Sumber:
https://sites.google.com/a/cms.k12.nc.us/fike2/Homework--Event-Calendar
I.
Tentukan 1 jurusan ilmu yang akan Anda tekuni
di Universitas kehidupan ini.
Dalam hal ini, saya masih kesulitan untuk mendefinisikan jurusan
dan ilmu yang dimaksud dalam pertanyaan ini. Tapi jika boleh dibebaskan, maka
saya akan menekuni ilmu tentang bagaimana menjadi muttaqin (orang yang
bertakwa). Ini tentulah jurusan ilmu yang sangat-sangat-sangat luas. Karena dia
mencakup sekaligus menjadi muara dari semua cabang ilmu yang sedang coba saya
tekuni dalam hidup saya.
II. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga
menekuni ilmu tersebut?
Alasan terkuatnya adalah saya ingin masuk dalam golongan orang
yang mendapatkan Surga dan Ridha Allah serta dapat memandang wajah-Nya, yang
hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang bertakwa.
Selain itu karena Allah telah menyebutkan banyaknya keutamaan
takwa/orang yang bertakwa, yaitu:
a.
Ukuran kemuliaan manusia
“....Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujuraat : 13)
“Kehidupan di dunia dijadikan lebih indah dalam
pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman.
Padahal orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari kiamat. Dan Allah
memberikan rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.”
(Al Baqarah : 212)
Sumber : http://www.imgrum.net/tag/Takwa
b.
Mendapatkan kecintaan Allah
“Sebenarnya barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh
Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran : 76)
c.
Dekat dengan surga
"Sedangkan Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tidak jauh (dari mereka)." (Qaaf : 31)
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman
(surga) dan mata air." (Az-Zariyat : 15)
"Sesungguhnya orang - orang yang bertakwa berada dalam surga dan
kenikmatan." (At-Thur: 17)
d.
Kebesertaan Allah
“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa
dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (An Nahl : 128)
e.
Mendapatkan pengajaran dari Allah
"...Dan
bertakwalah kepada Allah, maka Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah : 282)
f.
Mendapatkan perlindungan Allah
“Sungguh,
mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikitpun dari (azab) Allah. Dan
sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian
yang lain, sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jasiyah:
19)
g.
Mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi
“Dan
sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (Al-A`raf:
96)
h.
Mendapatkan bekal
dunia dan bekal akhirat
"Berbekalah,
karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku,
wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Al-Baqarah:
197)
i.
Syarat diterimanya
amal
"Dia
(Habil) berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang
bertakwa." (Al Maidah: 27)
j.
Dibukakan jalan
keluar
“...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya.” (At-Thalaq: 2)
k.
Diberikan rezeki
dari arah yang tak disangka
“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya...” (At-Thalaq: 3)
l.
Urusannya dipermudah
"...Dan barang -siapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (At-Thalaq:
4)
III. Bagaimana strategi menuntut Ilmu yang akan
Anda rencanakan di bidang tersebut?
Sangat sulit menjabarkan strategi menuntut ilmu dalam hal ini.
Dikarenakan cakupannya sangat luas, di seluruh sendi kehidupan saya dan
periodenya sampai saya mati. Namun, akan saya coba semampu saya.
Sebelum masuk ke strategi menuntut ilmu ‘menjadi orang bertakwa’,
maka penting untuk mengetahui terlebih dahulu karakteristik orang yang bertakwa
menurut al-Quran:
a. Selalu berhati-hati dalam setiap tindakan karena
takut akan azab Allah
“Dan
sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Al-Furqan (Kitab Taurat)
dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu)
orang-orang yang takut akan (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak
melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al-Anbiya’:
48-49)
Berhati-hati dalam setiap tindakan, berarti kita
harus mempunyai dasar ilmu atas setiap tindakan yang akan kita lakukan. Apa
saja. Tindakan kita sebagai hamba Allah, tindakan kita sebagai istri, tindakan
kita sebagai ibu, tindakan kita sebagai anak, tindakan kita sebagai warga
masyarakat dan seterusnya.
Misal sebagai hamba Allah berarti kita harus
mempunyai ilmu agar benar dalam akidah dan ibadah. Sebagai istri kita harus
mempunyai ilmu tentang kewajiban dan hak kita, dimana akan bercabang pada ilmu
manajemen kasur, manajemen dapur, manajemen sumur, manajemen keuangan,
komunikasi pasangan dan seterusnya. Dalam hal manajemen dapur pun akan
memerlukan cabang ilmu yang lain misal membuat masakan yang enak, membuat
masakan yang sehat (tanpa bahan-bahan adiktif sintesis), membuat masakan yang terukur
kandungan gizinya, membuat masakan dengan bahan-bahan organik, atau jika
dilanjutkan bisa sampai membuat masakan dengan hasil kebun organik sendiri. Belum
lagi di tugas kita sebagai ibu, anak, warga. Dan seterusnya, dan seterusnya..
Disini kita dituntut untuk bisa mengurutkan
prioritas atas kegiatan-kegiatan kita. Harus disesuaikan dengan kemampuan dan
kondisi kita tentu saja. Dan ini sangat sulit. Sangat-sangat sulit. Tapi
menantang dan layak untuk dipelajari terus.. J
b.
Tidak sombong dan tidak
berbuat kerusakan di muka bumi
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang
yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan
kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Qashash: 83)
Tidak berbuat kerusakan di muka bumi, dalam benak
saya sesuai kapasitas saya selaku ratu rumah adalah dengan kita memastikan
bahwa keluarga kita tidak memakai bahan-bahan yang dapat ‘menyakiti’ bumi.
Sedikit demi sedikit mengganti bahan kimia sintetis dengan bahan-bahan alami,
melakukan pendaur-ulangan sampah, mempunyai kebun hijau dan lain sebagainya.
c.
Bersegera memohon
ampunan bila berbuat dosa dan mudah
meminta maaf kepada sesama manusia
d.
Mau berinfaq/sedekah dalam
keadaan lapang maupun sempit
e.
Bisa menahan amarah
f.
Memaafkan kesalahan orang
lain
g.
Senantiasa berbuat baik
h.
Tidak meneruskan perbuatan
keji setelah bertaubat
Poin c – h di atas berdasarkan pada surat Ali ‘Imran: 133 – 135:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran : 133 – 135)
i.
Beriman pada rukun iman
j.
Bersedekah harta
k.
Melaksanakan shalat dan
zakat
l.
Menepati janji
m.
Bersabar dalam cobaan
Poin i – m di atas berdasarkan pada surat
Al-Baqarah: 177, sebagai berikut:
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan ke barat, tetapi kebijakan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman
kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang
miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta dan untuk
memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat,
orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam
kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
1.
Poin c – m :
1.1.
Menghadiri majelis ta’lim baik offline maupun online, serta membaca
buku/artikel terkait.
1.2.
Menempelkan poin-poin itu ditempat yang bisa saya baca sesering mungkin,
sehingga saya akan selalu ingat.
2.
Poin b :
Saya bisa mengikuti
komunitas-komunitas seperti Limbah Rumah Bersih, Urban Farming, Bank Sampah atau yang lainnya yang terkait (saat
ini, prioritas belum kesini. One by one.)
3.
Poin a :
Karena poin ini
menyangkut semua hal dalam hidup saya, saya belum mampu menyusunnya sekarang.
Namun, prioritas saya yang utama saat ini adalah dengan memperbaiki ibadah saya kepada Allah yaitu dengan membuat target
amalan harian dan melakukan evaluasi pada periode tertentu. Selanjutnya,
bergabung mengikuti Institut Ibu
Profesional dengan tujuan agar saya memiliki ilmu tentang bagaimana
seharusnya menjadi seorang istri atau ibu yang baik dan benar itu, atau bahasa
mudahnya saya tahu posisi diri saya dengan benar dan dapat menempatkan diri
dengan benar pula, khususnya di lingkungan keluarga. Tentu saja tidak hanya sebatas
tahu, tapi saya sungguh-sungguh berharap agar komunitas ini dapat membantu saya
untuk menerapkan ilmu-ilmu yang didapat secara konsisten dalam hidup saya.
IV. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan
sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu itu?
Secara
umum, saya telah mengetahui adab menuntut ilmu sebelum mengikuti Kelas
Matrikulasi IIP ini. Namun, ternyata masih juga banyak hal-hal yang tidak saya
lakukan selama ini. Alhamdulillah, diingatkan kembali. Yang paling mendapat
perhatian saya adalah:
1.
Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu
dalam menuntut ilmu. Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis
ilmu baik online maupun offline.
Usahanya:
Mohon izin dan mohon bantuan kepada suami untuk setiap ada kuliah
online IIP, saya bisa menyendiri dulu. Anak-anak dipegang beliaunya.
Konsekuensi dari saya adalah: anak-anak sudah makan malam sebelum jam 8, kakak
sudah baca iqra, dan saya sudah melaksanakan shalat isya’.
2.
Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang
dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting,
menuliskannya kembali, dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai
disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama
Usahanya:
Menuliskan ulang setiap materi kuliah IIP, tanya jawab, dan nice home work pada blog pribadi.
3.
Tidak meletakkan sembarangan dalam memperlakukan
sumber ilmu yang berbentuk buku ketika sedang kita pelajari.
Usahanya:
Meletakkan buku pada rak buku ketika harus break membaca karena ada hal-hal yang
harus diutamakan terlebih dahulu (misal anak ngajak bermain, suami ngajak
ngobrol dll).
~~~
Sumber :
http://www.zawaj.com/askbilqis/havent-got-anything-from-i-asked/




Tidak ada komentar:
Posting Komentar