Selasa, 28 Februari 2017

Day 5: Melatih Kemandirian

Hwaduh, tantangan 10 hari itu benar-benar terasa sebagai tantangan beneran. Bagaimana tidak, ibaratnya kita disuruh berani malu didepan khalayak. Ya seperti saya yang ingin melatih kemandirian bangun pagi sendiri tanpa mengandalkan dibangunkan suami, ternyata itu syulit. Padahal Bunda-Bunda lain sudah terbiasa bangun bahkan jauh lebih awal dari target saya. Seperti membuka aib gitu yaa.. ;p

Tapi demi kondisi diri yang lebih baik kedepannya, biarlah luluhlantaknya terekspose sekarang. Semoga dari rasa malu menjadi cambuk untuk segera berbenah. Eh tapi belum merasa malu juga, gimana dongggg.. 

Senin, 27 Februari 2017

Day 4: Melatih Kemandirian


Sudah hari ke-empat ni.. Anak-anak progressnya menggembirakan. Tapi Bundanya, masih menyedihkan.. ;(

Bunda:

Bunda bangun kok jam 4 kurang. Tapi seperti biasa, saat Bunda mulai beringsut, si Adek langsung kerasa dan mulai teriak 'Nenen..nenen..'. Jadi Bunda kembali berbaring lagi. Eits..tapi kali ini Bunda ngga ketiduran lho yaa.. Mikir apa-apa yang mau dikerjakan habis ini. Apalagi ini Hari Senin, yang berarti harus memboyong anak-anak lagi ke kantor..

Minggu, 26 Februari 2017

Day 3: Melatih Kemandirian

Wah, sudah hampir setengah pekan ya.. Lalu apa progress latihan kemandirian di hari ketiga ini?

Bunda:

Masih seperti hasil kemarin dan kemarinnya lagi, Bunda belum bisa mencapai target bangun pagi sesuai kontrak. Sudah bangun sih, tapi memilih tidur lagi. Motivasinya belum ada. Apa karena ngga tau mesti ngapain setelah bangun? Karena sedang ngga shalat, belum ada sayuran/bakal lauk yang bisa diolah sepagi ini, rumah juga sudah dibersihkan malam harinya? Bisa jadi..

Sabtu, 25 Februari 2017

Day 2: Melatih Kemandirian



Laporan hari kedua, kasih senyum dulu aahhh.. ^^

Bunda:

Tidak dengar bunyi alarm, tapi Adek terbangun minta nenen. Kira-kira masih jam 4 kurang karena belum ada suara-suara dari masjid sekitar. Yang kedengeran adalah suara bacaan Ayah yang sedang shalat. Terus karena Adek ngga lepas-lepas nenennya, akhirnya si Bunda ikut kembali terlelap. Bangun-bangun sudah jam...7..!!! Rekor. Mumpung libur. Mumpung anak belum bangun. Mumpung sedang haid.. Mumpung ada alasan.. #ups..

Jumat, 24 Februari 2017

Saudara Saling Sayang #1



Adek: "Mauuuu..mauuuuu.." sambil menunjuk buah naga

Kakak: "Apa dek? Oh.. Adek mau buah naga? Iya?"

Adek: "Iya.. Ndoook.." (baca: sendok)

Kakak: "Kakak suapin ya Dek.. Boleh Bun?" tanya Kakak

Bunda: "Boleh banget Kak.." (senyum paling manis)

Kakak: "Ini Dek.." (suapan pertama, Adek sigap membuka mulutnya)

Day1: Kemandirian

Laporan Hari Pertama

Bunda:

Jam setengah 4 sudah bangun karena dengar alarm. Pas sudah siap-siap mau bangun, Adek memanggil "Nenen..nenen...". Akhirnya nggelosor lagi dan baru bangun beneran jam 04.45. Ini karena sedang tidak shalat juga sih.. Ahahahai..

Hari pertama untuk Bunda: Gagal! T.T

Kamis, 23 Februari 2017

Day 0: Skill yang Dikontrakkan

Untuk dapat mengerjakan T10H dengan tema kemandirian ini, maka saya harus melihat usia, ketertarikan, dan kemudian menentukan prioritas. Khususnya untuk anak-anak. Karena tujuan dari kemandirian ini adalah agar mereka bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, sesuai dengan rentang usianya, yang dijiwai oleh curiosity. Jadi tidak boleh ada perasaan tertekan/paksaan. Tidak boleh ada pembandingan: "Si A sudah bisa waktu umur segini, kenapa kamu belum?". Tidak boleh ada ketergesaan. Karena setiap anak itu punya ketertarikannya masing-masing. Temani mereka, semangati mereka, dan apresiasi sewajarnya. Saya harus bisa menjadi mentor sekaligus teman yang menyenangkan bagi mereka untuk menyelesaikan tantangan ini. Yang perlu ditekankan dalam hati saya sendiri adalah bahwa kemandirian ini untuk mereka. Iya, mereka. Bukan saya. Bukan agar saya sedikit berkurang sedikit rasa capeknya. Bukan, ya Bunda.. ^^

Selasa, 21 Februari 2017

Tantangan 10 Hari: Apresiasi Kemandirian

๐Ÿ€ Game Level 2

(Periode 23 Feb - 11 Maret 2017)

Dalam tantangan 10 hari di materi kemandirian  kali ini, kita akan memberikan apresiasi kemandirian dalam beberapa kategori yaitu:
๐Ÿ‘ช Bagi anda yang sudah memiliki putra/i

๐Ÿ’‘Bagi anda yang ingin melatih kemandirian berdua dengan pasangan karena di rumah belum ada anak-anak, atau berjauhan dengan anak.

๐Ÿ™‹Dan Bagi anda yang masih single.

Tanya Jawab : Materi Kemandirian Anak


1. Bunda Rita Lestari:
Putri saya yg pertama (3y10m) sudah sejak dari 2 tahun bisa melakukan keperluannya sendiri misal mandi, pakai baju, makan, ngepel tumpah2an, buang sampah ditempatnya, sudah berhasil toilet training. Dan excited dalam melakukannya tanpa paksaan dr saya. Tp sejak usia hampir 3,5 tahun, justru malah mulai sering minta disuapi, dimandikan, bahkan kalo malam jadi sering ngompol. Selama ini saya mengatasinya dengan menjawab dulu bahwa kakak kan sudah besar, sudah bisa melakukan ini sendiri kan? Kalo anaknya tidak mau beranjak jg melakukan, akan saya lanjutkan: 'oke, kali ini Bunda bantu ya. Tp bsk kakak melakukan sendiri yaa.'
Krn saya pikir wajar, mungkin kakak butuh bukti bahwa Bundanya masih sayang dia. Tp akhirnya, jadi sering begitu.
Apakah treatment yg sy lakukan trdapat kesalahan? Sebaiknya seperti apa untuk kedepannya?

Materi 2: Melatih Kemandirian Anak


_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Sabtu, 18 Februari 2017

Aliran Rasa: Komunikasi Produktif

Komunikasi adalah hal primer dalam kehidupan. Dia default menyertai kehidupan manusia, bahkan semenjak manusia masih berada dalam rahim Bunda. Komunikasi tidak melulu tentang konsep berbicara menggunakan lisan, tapi ianya bisa dituturkan lewat belaian, aura jiwa yang memancar, pun bahkan lewat doa-doa yang dipanjatkan.

Pun bahkan lebih dalam lagi, ternyata kita sudah diajarkan berkomunikasi oleh Rabbul Izzatiy sejak dalam alam ruh. Yaitu ketika kita diminta bersaksi bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang menjadi Rabb dan Ilah kita. Yang menjadi perjanjian yang kuat, yang akan ditanyakan lagi ketika kita menghadap-Nya nanti.

Rabu, 15 Februari 2017

Berkomunikasi Sesuai Bahasa Cinta Anak


Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

 5. Pelayanan.

Senin, 13 Februari 2017

Bagaimana Cara Memutus Siklus Anak Nakal


Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya

"Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?"

Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.

Bertanggungjawab terhadap Hasil Komunikasi


Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan

_I'm responsible for my communication result_

12 Gaya Populer Penghambat Komunikasi


Satu minggu sudah kita memperdalam materi "Komunikasi Produktif". Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja  dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic).  Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Reviu Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
 *KOMUNIKASI PRODUKTIF*


Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

Sabtu, 11 Februari 2017

Day 10: Telepon yang Membuat Senam Jantung

Jam istirahat siang itu, ketika baru saja selesai wudhu dan memakai mukena, hape saya berdering. Bu Bunga (bukan nama sebenarnya) yang menelepon. Langsung saya angkat cepat-cepat dengan hati yang dag dig dug duar. Apa pasal? Karena beliau adalah kepala daycare tempat anak-anak dititip selama kami bekerja di ranah publik. Dan kalau beliau menelpon, itu adalah SOP ketika terjadi sesuatu terhadap anak-anak.

Berkelebat bayangan yang tidak menyenangkan, karena kasus terakhir yang terjadi di salah satu anak adalah terluka kakinya sampai harus dijahit 3 jahitan. Tapi coba saya tepis bayangan-bayangan itu dan menenangkan diri agar tetap waras saat menerima telpon nanti.

Jumat, 10 Februari 2017

Day 9 : Ayah Kok Ngga Sujud?

Setelah selesai shalat maghrib berjamaah semalam, sebagaimana kebiasaan di malam Jumat, Ayah membuka mushaf untuk membaca al-Kahfi. Kakak dan Adik masih asyik main dengan bonekanya masing-masing. Berperan sebagai Bunda/Kakak yang sayang sama anak/adiknya. Bunda memasukkan hasil seterikaan baju ke loker masing-masing.

Tak berapa lama kemudian, Kakak mendekati Ayah dan menyapa: "Ayah kok tidak sujud?"

Bunda bingung mendengar pertanyaan itu. Tapi Bunda tidak menyela perbincangan Ayah-Anak ini. Ayah pun, menghentikan bacaannya dan berkata: "Kenapa Cinta?"

Kamis, 09 Februari 2017

Day 8 : Ayo Kakak Temani, Dik

Acara keluarga kami weekend kemarin adalah pergi ke Lapangan Banteng. Ngapain? Jalan-jalan saja biar anak-anak bisa beraktivitas fisik. Biar tidak bosen juga terus-terusan di rumah. Alhamdulillah ada beberapa spot menarik disana misal patung gurita dari sabut, rumah pohon, play ground.

Terus singkat cerita, tibalah waktu buka bekel dimana bekelnya adalah durian kupas.. Yee..tapi Adik tidak doyan. Jadi diberikan biskuit saja. Nah si Adik (1y9m) ini adalah orang yang paling rajin dan seneng banget kalau dimintain tolong rapikan sepatu, ambil air dari dispenser, ambil piring, atau buang sampah. Makanya saat itu Bunda minta tolong ke Adik untuk membuang biji durian ke tempat sampah. Tapi Adik tidak mau. Kenapa? Karena bentuk tempat sampahnya adalah ayam yang buka mulut. Hehehe..

Rabu, 08 Februari 2017

Day 7 : Tersesat di Bandara Adi Sucipto

Sabtu kemarin, sudah habis masa kunjungan kami ke Mbah Bantul. Hanya 4 hari, tapi semoga bisa menunjukkan rasa cinta dan bakti kami ke beliaunya. Jadi kami berpamitan dan menuju bandara. Jam 4 sore kami berangkat dari rumah, sedangkan jadwal penerbangan masih jam 18.55 WIB. Kami menyengaja memberi spare waktu yang lama, agar tidak terburu-buru di perjalanan.

Sebelum keberangkatan itu, saya beberapa kali menanyakan ke Kakak, mau bareng ke Jakarta dengan kami (Ayah, Bunda, dan Adik) ataukah mau tinggal dulu di Mbah. Nanti setelah puas main di Mbah, biar bareng-bareng Mbah diantar pulang ke Jakarta. Tapi ternyata Kakak selalu mantap bilang pulang bareng Bunda. Okee..sippp.. Dalam hati Bunda girang banget karena Bunda belum pernah sekalipun berjauhan dengan Kakak. Eh pernah ding.. ninggalin 2 hari 2 malam pas lahiran Adik..

Selasa, 07 Februari 2017

Day 6 : Buku dan Mainan, Media Komunikasi yang Menyenangkan

Membuat Family Forum yang serius semacam raker dengan seluruh anggota keluarga, menurut hemat kami masih belum pas di kondisi kami yang sekarang. Mengingat anak-anak masih balita, sehingga Family Forum lebih cocok dilakukan dengan kegiatan keseharian. Apa yang ingin kami diskusikan atau sampaikan, masih sangat fleksibel mengikuti kondisi mood mereka. Kapan mereka kelihatan siap menerima, maka waktu itu langsung disampaikan. Bisa pada saat sarapan, jalan ke/pulang daycare, makan malam. Untuk media penyampaian atau untuk membuka komunikasi, menurut saya buku (kisah) dan mainan adalah tetap menjadi media yang paling dapat diandalkan.

Mengapa bisa begitu?

Senin, 06 Februari 2017

Day 5 : Trust, Modal Komunikasi Produktif yang Utama

Salah satu tantangan yang harus saya taklukkan dalam membangun hubungan yang baik tidak hanya dengan suami tetapi juga dengan anak adalah kepercayaan (trust). Tantangan trust kepada anak, lebih kompleks saya rasakan. Karena saya harus menimbang usia, sisi keamanan, dan kemampuan anak itu sendiri. Saya harus berani memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak lazim di usianya. Ketidaklaziman tersebut terjadi secara umum di masyarakat karena faktor takut yang berlebihan, keengganan membereskan hasil dari trust yang diberikan, dan meng-under estimate kemampuan si kecil walaupun tidak disadari.

Padahal, dari pengalaman yang saya dapatkan dari anak saya yang pertama (2 bulan lagi genap 4 tahun), memberikan kepercayaan kepada mereka itu merupakan salah satu garansi kemudahan dalam komunikasi di fase-fase usia mereka yang selanjutnya. Kalau saya dan suami, kepercayaan itu kami berikan ketika anak sudah mulai tertarik untuk mencoba sesuatu. Bukan kami yang memilih kemudian memaksa anak untuk melakukannya, tetapi inisiatif ketertarikan dari mereka sendiri terhadap hal baru tersebut.

Sabtu, 04 Februari 2017

Day 4: Kakak, Tolong Bantu Adik

Pagi itu, Kakak ingin membuat nutrijel. Karena stok nutrijel di rumah habis, maka Bunda, Kakak, dan Adik pergi ke warung untuk membeli. Pas di warung, Adik melihat kaleng kerupuk. Adik menunjuk-nunjuk dan bilang 'puk..puk..puk..'. Maksudnya adalah kerupuk. Karena Adik belum sarapan, maka tidak Bunda izinkan. Karena kalau sudah makan kerupuk, biasanya jadi tidak mau makan.

"Adik, maaf yaa.. Adik belum makan, jadi belum boleh beli kerupuk. Kalau mau, nanti boleh beli setelah makan." kata saya.

Day 3: Ayah, Kemarin Kami Membuat Kesepakatan

Semalam Ayah pulang dari kantor sudah sangat larut, sehingga anak-anak tidak bisa bermain-main dulu dengan Ayah seperti biasa. Maka, untuk mengganti waktu yang tak dapat dipenuhi malam tadi, pagi ini Ayah harus menyambut kehadiran para putri shalihah dari alam mimpi.

Jumat, 03 Februari 2017

Day 2 : Sayang, Mari Kita Membuat Kesepakatan

Sore itu, kesabaran Bunda seperti sedang diuji oleh Kakak. Bertubi-tubi sikap kurang menyenangkan dilakukan oleh Kakak. Ditambah dengan rasa lelah dengan banyaknya kerjaan di kantor, plus pulangnya harus bersegera karena Ayah harus kembali lagi ke kantor setelah mengantar kami karena ada konsinyering, membuat tekanan emosi yang Bunda rasakan naik berlipat.

Memang apa yang Kakak kesayangan lakukan?

Kamis, 02 Februari 2017

Day 1 : Kakak, Adik Kenapa?

Sibling rivalry yang terjadi antara dua putri saya memang cukup sering. Selain karena selisih usianya hanya dua tahun dan sekarang masing-masing masih ditahap 'semua yang ada adalah milikku', setelah saya perhatikan karakter bawaan itu juga berpengaruh. Type Kakak (3y9m) adalah seorang leader yang kukuh memegang prinsipnya atau kemauannya. Jadi kalau ada apa-apa, pasti pertanyaan kenapa itu muncul duluan. Kalau kami (AyahBunda) sedang mencoba menasihati suatu hal, maka harus menyiapkan jawaban yang benar dan dengan cara yang dapat diterima oleh Kakak terlebih dahulu. Karena kalau tidak, pasti semuanya 'mental'.