Jumat, 21 Oktober 2016

Nice Home Work #1



 
Sumber: https://sites.google.com/a/cms.k12.nc.us/fike2/Homework--Event-Calendar


I.      Tentukan 1 jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di Universitas kehidupan ini.

Dalam hal ini, saya masih kesulitan untuk mendefinisikan jurusan dan ilmu yang dimaksud dalam pertanyaan ini. Tapi jika boleh dibebaskan, maka saya akan menekuni ilmu tentang bagaimana menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). Ini tentulah jurusan ilmu yang sangat-sangat-sangat luas. Karena dia mencakup sekaligus menjadi muara dari semua cabang ilmu yang sedang coba saya tekuni dalam hidup saya.


II.    Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga menekuni ilmu tersebut?

Alasan terkuatnya adalah saya ingin masuk dalam golongan orang yang mendapatkan Surga dan Ridha Allah serta dapat memandang wajah-Nya, yang hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang bertakwa.

Selain itu karena Allah telah menyebutkan banyaknya keutamaan takwa/orang yang bertakwa, yaitu:

a.    Ukuran kemuliaan manusia

“....Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujuraat : 13)

“Kehidupan di dunia dijadikan lebih indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat. Dan Allah memberikan rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.” (Al Baqarah : 212)



b.    Mendapatkan kecintaan Allah

“Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.(Ali Imran : 76)

c.     Dekat dengan surga

"Sedangkan Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka)." (Qaaf : 31)

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air." (Az-Zariyat : 15)

"Sesungguhnya orang - orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan." (At-Thur: 17)

d.    Kebesertaan Allah

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”  (An Nahl : 128)

e.    Mendapatkan pengajaran dari Allah

"...Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah : 282)

f.     Mendapatkan perlindungan Allah

“Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikitpun dari (azab) Allah. Dan sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain, sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jasiyah: 19)

g.    Mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (Al-A`raf: 96)

h.    Mendapatkan bekal dunia dan bekal akhirat

"Berbekalah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Al-Baqarah: 197)

i.      Syarat diterimanya amal

"Dia (Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa." (Al Maidah: 27)

j.      Dibukakan jalan keluar

“...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (At-Thalaq: 2)

 


k.    Diberikan rezeki dari arah yang tak disangka

“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya...” (At-Thalaq: 3)

l.      Urusannya dipermudah

"...Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (At-Thalaq: 4)

III.    Bagaimana strategi menuntut Ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

Sangat sulit menjabarkan strategi menuntut ilmu dalam hal ini. Dikarenakan cakupannya sangat luas, di seluruh sendi kehidupan saya dan periodenya sampai saya mati. Namun, akan saya coba semampu saya.

Sebelum masuk ke strategi menuntut ilmu ‘menjadi orang bertakwa’, maka penting untuk mengetahui terlebih dahulu karakteristik orang yang bertakwa menurut al-Quran:

a.    Selalu berhati-hati dalam setiap tindakan karena takut akan azab Allah
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Al-Furqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan  (tibanya) hari kiamat.” (Al-Anbiya’: 48-49)

Berhati-hati dalam setiap tindakan, berarti kita harus mempunyai dasar ilmu atas setiap tindakan yang akan kita lakukan. Apa saja. Tindakan kita sebagai hamba Allah, tindakan kita sebagai istri, tindakan kita sebagai ibu, tindakan kita sebagai anak, tindakan kita sebagai warga masyarakat dan seterusnya.

Misal sebagai hamba Allah berarti kita harus mempunyai ilmu agar benar dalam akidah dan ibadah. Sebagai istri kita harus mempunyai ilmu tentang kewajiban dan hak kita, dimana akan bercabang pada ilmu manajemen kasur, manajemen dapur, manajemen sumur, manajemen keuangan, komunikasi pasangan dan seterusnya. Dalam hal manajemen dapur pun akan memerlukan cabang ilmu yang lain misal membuat masakan yang enak, membuat masakan yang sehat (tanpa bahan-bahan adiktif sintesis), membuat masakan yang terukur kandungan gizinya, membuat masakan dengan bahan-bahan organik, atau jika dilanjutkan bisa sampai membuat masakan dengan hasil kebun organik sendiri. Belum lagi di tugas kita sebagai ibu, anak, warga. Dan seterusnya, dan seterusnya..

Disini kita dituntut untuk bisa mengurutkan prioritas atas kegiatan-kegiatan kita. Harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita tentu saja. Dan ini sangat sulit. Sangat-sangat sulit. Tapi menantang dan layak untuk dipelajari terus.. J

b.    Tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Qashash: 83)

Tidak berbuat kerusakan di muka bumi, dalam benak saya sesuai kapasitas saya selaku ratu rumah adalah dengan kita memastikan bahwa keluarga kita tidak memakai bahan-bahan yang dapat ‘menyakiti’ bumi. Sedikit demi sedikit mengganti bahan kimia sintetis dengan bahan-bahan alami, melakukan pendaur-ulangan sampah, mempunyai kebun hijau dan lain sebagainya.

c.     Bersegera memohon ampunan  bila berbuat dosa dan mudah meminta maaf kepada sesama manusia
d.    Mau berinfaq/sedekah dalam keadaan lapang maupun sempit
e.    Bisa menahan amarah
f.     Memaafkan kesalahan orang lain
g.    Senantiasa berbuat baik
h.    Tidak meneruskan perbuatan keji setelah bertaubat

Poin c – h di atas berdasarkan pada surat Ali ‘Imran: 133 – 135:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi  diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran : 133 – 135)

i.      Beriman pada rukun iman
j.      Bersedekah harta
k.    Melaksanakan shalat dan zakat
l.      Menepati janji
m.  Bersabar dalam cobaan

Poin i – m di atas berdasarkan pada surat Al-Baqarah: 177, sebagai berikut:

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebijakan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Berdasarkan karakteristik muttaqin di atas ~dimana saya harus mengusahakan agar sebanyak mungkin poin-poin tersebut berkumpul pada diri saya agar saya dapat mencapai gelar takwa~, strategi menuntut ilmu yang akan saya lakukan adalah:

1.         Poin c – m :
1.1.    Menghadiri majelis ta’lim baik offline maupun online, serta membaca buku/artikel terkait.
1.2.    Menempelkan poin-poin itu ditempat yang bisa saya baca sesering mungkin, sehingga saya akan selalu ingat.

2.         Poin b :
Saya bisa mengikuti komunitas-komunitas seperti Limbah Rumah Bersih, Urban Farming, Bank Sampah atau yang lainnya yang terkait (saat ini, prioritas belum kesini. One by one.)

3.         Poin a :
Karena poin ini menyangkut semua hal dalam hidup saya, saya belum mampu menyusunnya sekarang. Namun, prioritas saya yang utama saat ini adalah dengan memperbaiki ibadah saya kepada Allah yaitu dengan membuat target amalan harian dan melakukan evaluasi pada periode tertentu. Selanjutnya, bergabung mengikuti Institut Ibu Profesional dengan tujuan agar saya memiliki ilmu tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang istri atau ibu yang baik dan benar itu, atau bahasa mudahnya saya tahu posisi diri saya dengan benar dan dapat menempatkan diri dengan benar pula, khususnya di lingkungan keluarga. Tentu saja tidak hanya sebatas tahu, tapi saya sungguh-sungguh berharap agar komunitas ini dapat membantu saya untuk menerapkan ilmu-ilmu yang didapat secara konsisten dalam hidup saya.

IV.   Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu itu?

Secara umum, saya telah mengetahui adab menuntut ilmu sebelum mengikuti Kelas Matrikulasi IIP ini. Namun, ternyata masih juga banyak hal-hal yang tidak saya lakukan selama ini. Alhamdulillah, diingatkan kembali. Yang paling mendapat perhatian saya adalah:

1.    Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu. Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

Usahanya:
Mohon izin dan mohon bantuan kepada suami untuk setiap ada kuliah online IIP, saya bisa menyendiri dulu. Anak-anak dipegang beliaunya. Konsekuensi dari saya adalah: anak-anak sudah makan malam sebelum jam 8, kakak sudah baca iqra, dan saya sudah melaksanakan shalat isya’.

2.    Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali, dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama

Usahanya:
Menuliskan ulang setiap materi kuliah IIP, tanya jawab, dan nice home work pada blog pribadi.

3.    Tidak meletakkan sembarangan dalam memperlakukan sumber ilmu yang berbentuk buku ketika sedang kita pelajari.

Usahanya:
Meletakkan buku pada rak buku ketika harus break membaca karena ada hal-hal yang harus diutamakan terlebih dahulu (misal anak ngajak bermain, suami ngajak ngobrol dll).


~~~

Sumber : http://www.zawaj.com/askbilqis/havent-got-anything-from-i-asked/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar