PNS fullday, jam
kerja 07.30 – 17.00 WIB.
Tinggal di Jakarta.
Tahun 2012: Menikah.
Tahun 2013: Putri
pertama lahir.
Tahun 2015: Putri
kedua lahir.
Tinggal jauh dari
orang tua dan saudara.
Anak-anak
‘dititipkan’ di daycare.
---
Hidup adalah
sekumpulan dari pilihan-pilihan dimana kita diberikan kebebasan penuh untuk
memilih. But stand still, kita tidak
bisa membebaskan diri dari konsekuensi logis yang menyertai setiap pilihan
kita. Jika konsekuensi itu bisa kita perhitungkan di awal, maka kita tidak akan
kaget dan lebih siap untuk menghadapinya. Bahkan mungkin kita sudah punya
serangkaian rencana untuk memperkecil dampak negatif dari
konsekuensi-konsekuensi itu. Tapi jika konsekuensi itu baru kita sadari setelah
datang, pun itu bertubi-tubi, dan kita tidak mempunyai bekal ilmu yang memadai
sebelumnya, maka abstraksi yang cocok adalah seperti orang yang tidak bisa
berenang (tapi pernah baca-baca sekilas tentang bagaimana cara berenang) di
lempar di tengah sungai yang berarus deras. Jika dia tidak mendapatkan sesuatu
untuk berpegang atau tidak ada orang yang datang untuk menolongnya, maka dia
akan terbawa arus, muncul-tenggelam, lalu hilang.
Hal itu yang saya
rasakan beberapa waktu lalu. Saya seperti orang yang sedang muncul-tenggelam,
menggapai-gapai mencari pertolongan. Ada semangat untuk terus berusaha. Tapi
juga ada rasa sudahlah menyerah saja. Air yang memenuhi setiap rongga sehingga
nafas tinggal satu dua. Hingga, masyaaAlloh.. Di depan sana saya melihat ada
peluang keselamatan. Tapi tentu saja saya harus berusaha dengan keras untuk
meraih peluang itu. Sangat keras mungkin nantinya. Tapi biarlah itu nanti waktu
yang menjawabnya.. Karena sekarang saya masih di titik melihat peluang dan
berusaha menggapainya dengan segala doa, daya, dan upaya.. (semoga ini tidak
hanya indah di tulisan saja).
Okeeyyyy.. saya terlalu
lebay.. :p
Tapi ya ngga masalah
kan ya, orang judulnya curhat.. #beladiri :D
Iyaks, ini tentang
saya. Tentang perasaan saya. Tentang ‘beban’ yang selalu menggelayut dalam
pikiran saya, yang awalnya sepertinya kecil tapi semakin kesini semakin
menenggelamkan saya. Saya menjadi orang yang seperti bukan saya, tidak ada
motivasi untuk melakukan apapun, merasa tidak berguna, membiarkan semuanya
mengalir begitu saja. Hidup saya tidak dalam kontrol saya dalam arti yang
sebenar-benarnya.
Saya berada di
puncak kegalauan internal (karena mungkin orang di sekitar saya menganggap saya
baik-baik saja). Saya tidak bercerita dengan orang tua, teman, dan bahkan
suami, karena perasaan itu sangat abstrak sekali. Saya tidak tahu dan tidak bisa
bagaimana menjelaskannya dalam suatu kalimat yang bisa dipahami oleh orang
lain, tidak tahu mengapanya atau bagaimananya. Jadi saya hanya mencoba
mengabaikan perasaan saya itu dan melarikannya dalam tidur-tidur panjang.
Dan kemudian, Alloh
yang Maha Baik memberi saya waktu luang yang lebih banyak dari pada biasa. Saya
mempunyai waktu untuk mendengar dan menganalisa suara-suara dalam jiwa. Tentang
apa dan mengapa. Lalu tentang bagaimana.
Dari serangkaian
proses mendengarkan curhatan jiwa, ternyata ada beberapa sebab yang membuat
saya berada pada titik nadhir ini:
1.
Tipe orang yang cukup perfeksionis
Saya mempunyai gambaran (walaupun tidak dituangkan dalam
tulisan), tentang harus bagaimana ‘saya’. Contoh kecil adalah terkait amalan
ibadah harian, dimana sebelum menikah saya sudah terbiasa melakukan berbagai
amalan wajib dan sunnah secara konsisten dalam kuantitas yang bisa dibilang
tinggi. Saat sudah menikah, punya anak 1, punya anak 2, waktu saya bukan milik
saya lagi. Jangankan melakukan amalan sunnah, melakukan amalan wajib saja
dengan tenang itu sudah ‘sesuatu’ banget.
Jeleknya saya dengan sikap perfeksionis itu,
target-target yang tidak kesampaian, membuat saya merasa tidak ‘baik’ lagi. Ada
hal dalam diri saya yang digerogoti pelan-pelan. Mencoba terus, tapi yang ada
justru semakin jauh dari target. Hingga akhirnya saya menyerah. Puncaknya
adalah saya sering baru melaksanakan shalat isya’ pada waktu mendekati fajar
(bangun tidur) atau saya kebablasan tidur hingga tidak mendengar adzan shubuh. Astaghfirullah..
Nah dosa-dosa itulah yang sepertinya membelenggu saya
dengan ‘beban’ yang terus-menerus minta dibawa dimanapun dan kapanpun saya berada.
Hati saya menjadi pekat. Jiwa saya menjadi sempit. Pikiran saya menjadi galau.
Lalu bagaimana sekarang? Saya sedang mencoba berdamai
dengan diri saya sendiri. Bahwa dengan melakukan berbagai kesibukan sebagai
istri dan ibu, itu adalah jalan surga saya saat ini. Maka fokus utama yang
sedang saya bangun sekarang adalah:
Prioritas 1 : Membenahi
kembali jadwal shalat saya. Shalat di awal waktu khususnya untuk isya dan
shubuh.
Prioritas 2 : Mereformulasi target ibadah harian.
Disesuaikan dengan kondisi saat ini. Baik jenis maupun kuantitasnya.
2.
Sukar bergerak ke PR lain kalo belum selesai PR
pertama
Ini masih berkait ke amalan yaumiyah ya targetnya jauh
melampaui kemampuan mau dipaksa kayak apa pun (yaiyalah siapa yang bisa ngatur
bayi kapan dia bangun minta nenen atau kapan kakak boleh minta perhatian lebih
atau kapan anak sakit dll). PR target ibadah harian itu membuat saya tidak bisa
fokus di hal lain a.k.a mengerjakan PR-PR lainnya yang begitu banyak. Akhirnya
saya stagnan, diam ditempat, selama ini..
Solusinya ya berarti dengan solusi yang ada di poin satu
itu dulu.
3.
Semangatnya gedhe, ilmu dan pengalamannya kurang
Ya hancurlah dunia persilatan..hehehe.. Betul saya
bersemangat menjadi seorang muslimah shalihah, istri yang tha-at dan
menyenangkan suami, bunda sebagai madrasah utama, warga yang berguna untuk
masyarakat/negara, dan umat yang selalu berjuang untuk menegakkan kalimat-Nya.
Wowww..keren kan ya? Tapiiiiiii...sstt..itu hanya semangatnya doang. Ilmu mah
minimalis. Pengalaman nol putul. Walaupun saya baru tahunya ya setelah tercebur
di dunia per-keluarga-an ini. Miris ya..
Dulunya saya merasa saya dapat melakukan apa saja kok.
Selalu dapat ranking dan beasiswa dari SD sampai SMA. Kuliah gratis dengan IPK cum-laude. Bisa mengatur waktu kuliah, freelance guru les, ikut organisasi A,
B, C; masuk di kepanitiaan X, Y, Z; dengan amalan yaumiyah yg terpegang terus.
Saya merasa bahwa ketika saya menikah semua akan tetap
baik-baik saja atau malah bertambah baik. Karena yang tadinya satu sekarang
dibagi berdua. Saya sudah baca banyak buku untuk bekal berkeluarga, tapi yang
‘ngga enak’ tentang pernikahan saya numpang lewat saja karena merasa hal itu
tidak akan terjadi pada saya dan suami. Tapi duarrrr..ternyata kenyataan itu
tak seindah bayangan saya. Dan saya baru mulai mengubek-ubek segala yang ‘nggak
enak’ pas sudah kejadian. Woalah..mestinya ini saya baca dari dulu..
Iyes. Tentang perbedaan karakter dasar laki-laki dan
perempuan. Tentang hak dan kewajiban suami-istri. Tentang komunikasi pasangan.
Dan tentang..tentang..yang lain sampai perbedaan keinginan di hal-hal teknis
seperti bagaimana cara membunuh kecoa versi kami masing-masing.. hihihi..seru
ya?
Seru mah kalo udah lewat. Kalo pas kejadian mah sakiiittt
banget rasanya.. :D
Solusi untuk poin ini ya hanya satu, BELAJAR TERUS. Dan
yang paling susyah adalah mempraktekkan ilmunya secara konsisten walaupun
sedikit-sedikit.
4.
Selalu melihat ke atas
Ini nih akibat buruk sering blogwalking. Melihat si A yang pinter masak, melihat si B yang
pinter dandan, melihat si C yang parenting-nya
luar biasa, melihat si D yang sudah nemu passion-nya,
melihat si E yang bisa berkebun sendiri untuk konsumsi sehat keuarganya,
melihat si F, G, H dan seterusnya yang masing-masing perfect di bidangnya di mata saya.
Apa salahnya?
Salah saya adalah saya ingin si A, B, C, D, E, F, G, H
dst itu ada dalam diri saya semua dan pada saat ini juga. Boleh kok ketawa ,
silakan saja.. Bwahahaha.. :D Saya
selalu membandingkan hasil usaha saya dengan orang-orang yang sudah perfect tadi. Jadinya saya suka mutung
kasarung karena.. yaa jauhlaah..
Solusi? Pemahaman ke diri saya bahwa semua orang itu
pasti punya minat dan bakatnya sendiri. Mereka cemerlang di hal-hal itu. Tidak mengumpulkan
semua hal dalam satu diri. Kan si A yang pinter masak belum tentu jago dandan
atau bisa menjadi ibu yang menyenangkan untuk anak-anaknya. Begitupun dengan si
B, C, dst. Yang perlu saya cari dan tekuni adalah minat dan bakat saya dimana.
Kemudian fokus kesitu. Atau kalo masih sulit menemukan minat dan bakat, ya saya
mesti fokus belajar untuk dapat memenuhi kewajiban-kewajiban saya dulu. Karena
itu yang akan Alloh mintakan pertanggungjawabannya.
“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma which is living with the results of other people thingking. Don’t let the noise of others opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition” (Steve Jobs)
5.
Kesulitan membuat rencana aksi dari ‘mimpi’
Butuh tempat belajar dan komunitas ini, agar bisa membuat
rencana aksi yang baik, yang sesuai dengan kondisi faktual. Plus ada
tahun-tahunnya. Dan harus bisa dijalankan.
6.
Komunikasi yang sepertinya sangat-sangat buruk
Well.. Saya adalah anak tunggal yang sama Bapak Ibu saya
di-sekarep (terserah) mau ngapain –
dalam arti positif. Setiap ada permasalahan apapun saya tidak pernah
menyampaikan ke beliau berdua. Ngobrol hal-hal yang pribadi, bisa dibilang tidak
pernah. Hal-hal keseharian yang normal-normal saja yang kami obrolkan. Tapi ini
bukan berarti ada ketegangan diantara kami lho ya. Culture keluarga yang saya dapatkan dari kecil ya memang seperti
itu. Ditambah dengan saya memang sangat introvert. Jadi setiap ada masalah ya
saya mencari jalan keluar sendiri. Dan ortu membebaskan saya untuk melakukan
itu.
Akhirnya, terbentuklah saya yang sekarang.. Inginnya
melakukan sesuatu sesuai kepuasan saya sendiri dengan cara saya sendiri, sangat
kesulitan bekerja sama dalam sebuah tim, komunikasi sangat buruk khususnya
lisan (tidak bisa menyampaikan apa yang dirasakan dengan runtut, fokus, dan
baik), langsung grogi ketika ada orang yang mengajak bicara serius, sikap
defensif dan mudah pecah (merasa menjadi pesakitan dan di posisi yang salah)
ketika lawan bicara berkata secara objektif dengan data dan fakta.. Parah kan?
Solusinya, saya belum tahu untuk yang ini. Banyak belajar
dari suami saja. Sedikit demi sedikit..
Eh..eh..udah panjang
banget ternyata curhatnya.. Ampun deh, katanya introvert? -_-“
Eh..eh..udah
panjang banget ternyata curhatnya.. Ampun deh, katanya introvert? -_-“
Dari semua curhatan saya itu, please
janganlah kalian menyimpulkan bahwa saya adalah istri dan ibu yang tidak
bahagia selama ini. Saya bahagia. Bahkan saya merasa bahwa suami dan anak-anak
membuat kebahagiaan saya menjadi lebih sempurna. Lebih utuh. Hal-hal yang
teramat kecil dan remeh saja membuat saya banyak bersyukur. Tapi, ini lebih
pada perasaan bersalah saya kepada suami dan anak-anak. Karena saya tahu, apa
yang saya lakukan selama ini, bukanlah usaha dan versi terbaik diri saya. Saya
sangat mencintai mereka. Dan saya bisa menjadi istri/ibu yang lebih baik lagi
untuk mereka. Dengan apa? Dengan belajar di tempat yang saya rasa tepat dengan
kebutuhan saya saat ini dan berusaha mengamalkannya sedikit-sedikit sesuai
kemampuan..
Ya, saya ikut bergabung di Grup WA Institut Ibu Profesional Batch 2.
Lah kan dirimu working mom?
Emang kenapa, ada masalah? Working
Mom kan juga harus bisa menjadi ratu
rumah tangga yang dicintai dengan sepenuh hati oleh Raja dan warga kerajaan
kecilnya.. Emang kalo wanita yang bekerja di luar, tidak boleh gitu jadi istri
dan ibu yang baik? Hehe..sensi deh jadinya..
Ke depannya insyaAlloh
saya akan menuliskan semua materi yang saya dapatkan dari IIP di blog ini. Juga
hasil nice homework saya kecuali yang sifatnya sangat pribadi. Mohon
do’anya semoga ikhtiar ini akan menjadikan saya mampu menjalankan
kewajiban-kewajiban saya dengan lebih baik lagi. Sehingga saya tidak dihantui
rasa bersalah yang terus-terusan. Bukan untuk menjadi Istri/Ibu yang perfect,
tapi menjadi Istri/Ibu yang baik.. InsyaAlloh.. Bismillahi tawakkaltu
‘alalloh..
~~~
Sumber Gambar:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar