Source: http://kotasunnah.blogspot.co.id/2015/08/belajar-adab-sebelum-ilmu.html
Bismillahirrahmaanirrahim
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menerangkan tentang Islam, termasuk di dalamnya
masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan
akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang
mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.
Berikut
diantara adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu
syar’i:
Pertama: Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu
Dalam
menuntut ilmu kita harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang tidak
akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika ia tidak ikhlas karena Allah. “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:5)
Orang yang
menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah termasuk orang yang pertama
kali dipanaskan api neraka untuknya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya
ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya
melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat
harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)
Kedua: Rajin
berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat
Hendaknya
setiap penuntut ilmu senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala
dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa
butuh kepadaNya.
Rasulallah shallallahu
‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk selalu memohon ilmu yang
bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya dari ilmu yang
tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang justru mempelajari ilmu yang
tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam, ilmu hukum
sekuler, dan lainnya.
Ketiga: Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu
Dalam
menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu
bermalas-malasan dalam mencarinya. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat
dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam barsabda, “Dua orang yang rakus yang tidak pernah
kenyang yaitu: (1) Orang yang rakus terhadap
ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) Orang yang rakus terhadap dunia
dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)
Keempat: Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Seseorang
terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan
maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat,
bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa Allah Ta’ala.
Kelima: Tidak
boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Sombong dan
malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu
masih ada dalam dirinya.
Imam Mujahid
mengatakan, “Dua orang yang tidak belajar
ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)
Ke-enam: Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru
Allah Ta’ala
berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada
hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa
yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk
oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS.
Az-Zumar: 17-18)
Ketujuh: Diam ketika pelajaran disampaikan
Ketika
belajar dan mengkaji ilmu syar’i, tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat
tanpa ada keperluan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang
disampaikan (tidak boleh ngobrol). Allah Ta’ala berfirman, “...dan
apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat
rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)
Kedelapan: Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan
Kiat
memahami pelajaran yang disampaikan: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan
guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalaman.
Bersungguh-sungguh untuk mengikat (mencatat) faedah-faedah pelajaran, tidak
banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada
banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai
dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Kesembilan: Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga
Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian
ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa
fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).
Dalam hadits
tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala
agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami,
menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka kita pun diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber
dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesepuluh: Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan
Ketika
belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id
(faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama,
atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau
gurunya. Agar ilmu yang disampaikannya tidak hilang dan terus tertancap dalam
ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu
‘Abdil Barr)
Source : https://mandauqolam.wordpress.com/2012/02/
Kesebelas: Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari
Menuntut
ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang
agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa
kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian,
barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia
diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan
kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan
ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar
dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)
Kedua belas: Berusaha mendakwahkan ilmu
Objek dakwah
yang paling utama adalah keluarga dan kerabat kita, Allah Ta’ala
berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada
Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6).
Hal yang harus diperhatikan oleh penuntut ilmu,
apabila dakwah mengajak manusia ke jalan Allah merupakan kedudukan yang mulia
dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan
ilmu. Dengan ilmu, seorang dapat berdakwah dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan
demi sempurnannya dakwah, ilmu itu harus dicapai sampai batas usaha yang
maksimal. Syarat dakwah:
1.
Aqidah yang
benar.
Seorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran
‘aqidah Salaf tentang Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta
semua yang berkaitan dengan masalah ‘aqidah dan iman.
2.
Manhajnya
benar.
Memahami Al-quran dan As-sunnah sesuai dengan
pemahaman Salafush Shalih.
3.
Beramal
dengan benar.
Semata-mata ikhlas karena Allah dan ittiba’
(mengikuti) contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak
mengadakan bid’ah, baik dalam i’tiqad (keyakinan), perbuatan, atau perkataan.
http://ocinqh.blogspot.co.id/2014_09_01_archive.html
[Zulfa Sinta
Filavati]
Referensi:
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Adab & Akhlak Penuntut Ilmu karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas
——————————————————————————–
~~~
Disclaimer:
1. Disalin secara utuh dari sumber. Namun
demikian, dikarenakan pas dibaca ada penempatan tanda baca yang menurut hemat
saya kurang pas, jadi saya pindah, hilang, atau tambahkan tanda baca yang
sesuai. Semoga tidak mengubah makna yang ingin disampaikan oleh penulis
pertama.
2. Gambar bukan dari sumber tulisan, saya
tambahkan untuk kepentingan saya sendiri. Agar tidak bosan dalam membaca.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar