1.
Q : Apakah etika tanya jawab pada saat
matrikulasi pun diatur atau mengalir saja pada saat ada penjelasan? Apakah adab
belajar ini juga masuk pada ranah evaluasi pembelajaran dan sejauh mana kiranya
peserta mengikutinya? (Rita Harits)
A : Di dalam kelas
matrikulasi kita belajar bersama. Dalam belajar bersama, maka bisa saling
mengingatkan dan menguatkan. Tentunya untuk kenyamanan bersama secara teknis
akan lebih nyaman jika diatur terutama saat diskusi materi agar tidak terlewat.
Menuntut ilmu dilakukan hingga liang lahat, jadi ini
hanyalah sedikit bekal untuk kita menimba ilmu yang lebih luas lagi.
Evaluasi untuk pembelajaran akan dilihat dalam setiap
NHW yang dikumpulkan setiap minggunya. Ilmu akan semakin lekat jika dituliskan.
~
2.
Q : Saya saat ini mengajar privat. Selama
mengajar, anak-anak sering curhat tentang bagaimana gurunya. Sikap gurunya
kurang pas dengan profesi mulianya itu. Bagaimana cara mengajarkan adab kepada
guru tersebut? (Nurbaiti)
A : Anak adalah peniru ulung, terutama pada usia di bawah 7
tahun. Saat mendapati anak yang mengeluhkan sikap gurunya, maka ajaklah anak
untuk mengevaluasi apakah menurutnya hal tersebut baik dilakukan atau tidak.
Jika kita
yang menemukan pengajar yang kurang baik untuk dicontoh, maka dekatilah. Ajak
melakukan evaluasi dan berikan contoh nyata. Lakukan pendekatan yang tidak akan
membuat orang tersebut merasa dipermalukan atau direndahkan.
~
3.
Q : Bagaimana adab dalam mempelajari ilmu,
apakah mempelajari fokus satu ilmu sampai mendalam dan menjadi ahli baru
mempelajari ilmu lainnya? Atau mempelajari beberapa ilmu sekaligus, namun hanya
mengerti dasar-dasarnya? (Nina Anggita)
A : Ilmu di muka bumi sangatlah luas. Untuk
memahaminya perlu dikunyah sedikit demi sedikit. Seperti saat kita dibombardir
dengan banyaknya informasi. Informasi yang masuk biasanya hanya sepintas lalu.
Materi lebih baik dipahami sedikit demi sedikit, namun pemahamannya bisa
mendalam.
~
4.
Q : Bagaimana seharusnya sikap dan kiat-kiat
seorang guru agar selalu bisa dihormati, dihargai, dan didengarkan, di tengah
peradaban yang semakin tidak kenal sopan santun? Miris melihat berita ada murid
memukul/melukai guru. Pendekatan seperti apa yang harus dilakukan guru agar
lebih ‘menyatu’ dengan muridnya?
Bolehkah memberi hadiah (dalam
bentuk barang) kepada guru sebagai ucapan terima kasih pada saat kenaikan
kelas? (Ayu)
A : Guru ataupun orang
tua adalah teladan pertama bagi anak-anak kita. Anak-anak mungkin seperti tidak
mendengarkan ucapan kita, namun mereka sesungguhnya merekam setiap kejadian
yang dialami. Anak-anak adalah peniru ulung. Luangkan waktu untuk evaluasi
bersama antara guru dan murid.
Memberikan tanda terima kasih kepada guru adalah
bentuk penghormatan kita akan ilmu yang sudah kita terima. Bentuknya bisa
bermacam-macam. Utamanya adalah dengan kita menghormati guru, maka diharapkan
guru akan ridha dengan ilmu yang diajarkannya.
~
5.
Q : Terkait dengan poin ‘adab terhadap
sumber ilmu’, salah satunya adalah kita harus bersikap sceptical thinking, mohon penjelasan detailnya seperti apa?
(Efiaty)
A : Sumber ilmu atau
informasi sangat banyak, namun informasi mana yang harus kita yakini, perlu
dicari tahu. Tidak serta merta menelan semua gempuran informasi. Cari
sumbernya, tabayun terlebih dahulu. Pun dalam menyebarkan ilmu, kita harus
punya sumber yang jelas.
~
6.
Q : Bagaimana adabnya kalau bertanya dalam
majelis ilmu nanti? (Dila)
A : Adab menimba ilmu
secara umum sama. Sebagai contoh di kelas matrikulasi ini, teman-teman akan
diajak untuk mencerna materi bersama-sama. Saling tolong menolong dalam
kebaikan. Untuk kenyamanan bersama, telah dibuat aturan bagaimana alur
berjalannya diskusi yang harus ditaati bersama.
~
7.
Q : Bagaimana caranya mengajarkan dan
menanamkan adab menuntut ilmu kepada anak yang masih balita? Bagaimana cara
berkomunikasi kepada anak yang masih berumur 2-3,5 tahun untuk menanamkan adab
tersebut? (Nastaiena)
A : Sudah terjawab di
nomor 4.
~
8.
Q : Kadang kita suka berbagi ilmu yang kita
punya, tapi suka lupa mencantumkan sumbernya. Bagaimana sebaiknya?
Jika kita bertemu dengan teman
yang hebat kemudian kita bertanya kepadanya untuk diajarkan, tetapi yang
bersangkutan setengah-setengah dalam menyampaikan informasi. Kemudian saya
meminta siapa gurunya agar mendapatkan ilmu yang sama, tetapi yang bersangkutan
tidak mau memberi tahu, bagaimana saya harus bersikap? (Tiny)
A : Penyebaran info
perlu disertai sumber. Agar ketika nanti menyebar luas, penerima info dapat
tabayyun ke sumber ilmu. Selain itu juga untuk menunjukkan penghargaan kita kepada
guru/penulis info.
Sebaiknya kita mencari komunitas yang memiliki value yang sama, sehingga pola
belajarnya sama. Jika value belajarnya
berbeda, akan lebih ahsan jika ditanyakan terlebih dahulu apakah sumber ilmu
bersedia berbagi info. Jika sedari awal sudah tidak bersedia, berarti tugas
kita untuk mencari sumber ilmu lainnya.
~
9.
Q : Bagaimana cara atau kiat-kiat apa saja
yang bisa dilakukan oleh para penuntut ilmu agar ilmu yang didapat bisa
diterapkan/diamalkan? (Aini)
A : Kiatnya: praktek, praktek,
praktek! Sedikit demi sedikit dan konsisten.
~
10. Q : Saya masih belum paham terhadap poin 1
dan 2 dalam materi. Selanjutnya, Jika kita melihat ada yang tidak kita sukai
dari guru (sikap membanding-bandingkan), apa yang harus dilakukan? (Febry)
A : Poin 1, contoh paling mudahnya adalah
kitab Al-Quran. Saat kita mengambil ilmu dari Al-Quran, kita sadar bahwa
Al-Quran harus diletakkan di tempat yang tinggi (ditinggikan). Poin 2,
contohnya adalah menggunakan referensi dari sumber bajakan. Lebih baik menabung
sedikit demi sedikit untuk membeli buku asli daripada membeli bajakannya. Ilmu
memang mahal dan itulah salah satu cara meraihnya.
Untuk pertanyaan selanjutnya, apakah kita pernah
memberikan feed back yang membangun?
Berikan masukan kepada guru secara personal dan lakukan dengan tidak
merendahkan guru tersebut.
~
11. Q : Bagaimana jika kita tidak hanya belajar
pada satu guru, dan diantara para guru tersebut ada perbedaan pendapat? Apakah
kita harus memilih salah satu dari guru tersebut, atau kita tetap bisa belajar
dari keduanya sambil menyaring sendiri ilmu mana yang mau diambil dari
masing-masing guru? Bolehkah kita meluruskan ajaran guru yang satu dengan yang
lain?(Sari)
A : Mungkin contoh paling dekatnya di ajaran
agama islam adalah adanya beberapa imam yang mazhabnya berbeda-beda. Selaam
perbedaan ilmunya tidak melanggar sumber ilmu utama (Al-Quran dan Al-Hadist),
maka semuanya layak dipelajari. Berbeda boleh, tapi membandingkan tidak akan
bisa apple to apple. Maka ilmu mana
yang diyakini, itulah yang dijalankan secara konsisten.
~
12. Q : Adab terhadap sumber ilmu salah satunya
adalah tidak membeli buku bajakan. Bagaimana kita menyikapinya karena di satu
sisi penjualan buku bajakan dilakukan secara online? Karena harga buku bajakan
jauh lebih murah dibandingkan buku asli apalagi untukbuku-buku science. (Widya)
A : Lebih baik menabung
dulu untuk membeli yang asli.
~
13. Q : Kapan saat yang tepat menularkan adab
menuntut ilmu kepada anak-anak? Usia masuk sekolah atau mulai balita? Bagaimana
peran suami dalam menularkan adab ini kepada anak-anak? (Poppy)
A : Adab menuntut ilmu dikenalkan sedari
kecil dengan memberikan contoh. Ingat, anak adalah peniru yang ulung. Dengan
melihat orangtuanya, maka lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik.
Rasanya ini tugas semua orang dewasa di sekitar
anak-anak kita. Ayah dan Bunda pasti menjadi teladan utama anak-anak.
~
14. Q : Bagaimana adab yang baik terhadap sumber
ilmu berupa artikel media online? (Widya)
A : Tuliskan sumbernya saat disebarkan.
Tabayun dengan isi artikelnya.
~
15. Q : Pembuat Materi Adab Menuntut Ilmu IIP
ini siapa? Apakah adab menuntut ilmu di forum/komunitas lain sama dengan yang
di sini? Selanjutnya, untuk menentukan adab/value
di keluarga kita, apakah kita bermusyawarah dulu atau ada referensi yang baku?
Dalam
mengajarkan adab menuntut ilmu pada anak-anak, jika kita menanamkan sikap
menerima sepenuhnya ilmu dari guru, sebagian berpendapat anak-anak akan menjadi
tidak kritis dan tidak kreatif dalam mencari ilmu. Sebaiknya bagaimana sikap
kita? (Sari)
- Turnomo Raharjo, Literasi Media dan Kearifan
Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
- Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Pendidikan
dalam Perspektif Hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm.5.
- Muhammad bin Sholeh, Panduan Lengkap
Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015.
Anak-anak
menyerap ilmu seperti spons. Terkadang yang terlupakan adalah membimbing anak
untuk menimbang baik buruknya dari ilmu yang didapat. Disinilah peran kita
sebagai orang tua untuk mengasah skeptis anak dalam mengolah informasi.
~
16. Q : Menuntut ilmu adalah usaha yang
dilakukan seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih
baik. Beda perilaku dan tingkah laku apa? (Ratna)
A : Tingkah laku adalah tindakan suatu organism yang dapat diamati dan bahkan
dapat dipelajari (ribert Kwick, 1974). Sedangkan secara umum, perilaku manusia
pada hakikatnya adalah proses interaksi individu dengan lingkungan sebagai
manifestasi hayati bahwa dia adalah makhluk hidup. Tingkah laku adalah
tindakannya, perilaku adalah proses interaksinya. Sumber: Agustina Dwi
Herawati, Perkembangan Psikologi.
~
17. Q : Bagaimana adab menuntut ilmu untuk anak
berkebutuhan khusus? Karena mereka bukan sengaja untuk tidak hormat, namun ada
hal-hal lain seperti tantrum ataupun kesulitan lainnya dalam mereka menerapkan
adab sebagaimana anak normal? (Fina)
A : Menularkan adab setahap demi setahap
disesuaikan dengan perkembangannya. Ada seorang ibu yang bisa mendampingi ABK
hingga berperan layaknya anak normal. Bahkan, secara perasaan, mereka bisa
lebih mendalam.
~
18. Q : Jika suatu informasi benar (bukan hoax),
bolehkah kitra sebarkan? Misal: ART yang suka mencuri, pegawai swalayan yang
mesum dll. Dilema juga, karena manusia kan bisa bertaubat dan tidak mengulangi
perbuatannya. Sementara kalau sudah tersebar di medsos itu akan abadi, bisa
diakses kapanpun. (Titin)
A : Ada beberapa hal yang
perlu kita kuatkan dalam penerimaan dan penyebarab sebuah tulisan di sosmed:
(1). Ketemu tulisan isinya baik -> Cari
sumbernya -> Cantumkan sumber -> Share -> Masuk Kategori Berita Baik
dan Benar.
(2). Ketemu tulisan isinya baik -> Cari
sumbernya -> Tidak ketemu sumber -> Don’t share -> Masuk Kategori
Berita Baik Belum Tentu Benar.
Yang
paling aman adalah menulis cerita sendiri berdasar pengalaman. Hal ini menjadi
info sangat valid karena kitalah yang mengalaminya, sehingga tidak
terbantahkan.
Septi Peni Wulandani
Resume Tanya Jawab Matrikulasi Ibu
Profesional #1
---
Disclaimer:
Saya menulis ulang, dimana ada beberapa pertanyaan yang saya ambil langsung ke fokus pertanyaannya. Tidak menuliskan secara utuh karena saya anggap kurang relevan atau tidak dicantumkan pun tidak menghilangkan esensi dari pertanyaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar