kesedihan kita. Ketika Allah sudah menyebut sesuatu, walaupun itu berat untuk kita, harus kita lakukan dengan sepenuh upaya. Kita harus yakin bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali di dalamnya terdapat berbagai maslahat walaupun kita tidak mengetahuinya secara menyeluruh. Kakak shabar yaa, insyaAllah kita bisa melewati ini bersama..' Terus anak paham gitu? Allohu a'lam, tapi dalam hati kecil saya, saya yakin bahwa anak itu dapat merasakan kesungguhan yang terpancar dari mata, mimik, dan intonasi suara kita. Beberapa kali diulang, tangisan anak mulai mereda. Tidak melengking-lengking, teriak-teriak, dan guling-gulingan. Tapi tinggal tangisan 'pasrah' yang syediiihhhh banget gitu..

Nah, untuk si Adek, saya tidak menggunakan cara itu lagi. Karena saya sendiri merasa sangat terbebani dan kasihan sama anak. Membatasi menyusu sebelum 2 tahun itu yang saya rasakan seperti merenggut hak sebelum waktunya. Seperti memperlama periode kesedihan. Mungkin seperti hewan yang mau disembelih yang melihat proses pisau diasah dan ditenteng-tenteng sama tukang jagal.. wkwkwk..lebai ini. Abaikan.. :D

Saya biarkan saja dia menyusu sebanyak dan selama yang dia mau. Tapi sounding kalimat 2 tahun dan thaat kepada Allah itu yang selalu saya dengungkan ketika menyusui. Ternyata cara ini membuat saya tidak stres berkepanjangan. Saya hanya harus menyiapkan mental pas hari-H-nya saja dan setelahnya. Adek sih jawabnya iya-iya saja sambil senyum pas acara sounding itu. Nah sounding gencar banget saya lakukan diberbagai kesempatan pas di hari terakhir dia boleh menyusu: 'Adek, hari ini hari terakhir Adek boleh menyusu ya. Besok Adek sudah 2 tahun. Kata Allah sudah tidak nenen lagi. Kita thaat ya sama Allah. Biar Allahnya sayang kepada kita. Alhamdulillah, Adek sudah bisa minum dari gelas kan ya, sudah bisa minum apa Dek? jus? susu? air madu? wah..enaakkk ya..'

Terus pas hari H???

Nangis dong.. Tetep.. Sama kayak Kakak. Tapi tidak lebih lama. Mungkin sekitar sejam saja. Saya ulang-ulang kalimat seperti yang saya sampaikan ke Kakak dulu. Sambil ditawarkan apa yang bisa dibantu, mau dipeluk, mau minum dari gelas yang mana, mau digendong, atau mau dielus-elus? Pertamanya sih teriak nenen-nenen saja. Tapi lama-lama minta minum dari gelas dan kemudian minta gendong. Setelah puas digendong dan mengantuk, Adek minta bobo di bantal dan ditepuk-tepuk. Kejadian ini berlangsung sekitar 3-4 hari, dengan frekuensi dan periode kehebohan yang semakin menurun. Dan dihari ketujuh (hari ini), masih suka minta nenen tapi sambil senyum-senyum karena sudah tau jawaban Bunda akan bagaimana.. :D

Kok tega sih? Ya begitulah, karena menyangkut prinsip keluarga kami kali ya. Jadi ya dianggap sebagai fase yang memang harus dilalui. Saya menggunakan momentum ini untuk menanamkan ke anak-anak saya bahwa perintah Allah itu lebih utama untuk diikuti, bukan pertimbangan senang tidak senangnya kita. Bahwa ketika Allah memerintahkan sesuatu, yakin saja bahwa pasti ada kebaikan di dalamnya. Itulah mengapa saya sebut di judul menyapih dengan keyakinan. Yakin akan kebaikan yang dikandungnya, yakin bahwa Allah akan memudahkan, yakin bahwa kami bisa melakukan dengan izin-Nya. Tapi tetap memperhatikan 'cara' ya. Makanya saya tidak menggunakan cara memerahi atau memberi zat pahit ke PD, karena jika saya menggunakan cara itu saya akan kehilangan momen besar untuk menyampaikan pelajaran yang berharga kepada anak yaitu terkait thaat tadi. Anak hanya akan belajar bahwa berhenti menyusu karena menyusu menjadi hal yang menakutkan (yang dimerahi) atau karena rasanya sudah tidak enak lagi. Sayang kan ya?

Terus bonding ke anak jadi berkurang dong? Mungkin iya, tapi bisa jadi tidak juga. Karena baik Kakak maupun Adek, selama proses sapih jadi malah nempel terus ke saya. Hilang sebentar dari mata langsung dicari-cari: 'Bundaaa.. Sayangg..', 'Mana Bunda?', 'Bunda main sini..' Mungkin mereka mau memastikan bahwa berhenti menyusu itu bukan berarti mereka akan kehilangan Bundanya. Bahwa Bundanya tetap menyayangi dan ada untuk mereka. Walaupun dengan cara yang berbeda.

Semoga sapih menyapih ini menjadi menjadi momen yang berharga untuk kita dan anak-anak kita.. Yang semakin mendekatkan kita kepada-Nya.. Yang semakin mengukuhkan iman kita.. Yang membuat hubungan kasih sayang kita dengan anak-anak kita tidak hanya karena ikatan darah dan perihal rasa, tapi ada simpul akidah dan kecintaan kepada Ar-Rahmaan yang semakin menguatkan ikatannya.. Yang semoga menjadi wasilah bagi kekalnya kebersamaan, baik di dunia dan nanti di surga.. InsyaAllah, aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar