Jumat, 21 Oktober 2016

Curhat Jiwaku





PNS fullday, jam kerja 07.30 – 17.00 WIB.

Tinggal di Jakarta.

Tahun 2012: Menikah.

Tahun 2013: Putri pertama lahir.

Tahun 2015: Putri kedua lahir.

Tinggal jauh dari orang tua dan saudara.

Anak-anak ‘dititipkan’ di daycare.

---


Hidup adalah sekumpulan dari pilihan-pilihan dimana kita diberikan kebebasan penuh untuk memilih. But stand still, kita tidak bisa membebaskan diri dari konsekuensi logis yang menyertai setiap pilihan kita. Jika konsekuensi itu bisa kita perhitungkan di awal, maka kita tidak akan kaget dan lebih siap untuk menghadapinya. Bahkan mungkin kita sudah punya serangkaian rencana untuk memperkecil dampak negatif dari konsekuensi-konsekuensi itu. Tapi jika konsekuensi itu baru kita sadari setelah datang, pun itu bertubi-tubi, dan kita tidak mempunyai bekal ilmu yang memadai sebelumnya, maka abstraksi yang cocok adalah seperti orang yang tidak bisa berenang (tapi pernah baca-baca sekilas tentang bagaimana cara berenang) di lempar di tengah sungai yang berarus deras. Jika dia tidak mendapatkan sesuatu untuk berpegang atau tidak ada orang yang datang untuk menolongnya, maka dia akan terbawa arus, muncul-tenggelam, lalu hilang.

Hal itu yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Saya seperti orang yang sedang muncul-tenggelam, menggapai-gapai mencari pertolongan. Ada semangat untuk terus berusaha. Tapi juga ada rasa sudahlah menyerah saja. Air yang memenuhi setiap rongga sehingga nafas tinggal satu dua. Hingga, masyaaAlloh.. Di depan sana saya melihat ada peluang keselamatan. Tapi tentu saja saya harus berusaha dengan keras untuk meraih peluang itu. Sangat keras mungkin nantinya. Tapi biarlah itu nanti waktu yang menjawabnya.. Karena sekarang saya masih di titik melihat peluang dan berusaha menggapainya dengan segala doa, daya, dan upaya.. (semoga ini tidak hanya indah di tulisan saja).

Okeeyyyy.. saya terlalu lebay.. :p

Tapi ya ngga masalah kan ya, orang judulnya curhat.. #beladiri :D

Iyaks, ini tentang saya. Tentang perasaan saya. Tentang ‘beban’ yang selalu menggelayut dalam pikiran saya, yang awalnya sepertinya kecil tapi semakin kesini semakin menenggelamkan saya. Saya menjadi orang yang seperti bukan saya, tidak ada motivasi untuk melakukan apapun, merasa tidak berguna, membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Hidup saya tidak dalam kontrol saya dalam arti yang sebenar-benarnya.

Saya berada di puncak kegalauan internal (karena mungkin orang di sekitar saya menganggap saya baik-baik saja). Saya tidak bercerita dengan orang tua, teman, dan bahkan suami, karena perasaan itu sangat abstrak sekali. Saya tidak tahu dan tidak bisa bagaimana menjelaskannya dalam suatu kalimat yang bisa dipahami oleh orang lain, tidak tahu mengapanya atau bagaimananya. Jadi saya hanya mencoba mengabaikan perasaan saya itu dan melarikannya dalam tidur-tidur panjang.

Dan kemudian, Alloh yang Maha Baik memberi saya waktu luang yang lebih banyak dari pada biasa. Saya mempunyai waktu untuk mendengar dan menganalisa suara-suara dalam jiwa. Tentang apa dan mengapa. Lalu tentang bagaimana.

Dari serangkaian proses mendengarkan curhatan jiwa, ternyata ada beberapa sebab yang membuat saya berada pada titik nadhir  ini:

1.         Tipe orang yang cukup perfeksionis

Saya mempunyai gambaran (walaupun tidak dituangkan dalam tulisan), tentang harus bagaimana ‘saya’. Contoh kecil adalah terkait amalan ibadah harian, dimana sebelum menikah saya sudah terbiasa melakukan berbagai amalan wajib dan sunnah secara konsisten dalam kuantitas yang bisa dibilang tinggi. Saat sudah menikah, punya anak 1, punya anak 2, waktu saya bukan milik saya lagi. Jangankan melakukan amalan sunnah, melakukan amalan wajib saja dengan tenang itu sudah ‘sesuatu’ banget.

Jeleknya saya dengan sikap perfeksionis itu, target-target yang tidak kesampaian, membuat saya merasa tidak ‘baik’ lagi. Ada hal dalam diri saya yang digerogoti pelan-pelan. Mencoba terus, tapi yang ada justru semakin jauh dari target. Hingga akhirnya saya menyerah. Puncaknya adalah saya sering baru melaksanakan shalat isya’ pada waktu mendekati fajar (bangun tidur) atau saya kebablasan tidur hingga tidak mendengar adzan shubuh. Astaghfirullah..

Nah dosa-dosa itulah yang sepertinya membelenggu saya dengan ‘beban’ yang terus-menerus minta dibawa dimanapun dan kapanpun saya berada. Hati saya menjadi pekat. Jiwa saya menjadi sempit. Pikiran saya menjadi galau.

Lalu bagaimana sekarang? Saya sedang mencoba berdamai dengan diri saya sendiri. Bahwa dengan melakukan berbagai kesibukan sebagai istri dan ibu, itu adalah jalan surga saya saat ini. Maka fokus utama yang sedang saya bangun sekarang adalah:

Prioritas 1  :     Membenahi kembali jadwal shalat saya. Shalat di awal waktu khususnya untuk isya dan shubuh.
Prioritas 2 :      Mereformulasi target ibadah harian. Disesuaikan dengan kondisi saat ini. Baik jenis maupun kuantitasnya.

  2.         Sukar bergerak ke PR lain kalo belum selesai PR pertama

Ini masih berkait ke amalan yaumiyah ya targetnya jauh melampaui kemampuan mau dipaksa kayak apa pun (yaiyalah siapa yang bisa ngatur bayi kapan dia bangun minta nenen atau kapan kakak boleh minta perhatian lebih atau kapan anak sakit dll). PR target ibadah harian itu membuat saya tidak bisa fokus di hal lain a.k.a mengerjakan PR-PR lainnya yang begitu banyak. Akhirnya saya stagnan, diam ditempat, selama ini..

Solusinya ya berarti dengan solusi yang ada di poin satu itu dulu.

3.         Semangatnya gedhe, ilmu dan pengalamannya kurang

Ya hancurlah dunia persilatan..hehehe.. Betul saya bersemangat menjadi seorang muslimah shalihah, istri yang tha-at dan menyenangkan suami, bunda sebagai madrasah utama, warga yang berguna untuk masyarakat/negara, dan umat yang selalu berjuang untuk menegakkan kalimat-Nya. Wowww..keren kan ya? Tapiiiiiii...sstt..itu hanya semangatnya doang. Ilmu mah minimalis. Pengalaman nol putul. Walaupun saya baru tahunya ya setelah tercebur di dunia per-keluarga-an ini. Miris ya..

Dulunya saya merasa saya dapat melakukan apa saja kok. Selalu dapat ranking dan beasiswa dari SD sampai SMA. Kuliah gratis dengan IPK cum-laude. Bisa mengatur waktu kuliah, freelance guru les, ikut organisasi A, B, C; masuk di kepanitiaan X, Y, Z; dengan amalan yaumiyah yg terpegang terus.

Saya merasa bahwa ketika saya menikah semua akan tetap baik-baik saja atau malah bertambah baik. Karena yang tadinya satu sekarang dibagi berdua. Saya sudah baca banyak buku untuk bekal berkeluarga, tapi yang ‘ngga enak’ tentang pernikahan saya numpang lewat saja karena merasa hal itu tidak akan terjadi pada saya dan suami. Tapi duarrrr..ternyata kenyataan itu tak seindah bayangan saya. Dan saya baru mulai mengubek-ubek segala yang ‘nggak enak’ pas sudah kejadian. Woalah..mestinya ini saya baca dari dulu..

Iyes. Tentang perbedaan karakter dasar laki-laki dan perempuan. Tentang hak dan kewajiban suami-istri. Tentang komunikasi pasangan. Dan tentang..tentang..yang lain sampai perbedaan keinginan di hal-hal teknis seperti bagaimana cara membunuh kecoa versi kami masing-masing.. hihihi..seru ya?

Seru mah kalo udah lewat. Kalo pas kejadian mah sakiiittt banget rasanya.. :D

Solusi untuk poin ini ya hanya satu, BELAJAR TERUS. Dan yang paling susyah adalah mempraktekkan ilmunya secara konsisten walaupun sedikit-sedikit.


4.         Selalu melihat ke atas

Ini nih akibat buruk sering blogwalking. Melihat si A yang pinter masak, melihat si B yang pinter dandan, melihat si C yang parenting-nya luar biasa, melihat si D yang sudah nemu passion-nya, melihat si E yang bisa berkebun sendiri untuk konsumsi sehat keuarganya, melihat si F, G, H dan seterusnya yang masing-masing perfect di bidangnya di mata saya.

Apa salahnya?

Salah saya adalah saya ingin si A, B, C, D, E, F, G, H dst itu ada dalam diri saya semua dan pada saat ini juga. Boleh kok ketawa , silakan saja.. Bwahahaha.. :D  Saya selalu membandingkan hasil usaha saya dengan orang-orang yang sudah perfect tadi. Jadinya saya suka mutung kasarung karena.. yaa jauhlaah..

Solusi? Pemahaman ke diri saya bahwa semua orang itu pasti punya minat dan bakatnya sendiri. Mereka cemerlang di hal-hal itu. Tidak mengumpulkan semua hal dalam satu diri. Kan si A yang pinter masak belum tentu jago dandan atau bisa menjadi ibu yang menyenangkan untuk anak-anaknya. Begitupun dengan si B, C, dst. Yang perlu saya cari dan tekuni adalah minat dan bakat saya dimana. Kemudian fokus kesitu. Atau kalo masih sulit menemukan minat dan bakat, ya saya mesti fokus belajar untuk dapat memenuhi kewajiban-kewajiban saya dulu. Karena itu yang akan Alloh mintakan pertanggungjawabannya.

“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma which is living with the results of other people thingking. Don’t let the noise of others opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition” (Steve Jobs)

5.         Kesulitan membuat rencana aksi dari ‘mimpi’

Butuh tempat belajar dan komunitas ini, agar bisa membuat rencana aksi yang baik, yang sesuai dengan kondisi faktual. Plus ada tahun-tahunnya. Dan harus bisa dijalankan.

6.         Komunikasi yang sepertinya sangat-sangat buruk

Well.. Saya adalah anak tunggal yang sama Bapak Ibu saya di-sekarep (terserah) mau ngapain – dalam arti positif. Setiap ada permasalahan apapun saya tidak pernah menyampaikan ke beliau berdua. Ngobrol hal-hal yang pribadi, bisa dibilang tidak pernah. Hal-hal keseharian yang normal-normal saja yang kami obrolkan. Tapi ini bukan berarti ada ketegangan diantara kami lho ya. Culture keluarga yang saya dapatkan dari kecil ya memang seperti itu. Ditambah dengan saya memang sangat introvert. Jadi setiap ada masalah ya saya mencari jalan keluar sendiri. Dan ortu membebaskan saya untuk melakukan itu.

Akhirnya, terbentuklah saya yang sekarang.. Inginnya melakukan sesuatu sesuai kepuasan saya sendiri dengan cara saya sendiri, sangat kesulitan bekerja sama dalam sebuah tim, komunikasi sangat buruk khususnya lisan (tidak bisa menyampaikan apa yang dirasakan dengan runtut, fokus, dan baik), langsung grogi ketika ada orang yang mengajak bicara serius, sikap defensif dan mudah pecah (merasa menjadi pesakitan dan di posisi yang salah) ketika lawan bicara berkata secara objektif dengan data dan fakta.. Parah kan?

Solusinya, saya belum tahu untuk yang ini. Banyak belajar dari suami saja. Sedikit demi sedikit..

Eh..eh..udah panjang banget ternyata curhatnya.. Ampun deh, katanya introvert? -_-“


Eh..eh..udah panjang banget ternyata curhatnya.. Ampun deh, katanya introvert? -_-“

Dari semua curhatan saya itu, please janganlah kalian menyimpulkan bahwa saya adalah istri dan ibu yang tidak bahagia selama ini. Saya bahagia. Bahkan saya merasa bahwa suami dan anak-anak membuat kebahagiaan saya menjadi lebih sempurna. Lebih utuh. Hal-hal yang teramat kecil dan remeh saja membuat saya banyak bersyukur. Tapi, ini lebih pada perasaan bersalah saya kepada suami dan anak-anak. Karena saya tahu, apa yang saya lakukan selama ini, bukanlah usaha dan versi terbaik diri saya. Saya sangat mencintai mereka. Dan saya bisa menjadi istri/ibu yang lebih baik lagi untuk mereka. Dengan apa? Dengan belajar di tempat yang saya rasa tepat dengan kebutuhan saya saat ini dan berusaha mengamalkannya sedikit-sedikit sesuai kemampuan..

Ya, saya ikut bergabung di Grup WA Institut Ibu Profesional Batch 2.

Lah kan dirimu working mom?

Emang kenapa, ada masalah? Working Mom kan juga harus bisa menjadi ratu rumah tangga yang dicintai dengan sepenuh hati oleh Raja dan warga kerajaan kecilnya.. Emang kalo wanita yang bekerja di luar, tidak boleh gitu jadi istri dan ibu yang baik? Hehe..sensi deh jadinya..

Ke depannya insyaAlloh saya akan menuliskan semua materi yang saya dapatkan dari IIP di blog ini. Juga hasil nice homework saya kecuali yang sifatnya sangat pribadi. Mohon do’anya semoga ikhtiar ini akan menjadikan saya mampu menjalankan kewajiban-kewajiban saya dengan lebih baik lagi. Sehingga saya tidak dihantui rasa bersalah yang terus-terusan. Bukan untuk menjadi Istri/Ibu yang perfect, tapi menjadi Istri/Ibu yang baik.. InsyaAlloh.. Bismillahi tawakkaltu ‘alalloh..


~~~


Sumber Gambar:
  1.  https://twitter.com/curahanhatigue6/media 
  2. https://www.pinterest.com/aadiningrat/inspirations/
  3. https://baiquni337.files.wordpress.com/2013/03/images.jpg
  4. https://www.pinterest.com/evani_ul/quotes/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar