Selasa, 26 September 2017

Day 13: Cerdas Finansial

[ANTARA KEINGINAN DAN KEBUTUHAN]

Tema ini mah sebenarnya masih perlu untuk Bundanya. Kadang perang pemikiran antara INGIN atau BUTUH ini sering kali jadi blur di praktiknya. Misalnya saja di satu tema : beli kompor. Diperdalam lagi dengan kompor gas atau kompor minyak? Alasan masing-masing apa? Yakin mampu merawat dan membersihkannya? Akan sering digunakan bila beli yang mana? Jika sudah dapat pilihan misal 'Kompor gas karena lebih mudah menggunakannya, lebih bersih di perabotan, lebih mudah perawatan sehingga tidak malas memasak karena tinggal ceklik..ceklik." Terus tapi lari lagi ke yang satu tatakan apa 2 tatakan? Yang 2 tatakan nampak lebih manis-manis lho ditaruh didapur. Merk ini yang harganya sekian kali lebih mahal desainnya oke punya jika dibandingkan dengan merk-merk lain yang harganya murah. Dan akhirnya jreng..jreng..jreng..beli lah kompor gas 2 tatakan dengan harga yang agak tinggi terus tapi ternyata... Tetep jarang masak.. Hahahahaha..

Itu pengalaman saya dulu, dimana logika telah dikalahkan dengan telak oleh perasaan. Mungkin begitulah wanita diciptakan, perhitungan-perhitungan logika sudah di list dan dipikirkan matang-matang tapi reality-nya yang dibeli adalah yang sesuai dengan pilihan perasaan wkwkwk..

Nah pas pindah ke Banda Aceh ini, akhirnya atas paksaan kuat Pak Suami kita beli kompor minyak saja. Ternyata, jumlah memasaknya juga tidak lebih jarang dari pada waktu pakai kompor gas. Kesimpulan yang saya dapat adalah alat itu ya hanya alat, tujuan hanya akan tercapai ketika kita memaksa diri kita sendiri untuk menggunakannya sesuai tujuan awal kita. Tuh nyatanya Ibu-Ibu jaman dulu yang pakai kayu bakar tak ada kata beli makan di luar. Masak terus untuk keluarganya yang jumlahnya pasti berlipat dari keluarga kecil kita sekarang.

Jadi biar tidak seperti Emaknya yang sering pakai perasaan alias berdasar keinginan dalam membeli, kami berusaha mengajarkan ke anak-anak untuk berfikir lebih jauh tentang yang diminta. Ingin atau butuh?

Dulu sih Kakak jadi sering tantrum aka nangis kenceng-kenceng dan lama. Ngga mau digendong, ngga mau diapa-apain ketika lagi minta sesuatu dan tidak kami belikan dengan alasan-alasan tertentu. Seringnya sih mainan-mainan. Kami memang membatasi sekali membeli mainan untuk mereka. Sampai dengan usia Kakak yang 4 tahunan ini, bisa dihitung saya hanya pernah membelikan gigitan bayi,balon yang berbentuk pesawat, boneka anak-anak dan bath up-nya (untuk latihan Kakak pas mau lahiran Adek, agar tau apa yang harus dilakukan dengan adek bayi), 1 set permainan masak-masakan, papan tulis magnetis, sepatu roda, dan sepeda. Jika dia mau boneka-boneka atau mobil-mobilan dan lain-lain semacamnya, kami akan sepakat bilang tidak. Kami akan tanya bermanfaat tidak? Manfaatnya apa? kemudian kami pilihkan alternatif permainan lainnya yang bisa jadi cukup dengan alat-alat yang ada di rumah.

Bukan pelit. Tapi kami ingin membentuk karakter anak saja. Biar ketika dia punya uang pun, dia bisa memilah-milah mana yang benar-benar dia butuhkan dan bermanfaat bagi dia. Bukan hanya asal punya uang bisa beli semau-maunya. Untuk buku, jika kami rasa kami membutuhkannya untuk membentuk karakter anak-anak, maka buku yang dibilang mahal-pun tetap kami beli.

Alhamdulillah, Kakak sudah mulai mudah mengerti terkait kebijakan ini. Jadi kalo menginginkan sesuatu, terus ketika ditanya manfaatnya apa dia tidak menemukan jawabannya maka dia akan segera bilang: "Ngga usah deh Bun. Kakak ngga mau. Ngga bermanfaat."

Dan untuk Adek jadi agak mudah, karena dia akan cenderung ngikut aja sama Kakaknya. Jadi kalo Kakak sudah bilang:"Tidak usah Dek, itu tidak bermanfaat", si Adek akan menjawab 'Alaahhhh' dengan logatnya yang khas tapi tanpa memaksa dengan tangisan atau tantrum yang berkelanjutan. Ya kecuali untuk hal-hal yang bagi dia tidak bisa ditawar kali ya, tetep ada tantrumnya. Tapi so far lebih mudah lah, dan tidak sering..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar