1.
Q : Seringkali saya merasa tidak percaya
diri menjadi Ibu. Sebenarnya anak saya penurut (apabila dibandingkan dengan
anak tetangga), tapi saya selalu merasa luar biasa stres kalau dia sedikit saja
membantah (dibandingkan dengan saya yang nyaris tidak pernah merasa stres di
kantor). Padahal kalau melihat Ibu-Ibu lain yang mungkin pendidikannya di bawah
saya tapi bisa mempunyai anak membanggakan, mestinya saya lebih percaya diri.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Sering kali ketika menasehati, mengarahkan,
mengajari, dan memasak untuk anak, saya tidak percaya diri. Menurut Ibu apa
yang bisa saya lakukan? (Ria)
A : Menjadi Bunda membutuhkan modal ilmu yang sayangnya
suka terlewat dipelajari. Agar Bunda percaya diri, Bunda bisa mengisi diri
dengan ilmu yang dibutuhkan.
Setelah tahu ilmunya, aplikasikan, tuliskan indikator
keberhasilannya, kemudian lakukan evaluasi. Dukungan suami akan membantu Bunda
menjalankan visi misi di dalam keluarga.
~
2.
Q : Bisakah Ibu pekerja menjadi Ibu yang
profesional? Mengingat seharian meninggalkan anak-anaknya. (Yulmi)
A : Semua Ibu adalah IBU BEKERJA, ada yang di ranah domestik, ada
yang bekerja di ranah publik. Ketika kita memilih untuk bekerja di ranah
publik, kita perlu mengevaluasi apakah niat dan misi kita bekerja di ranah
publik? Se-urgent apa bagi keluarga
kita. Jawaban akan terpulang pada kondisi keluarga kita sendiri. Jika bekerja
di luar merupakan ikhtiar dalam menjemput rizki bagi keluarga dan sifatnya
sangat urgent, maka bungkus
keberangkatan kita bekerja tersebut dengan niat mencari rizki mulia sekaligus
meningkatkan jam terbang misi di ranah publik. InsyaAllah kita akan terarah
menjadi lebih produktif. Doakan juga anak-anak kita agar selalu dalam penjagaan
Allah ketika kita tidak bersama mereka.
Satu hari 24
jam, bekerja di ranah publik 8-9 jam kerja, maka pos waktu berikutnya adalah
mengejar ketertinggalan waktu kualitas bersama anak. Pulang kerja harus
diniatkan untuk mengisi energi baru membersamai anak-anak. Sambut kegirangannya
dengan senyum lebar dan pelukan sehangat mentari, obrolan kegiatan seharian,
dongeng dsb. Tentunya jika Bunda butuh waktu untuk menyiapkan diri (mandi,
makan), maka mintalah waktu pada anak-anak untuk itu, kemudian kembali kepada
mereka.
Allah tidak
pernah pilih kasih dalam menitipkan anak-anak di rahim perempuan. Semua
perempuan berhak mendapatkan amanah tersebut baik yang bekerja di ranah publik
maupun domestik. Sehingga Allah sudah menempatkan masing-masing ujian dalam
mendidik anak sesuai dengan kemampuannya.
Maka belajar
dengan sungguh-sungguh agar kita bisa menjadi orang yang dipercaya di mata
Allah dalam mengemban amanah-Nya.
~
3.
Q : Mohon saran terkait modal/ilmu sebagai
Ibu yang baik dan sukses. Kemudian, bagaimana cara Ibu berbagi peran dengan
baik dalam perannya sebagai pribadi, istri, anak, menantu dan seterusnya? (Fina)
A : Dengan menguasai dan mengaplikasikan
tahapan menjadi bunda profesional, Bunda sedikit demi sedikit akan menggali dan
menetapkan indikator bagi diri-sendiri. Jika kita konsisten menjalankannya,
maka Bunda selangkah lebih dekat menuju Ibu yang baik dan sukses.
Tahapan
Bunda Profesional akan mengarahkan bagaimana Bunda menjadi pribadi yang sukses
di mata anak dan suami (Bunda Sayang), Bunda yang sukses di keluarga (Bunda
Cekatan), Bunda yang bisa menggali potensi dan produktif di ranah yang digeluti
(Bunda Produktif), serta Bunda yang bermanfaat bagi masyarakat/ummat (Bunda
Shalihah).
~
4.
Q : Dalam proses belajar ini, kita lakukan
secara bertahap. Apabila belum mampu menguasai satu tahap, apakah kita bisa
melangkah ke tahap selanjutnya? Bagaimana cara mempertahankan konsistensi dalam
mengamalkan ilmu kita? (Sari)
A : Sebaiknya lakukan
tahapan Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shalihah secara
bertahap agar pijakannya kuat.
Agar bisa konsisten, praktikkan ilmu yang didapatkan
sehingga ilmu tersebut menjadi bagian dari keseharian kita. Pegang juga prinsip
one bite at a time. Sedikit ilmu yang
diperoleh langsung diterapkan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari keseharian
kita.
~
5.
Q : Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda
Produktif, dan Bunda Shalihah itu apakah sebuah tahapan? Ataukah dipelajari dan
dipraktikkan secara simultan? Karena faktanya dalam keseharian, kita harus
melaksanakan dua tahapan yang pertama secara bersamaan yaitu Bunda Sayang dan
Bunda Cekatan. (Rita Lestari)
A : Apabila Anda belum
memiliki anak, mulailah dari Bunda Cekatan. Kalau sudah punya anak, langsung ke
Bunda Sayang. Setelah itu lanjut ke Bunda Produktif dan Shalihah. Karena ini
merupakan anak tangga Ibu Profesional, maka sebaiknya dikuatkan setahap demi
setahap agar mendapatkan pijakan yang kuat.
~
6.
Q : Penggunaan gadget sebaiknya kan dibatasi hanya 2-3 jam per hari. Bagaimana
manajemen gadget yang tepat bagi saya
yang seorang karyawati, pelaku online
shop, dan ibu rumah tangga? (Dina)
A : Tentukan jam kerja online shop-nya, misalnya 3 jam sehari
di sore hari. Kemudian setelah ditentukan, komitmenlah dengan jadwal tersebut.
Di luar jadwal, jadikan sebagai waktu free
gadget.
~
7.
Q : Seluas apakah cakupan istri sebagai
manajer keluarga? Apakah harus mengurus semuanya sendirian atau boleh
didelegasikan? (Nisa)
A : Setiap keluarga
memiliki cara masing-masing untuk menyelesaikan kebutuhan rumahtangganya,
sehingga banyak kemungkinan terdapat perbedaan cara penyelesaian atas pemenuhan
kebutuhan kerumahtanggaan. Hal penting yaitu setiap anggota keluarga rela
menjalankan peran masing-masing yang telah disepakati bersama.
Manajer rumah tangga mengurus semua sendiri atau
boleh didelegasikan? Ini terkait dengan kebutuhan dan cara penyelesaian yang
disepakati bersama tersebut. Jika mampu diselesaikan semuanya sendiri, silakan..
Jika ternyata membutuhkan asisten, maka Ibu perlu menjadikan asisten tersebut
sebagai partner. Komunikasikan dengan
baik sehingga tugas yang didelegasikan tersebut sesuai dengan harapan Ibu.
~
8.
Q : Bagaimana menerapkan Ibu sebagai
pendidik utama jika kita masih tinggal di rumah orangtua, karena nilai yang
kita tanamkan mungkin saja sering berseberangan dengan pola pikir orang tua
kita sendiri. Misalnya kita tegas, tapi ortu menganggap kita keras. Saya yang
masih tinggal di rumah ortu jadi belum sepenuhnya menerapkan sistem manajemen
rumah. Indikator apa kita dapat dikatakan berhasil? Disini ada Bunda Sayang,
Cekatan, Produktif, dan Shalihah, bagaimana supaya bisa berjalan berbarengan,
karena pada materi sebelumnya kita dianjurkan untuk fokus akan 1 ilmu dulu? Kiat-kiatnya
bagaimana agar berhasil? (Kartini)
A : Jika kita tinggal
dengan orangtua, kuatkan komunikasi dengan mereka. Sampaikan dengan baik pola
asuh yang ingin diterapkan pada anak-anak. Saat orangtua melihat kesungguhan
kita dan melihat hasil dari kerja keras kita, orang tua akan memberikan
dukungan.
Tahapan belajar di Ibu Profesional sebaiknya
dijalankan bertahap ya. Setelah kuat di Bunda Sayang, lanjut ke Bunda Cekatan.
Ketika Bunda berada di Bunda Cekatan, materi Bunda Sayang sudah melekat pada
diri Bunda.
Kiat supaya berhasil dalam belajar Ibu Profesional
adalah dengan menerapkan ilmu yang diperoleh disini. Setiap mendapat materi,
maka segera kerjakan NHW yang diberikan keesokan harinya.
~
9.
Q : Bagaimana mengukur kerja Ibu
Profesional? Apakah berbanding lurus latar belakang pendidikan si Ibu dengan
kerja profesionalitasnya dalam keluarga? Apakah latar belakang budaya Ibu akan
mempengaruhi profesionalismenya juga? (Rita Harits)
A : Yang bisa menilai
berhasil atau tidaknya seorang Ibu adalah suami dan anak-anak. Apakah suami
melihat kita menjadi istri yang lebih baik? Apakah perkembangan anak-anak
bergerak ke arah lebih baik? Indikator
pada materi di atas membantu kita mengukur pencapaian kita dalam setiap
pembelajaran kita.
Dalam belajar, yang lebih utama adalah prinsip
KOMITMEN dan KONSISTEN. Seperti apapun budaya maupun latar belakang pendidikan,
jika seorang Ibu sudah bertekad menjadi Ibu yang lebih baik, kemudian konsisten
dalam proses belajarnya, maka Ibu tersebut bisa menjadi Ibu Profesional.
~
10. Q : Bagaimana agar menjadi Ibu yang anak
senang belajar bersamanya? Anak saya terkadang ingin kelonggaran seperti ketika
dengan pengasuh. Misal jumlah jam menonton TV. Selanjutnya, saya adalah working mom, bagaimana agar maksimal, tidak
setengah-setengah dalam mengasuh dan mendidik anak-anak? (Diah)
A : Setiap anak memiliki fitrah belajar. Ketika
ada anak yang tidak senang belajar, coba lihat lagi ke pola asuh kita, apakah
ada yang salah? Jangan-jangan ada tindakan kita yang membuat fitrah belajar
anak tergerus. Coba analisa lagi kondisi sekarang, apakah kita sudah memberikan
teladan belajar yang baik? Apakah suasana belajar sudah mendukung, atau apakah
ada faktor-faktor lain?
Tentang Bunda bekerja di ranah publik sudah
dijelaskan pada pertanyaan nomor 2.
~
11. Q : Bisa tolong dijelaskan lagi yang
dimaksud indikator keberhasilan Ibu Profesional adalah menjadi kebanggaan
keluarga? Bisa tolong dijelaskan kebanggaan keluarga itu seperti apa? (Febry)
A : Sudah dijawab di nomor 9.
~
12. Q : Bagaimana cara mengajari anak agar bisa
sabar? Entah kenapa kalau mengajar anak sendiri cenderung tidak sabaran.
Bedanya kasir dana manajer
keuangan keluarga? Caranya agar bisa menjadi manajer keuangan yang baik
bagaimana?
Saya sangat senang dengan dunia
memasak, bahkan ada beberapa makanan yang dapat dijual ke teman-teman. Namun untuk
dapat menghasilkan makanan dibutuhkan trial
error. Bagaimana caranya untuk mengefisienkan trial errol tersebut agar tidak nombok? (Ratna)
A : Jika mengajari anak
sendiri jadi tidak sabaran, maka kita perlu mengecek lagi apa penyebabnya. Apakah
ada perbedaan ekspektasi saat mengajari anak sendiri? Atau apakah ada kendala
komunikasi dengan anak? Tahap pertama, temukan dulu pemicunya. Setelah ketemu,
atasi masalahnya. Perlu kita ingat bahwa ANAK-ANAK BELAJAR DARI CARA KITA
BEREAKSI.
Kita akan
ada sesi khusus untuk belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mohon
bersabar menunggu, akan dibahas di materi selanjutnya.
Saya percaya
bahwa dalam universitas kehidupan memang ada ‘biaya’ yang harus dikeluarkan. Jumlah
biayanya bisa beragam. Dengan belajar dari setiap trial dan error, insyaAllah selalu ada perbaikan yang terjadi. Ubah
pola pikir kita dari merugi menjadi keberhasilan yang tertunda. Semua akan
indah tepat pada waktunya.
~
13. Q : Untuk poin-poin pertanyaan apakah saklek
(sesuai materi) atau bisa kita ubah sesuai kondisi? Bagaimana
menumbuhkembangkan suami agar menjadi auditor handal dalam menilai keberhasilan
kita? (Elvira)
A : Poin pertanyaan dalam materi adalah
indikator umum dalam menilai tingkat keberhasilan Ibu Profesional.
Pasangan hidup kita adalah cermin bagi kita. Ketika kita
mendapati suami tidak sesuai harapan, jangan buru-buru menuntut. Itu pertanda
kualitas kita juga sama. Maka gunakan prinsip: FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST. Untuk mengubah
seseorang, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu. Istilah di Ibu Profesional, ‘proses
memantaskan diri’. Jangan pernah berhenti di ranah ini, karena Allah tidak
akan rela (pendapat pribadi Tim Matrikulasi, -red) memberikan kita pasangan
hidup yang tidak mau berubah ketika kita terus berubah.
~
14. Q : Ekspektasi anggota keluarga terhadap
pasangan/Bundanya kan bisa berbeda-beda, apakah kita perlu mensurvei ekspektasi
mereka dahulu? Dan rasanya kok berat sekali ya untuk selalu menjadi kebanggan
keluarga. (Mira)
A : Wah pertanyaan yang keren. Benar sekali,
kita memerlukan usaha keras tanpa pernah berhenti untuk menjadi kebanggaan
keluarga. Teman-teman nanti akan membuat indikator masing-masing. Saat membuat
indikator ini, diperlukan komunikasi produktif di keluarga. Diskusikan bersama
suami dan juga anak-anak, kemudian jadikan jawaban mereka sebagai referensi
dalam membuat indikator keberhasilan Bunda.
~
15. Q : Setelah menjadi Bunda Sayang apakah bisa
tetap bersikap tegas kepada anak? Mohon penjelasannya. (Dila)
A : Tegas justru diperlukan dalam memahami Bunda Sayang. Tegas dalam
menjalankan pola asuh keluarga. Tegas dalam kesepakatan yang sudah disepakati
di rumah.
~
16. Q : Bagaimana cara seseorang menemukan misi
spesifik dalam hidup? Terlebih jika minatnya masih banyak/luas dan belum tahu
bakatnya dimana. (Yunita)
A : Akan dibahas pada materi selanjutnya.
Sabar ya..
~
17. Q : Bagaimana menjadi Bunda Produktif, aman
secara finansial tanpa harus meninggalkan anak/keluarga? (Verial)
A : Akan dibahas pada materi selanjutnya.
Sabar ya..
~
18. Q : Bagaimana mengelola rasa bersalah kepada
anak atau kantor karena proses belajar menekuni minat? Sampai batas mana kita
boleh ambil keputusan untuk tidak tertarik terhadap suatu hal yang nice to know? (Leila)
A : Seorang Ibu memang
perlu banyak ilmu dalam mengelola rumah tangga. Bunda bekerja juga perlu
membekali diri dengan ilmu-ilmu yang relevan. Silakan membuat daftar ilmu yang
diperlukan untuk pengembangan diri, kemudian tetapkan skala prioritas Bunda.
Bunda akan menemukan kegiatan yang dinilai menarik tapi tidak tertarik.
Sebagai Ibu
bekerja di ranah domestik (publik kah maksudnya? –red), Bunda tentunya
perlu mengimbangi dengan mengoptimalkan waktu bersama anak. Nanti akan ada sesi
materi yang membantu Bunda menentukan kuadran aktivitas.
~
19. Q : Bagaimana
mengukur implementasi Bunda Sayang kepada anak-anak yang masih batita?
Bagaimana agar pemahaman dan praktik teori dari Bunda Sayang, Bunda Cekatan,
Bunda Profesional, dan Bunda Shalihah menjadi karakter yang selalu melekat pada
diri? (Retta)
A : Aplikasi Bunda Sayang
pada balita bisa dengan membangun karater anak melalui dongeng, membangun
kreatifitas anak sejak dini, dan membacakan buku. Bunda juga dapat mencatat
milestone anak untuk melihat perkembangannya.
Agar materi
dapat melekat, setiap sedikit materi yang diperoleh, langsung praktikkan
ilmunya dan konsiten menjalankannya.
~
20. Q : Bagaimana
cara membangun kepercayaan diri seorang Ibu Rumah Tangga? (Nikmah)
A : Sudah terjawab di
nomor 1.
~
21. Q : Pernyataan
‘Jika istri sukses (sebagai istri, ibu, inspirasi umat) berarti suami berhasil berbagi
setiap pekerjaan dengannya’ karena sejatinya pekerjaan IRT itu tidak pernah ada
habis-habisnya. Jika dikaitkan dengan 4 tahapan dalam Ibu Profesional, apakah
pernyataan tersebut relevan? (Aisyah)
A : Keberhasilan setiap
anggota keluarga didukung sepenuhnya oleh seluruh anggota keluarga. Berhasilnya
seorang istri/ibu karena ada dukungan dari suami/anak-anaknya, begitupun
sebaliknya. Sebuah keluarga itu adalah kesatuan, setiap pribadinya mampu
bertumbuh dengan dukungan dan kerja sama dari semua anggota keluarga.
Tim Matrikulasi Ibu Profesional
Resume Tanya Jawab Materi Matrikulasi
Ibu Profesional #2
---
Disclaimer:
Saya
menulis ulang, dimana ada beberapa pertanyaan yang saya ambil langsung ke fokus
pertanyaannya. Tidak menuliskan secara utuh karena saya anggap kurang relevan
atau tidak menuliskannya pun tidak menghilangkan esensi dari pertanyaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar