Jumat, 21 Oktober 2016

Adab Menuntut Ilmu (Tanya Jawab)



1.    Q   :     Apakah etika tanya jawab pada saat matrikulasi pun diatur atau mengalir saja pada saat ada penjelasan? Apakah adab belajar ini juga masuk pada ranah evaluasi pembelajaran dan sejauh mana kiranya peserta mengikutinya? (Rita Harits)

A   :     Di dalam kelas matrikulasi kita belajar bersama. Dalam belajar bersama, maka bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Tentunya untuk kenyamanan bersama secara teknis akan lebih nyaman jika diatur terutama saat diskusi materi agar tidak terlewat.

            Menuntut ilmu dilakukan hingga liang lahat, jadi ini hanyalah sedikit bekal untuk kita menimba ilmu yang lebih luas lagi.

            Evaluasi untuk pembelajaran akan dilihat dalam setiap NHW yang dikumpulkan setiap minggunya. Ilmu akan semakin lekat jika dituliskan.

~


2.    Q   :     Saya saat ini mengajar privat. Selama mengajar, anak-anak sering curhat tentang bagaimana gurunya. Sikap gurunya kurang pas dengan profesi mulianya itu. Bagaimana cara mengajarkan adab kepada guru tersebut? (Nurbaiti)

A   :     Anak adalah peniru ulung, terutama pada usia di bawah 7 tahun. Saat mendapati anak yang mengeluhkan sikap gurunya, maka ajaklah anak untuk mengevaluasi apakah menurutnya hal tersebut baik dilakukan atau tidak.

            Jika kita yang menemukan pengajar yang kurang baik untuk dicontoh, maka dekatilah. Ajak melakukan evaluasi dan berikan contoh nyata. Lakukan pendekatan yang tidak akan membuat orang tersebut merasa dipermalukan atau direndahkan.

~

3.    Q   :     Bagaimana adab dalam mempelajari ilmu, apakah mempelajari fokus satu ilmu sampai mendalam dan menjadi ahli baru mempelajari ilmu lainnya? Atau mempelajari beberapa ilmu sekaligus, namun hanya mengerti dasar-dasarnya? (Nina Anggita)

A   :     Ilmu di muka bumi sangatlah luas. Untuk memahaminya perlu dikunyah sedikit demi sedikit. Seperti saat kita dibombardir dengan banyaknya informasi. Informasi yang masuk biasanya hanya sepintas lalu. Materi lebih baik dipahami sedikit demi sedikit, namun pemahamannya bisa mendalam.

~

4.    Q   :     Bagaimana seharusnya sikap dan kiat-kiat seorang guru agar selalu bisa dihormati, dihargai, dan didengarkan, di tengah peradaban yang semakin tidak kenal sopan santun? Miris melihat berita ada murid memukul/melukai guru. Pendekatan seperti apa yang harus dilakukan guru agar lebih ‘menyatu’ dengan muridnya?

Bolehkah memberi hadiah (dalam bentuk barang) kepada guru sebagai ucapan terima kasih pada saat kenaikan kelas? (Ayu)

A   :     Guru ataupun orang tua adalah teladan pertama bagi anak-anak kita. Anak-anak mungkin seperti tidak mendengarkan ucapan kita, namun mereka sesungguhnya merekam setiap kejadian yang dialami. Anak-anak adalah peniru ulung. Luangkan waktu untuk evaluasi bersama antara guru dan murid.

            Memberikan tanda terima kasih kepada guru adalah bentuk penghormatan kita akan ilmu yang sudah kita terima. Bentuknya bisa bermacam-macam. Utamanya adalah dengan kita menghormati guru, maka diharapkan guru akan ridha dengan ilmu yang diajarkannya.

 ~

5.    Q   :     Terkait dengan poin ‘adab terhadap sumber ilmu’, salah satunya adalah kita harus bersikap sceptical thinking, mohon penjelasan detailnya seperti apa? (Efiaty)

A   :     Sumber ilmu atau informasi sangat banyak, namun informasi mana yang harus kita yakini, perlu dicari tahu. Tidak serta merta menelan semua gempuran informasi. Cari sumbernya, tabayun terlebih dahulu. Pun dalam menyebarkan ilmu, kita harus punya sumber yang jelas.

~

6.    Q   :     Bagaimana adabnya kalau bertanya dalam majelis ilmu nanti? (Dila)

A   :     Adab menimba ilmu secara umum sama. Sebagai contoh di kelas matrikulasi ini, teman-teman akan diajak untuk mencerna materi bersama-sama. Saling tolong menolong dalam kebaikan. Untuk kenyamanan bersama, telah dibuat aturan bagaimana alur berjalannya diskusi yang harus ditaati bersama.

~

7.    Q   :     Bagaimana caranya mengajarkan dan menanamkan adab menuntut ilmu kepada anak yang masih balita? Bagaimana cara berkomunikasi kepada anak yang masih berumur 2-3,5 tahun untuk menanamkan adab tersebut? (Nastaiena)

A   :     Sudah terjawab di nomor 4.

~

8.    Q   :     Kadang kita suka berbagi ilmu yang kita punya, tapi suka lupa mencantumkan sumbernya. Bagaimana sebaiknya?

Jika kita bertemu dengan teman yang hebat kemudian kita bertanya kepadanya untuk diajarkan, tetapi yang bersangkutan setengah-setengah dalam menyampaikan informasi. Kemudian saya meminta siapa gurunya agar mendapatkan ilmu yang sama, tetapi yang bersangkutan tidak mau memberi tahu, bagaimana saya harus bersikap? (Tiny)

A   :     Penyebaran info perlu disertai sumber. Agar ketika nanti menyebar luas, penerima info dapat tabayyun ke sumber ilmu. Selain itu juga untuk menunjukkan penghargaan kita kepada guru/penulis info.

            Sebaiknya kita mencari komunitas yang memiliki value yang sama, sehingga pola belajarnya sama. Jika value belajarnya berbeda, akan lebih ahsan jika ditanyakan terlebih dahulu apakah sumber ilmu bersedia berbagi info. Jika sedari awal sudah tidak bersedia, berarti tugas kita untuk mencari sumber ilmu lainnya.

 ~

9.    Q   :     Bagaimana cara atau kiat-kiat apa saja yang bisa dilakukan oleh para penuntut ilmu agar ilmu yang didapat bisa diterapkan/diamalkan? (Aini)

A   :     Kiatnya: praktek, praktek, praktek! Sedikit demi sedikit dan konsisten.

~

10.  Q  :    Saya masih belum paham terhadap poin 1 dan 2 dalam materi. Selanjutnya, Jika kita melihat ada yang tidak kita sukai dari guru (sikap membanding-bandingkan), apa yang harus dilakukan? (Febry)

 A  :     Poin 1, contoh paling mudahnya adalah kitab Al-Quran. Saat kita mengambil ilmu dari Al-Quran, kita sadar bahwa Al-Quran harus diletakkan di tempat yang tinggi (ditinggikan). Poin 2, contohnya adalah menggunakan referensi dari sumber bajakan. Lebih baik menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku asli daripada membeli bajakannya. Ilmu memang mahal dan itulah salah satu cara meraihnya.

            Untuk pertanyaan selanjutnya, apakah kita pernah memberikan feed back yang membangun? Berikan masukan kepada guru secara personal dan lakukan dengan tidak merendahkan guru tersebut.

~

11.  Q  :    Bagaimana jika kita tidak hanya belajar pada satu guru, dan diantara para guru tersebut ada perbedaan pendapat? Apakah kita harus memilih salah satu dari guru tersebut, atau kita tetap bisa belajar dari keduanya sambil menyaring sendiri ilmu mana yang mau diambil dari masing-masing guru? Bolehkah kita meluruskan ajaran guru yang satu dengan yang lain?(Sari)

 A  :     Mungkin contoh paling dekatnya di ajaran agama islam adalah adanya beberapa imam yang mazhabnya berbeda-beda. Selaam perbedaan ilmunya tidak melanggar sumber ilmu utama (Al-Quran dan Al-Hadist), maka semuanya layak dipelajari. Berbeda boleh, tapi membandingkan tidak akan bisa apple to apple. Maka ilmu mana yang diyakini, itulah yang dijalankan secara konsisten.

~

12.  Q  :    Adab terhadap sumber ilmu salah satunya adalah tidak membeli buku bajakan. Bagaimana kita menyikapinya karena di satu sisi penjualan buku bajakan dilakukan secara online? Karena harga buku bajakan jauh lebih murah dibandingkan buku asli apalagi untukbuku-buku science. (Widya)

 A  :      Lebih baik menabung dulu untuk membeli yang asli.

~
     
13.  Q  :    Kapan saat yang tepat menularkan adab menuntut ilmu kepada anak-anak? Usia masuk sekolah atau mulai balita? Bagaimana peran suami dalam menularkan adab ini kepada anak-anak? (Poppy)

 A  :     Adab menuntut ilmu dikenalkan sedari kecil dengan memberikan contoh. Ingat, anak adalah peniru yang ulung. Dengan melihat orangtuanya, maka lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik.

            Rasanya ini tugas semua orang dewasa di sekitar anak-anak kita. Ayah dan Bunda pasti menjadi teladan utama anak-anak.

~

14.  Q  :     Bagaimana adab yang baik terhadap sumber ilmu berupa artikel media online? (Widya)

 A  :     Tuliskan sumbernya saat disebarkan. Tabayun dengan isi artikelnya.

~

15.  Q  :    Pembuat Materi Adab Menuntut Ilmu IIP ini siapa? Apakah adab menuntut ilmu di forum/komunitas lain sama dengan yang di sini? Selanjutnya, untuk menentukan adab/value di keluarga kita, apakah kita bermusyawarah dulu atau ada referensi yang baku?

Dalam mengajarkan adab menuntut ilmu pada anak-anak, jika kita menanamkan sikap menerima sepenuhnya ilmu dari guru, sebagian berpendapat anak-anak akan menjadi tidak kritis dan tidak kreatif dalam mencari ilmu. Sebaiknya bagaimana sikap kita? (Sari)

       A   :   Referensinya:
-  Turnomo Raharjo, Literasi Media dan Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
-  Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm.5.
-  Muhammad bin Sholeh, Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015.

Anak-anak menyerap ilmu seperti spons. Terkadang yang terlupakan adalah membimbing anak untuk menimbang baik buruknya dari ilmu yang didapat. Disinilah peran kita sebagai orang tua untuk mengasah skeptis anak dalam mengolah informasi.

~
               
16.  Q  :    Menuntut ilmu adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Beda perilaku dan tingkah laku apa? (Ratna)

 A  :     Tingkah laku adalah tindakan suatu organism yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari (ribert Kwick, 1974). Sedangkan secara umum, perilaku manusia pada hakikatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup. Tingkah laku adalah tindakannya, perilaku adalah proses interaksinya. Sumber: Agustina Dwi Herawati, Perkembangan Psikologi.

~

17.  Q  :     Bagaimana adab menuntut ilmu untuk anak berkebutuhan khusus? Karena mereka bukan sengaja untuk tidak hormat, namun ada hal-hal lain seperti tantrum ataupun kesulitan lainnya dalam mereka menerapkan adab sebagaimana anak normal? (Fina)

 A  :     Menularkan adab setahap demi setahap disesuaikan dengan perkembangannya. Ada seorang ibu yang bisa mendampingi ABK hingga berperan layaknya anak normal. Bahkan, secara perasaan, mereka bisa lebih mendalam.

~

18.  Q  :    Jika suatu informasi benar (bukan hoax), bolehkah kitra sebarkan? Misal: ART yang suka mencuri, pegawai swalayan yang mesum dll. Dilema juga, karena manusia kan bisa bertaubat dan tidak mengulangi perbuatannya. Sementara kalau sudah tersebar di medsos itu akan abadi, bisa diakses kapanpun. (Titin)

 A  :     Ada beberapa hal yang perlu kita kuatkan dalam penerimaan dan penyebarab sebuah tulisan di sosmed:

(1).   Ketemu tulisan isinya baik -> Cari sumbernya -> Cantumkan sumber -> Share -> Masuk Kategori Berita Baik dan Benar.

(2).   Ketemu tulisan isinya baik -> Cari sumbernya -> Tidak ketemu sumber -> Don’t share -> Masuk Kategori Berita Baik Belum Tentu Benar.

Yang paling aman adalah menulis cerita sendiri berdasar pengalaman. Hal ini menjadi info sangat valid karena kitalah yang mengalaminya, sehingga tidak terbantahkan.


Septi Peni Wulandani
Resume Tanya Jawab Matrikulasi Ibu Profesional  #1
---

Disclaimer:
Saya menulis ulang, dimana ada beberapa pertanyaan yang saya ambil langsung ke fokus pertanyaannya. Tidak menuliskan secara utuh karena saya anggap kurang relevan atau tidak dicantumkan pun tidak menghilangkan esensi dari pertanyaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar