Selasa, 14 Mei 2013

MENJADI IKON WISATA EDUKASI BUKANLAH MIMPI SEMATA



Masih adakah warga Indonesia yang tidak mengenal atau minimal pernah mendengar nama ‘Taman Impian Jaya Ancol’? Jika masih ada, maka hal tersebut bisa dikategorikan sebagai hal yang tidak lumrah. Karena pada kenyataannya Ancol sudah bisa membuktikan dirinya sebagai tempat tujuan wisata terbesar dan terlengkap di Indonesia selama ini. Tidak percaya? Carilah data berapa pengunjung Ancol per tahunnya. Atau datanglah saat hari libur terutama libur sekolah, maka Anda akan bisa melihat betapa ramainya pengunjung tempat wisata yang satu ini.

Kepopuleran Ancol bahkan tidak hanya diakui di dalam negeri, namun juga di tingkat internasional. Hal tersebut bukanlah isapan jempol semata, namun terbukti dengan disabetnya penghargaan tingkat dunia pada tahun 2011 yaitu Atlantis Water Adventure yang masuk di peringkat ke-12 dalam penghargaan Top 20 Water Parks Worldwide, mengungguli Wild Wadi (Dubai), Summerland (Jepang), Water Kingdom (India), Beach Park (Brasil), Happy Magic Water Cube (China), dan Water Country USA (Amerika Serikat). Sedangkan untuk tingkat Asia maka Atlantis Water Adventure berada di posisi ke-6 dalam Top 15 Water Parks in Asia 2011 dan Dufan berada di urutan ke-18 dalam Top 20 Theme Park in Asia.

Jika sebagai ikon wisata prestasi Ancol sudah diakui bahkan di kancah internasional, maka pada tahun 2010 Ancol mulai melebarkan sayap dan meningkatkan nilai manfaatnya kepada masyarakat dengan dibukanya Ecopark. Ecopark merupakan area seluas hampir 34 hektar yang dahulunya merupakan lapangan golf yang kemudian oleh PT Pembangunan Jaya Ancol dialihfungsikan dan didedikasikan sebagai ruang terbuka hijau. Atas inovasinya tersebut maka tepatlah jika kemudian PT Pembangunan Jaya Ancol mendapatkan penghargaan Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi dan penghargaan yang tinggi bagi stakeholder yang peduli dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

Warga Jakarta pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sudah semestinyalah  menyambut baik keberadaan Ecopark. Karena di tengah semakin sulitnya menemukan sebatang pohon hijau di padatnya tata kota Jakarta, akhirnya ada lahan hijau yang begitu luas tersedia serta mudah diakses karena letaknya yang cukup strategis dari pusat kota. Selain ada manfaat wisata yang didapat dengan berkunjung ke sana, ada bonus manfaat tidak langsung yang dapat diperoleh warga Jakarta dengan keberadaan Ecopark ini. Diantaranya adalah pengurangan tingkat polusi udara karena gas karbondioksida yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor, asap rumah tangga, maupun industri dapat diserap dan diolah oleh pohon-pohon hijau menjadi oksigen yang berguna untuk pernafasan. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya efek ‘rumah kaca’ sehingga panasnya kota Jakarta pun bisa sedikit direduksi. Selain itu, dengan keberadaan Ecopark juga dapat memperluas daerah resapan air sehingga dapat mengurangi potensi banjir di Jakarta serta dapat dijadikan sebagai penampung cadangan air tanah pada musim-musim kemarau.

Di dalam Ecopark sendiri ada berbagai zona wisata yang bisa kita nikmati, yang kesemuanya berbasiskan pada konsep green lifestyle. Pilihan tersebut patut diacungi jempol mengingat dampak global warming mulai dirasakan dan dikeluhkan oleh penduduk dunia. Ancol sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dapat memberikan peran edukasinya sehingga para pengunjung diharapkan mulai sadar akan tanggung jawabnya terhadap bumi. Dan di sinilah PT Pembangunan Jaya Ancol mengambil peran strategisnya dengan mengusung konsep edutainment. Dengan konsep edutainment ini diharapkan wisatawan tidak hanya mendapatkan perasaan senang dan fresh setelah berkunjung, tetapi lebih dari itu mereka juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang bisa jadi tidak didapatkan di bangku-bangku sekolah.

Untuk sementara ini, pilihan wahana edukasi di Ecopark masih sangat terbatas jenisnya. Genre usia yang dibidik pun masih terbatas untuk anak-anak usia sekolah dasar ke bawah. Namun, kita patut memberikan apresiasi yang tinggi atas apa yang sudah diusahakan oleh Ancol. Ancol sudah menunjukkan perhatiannya terhadap pendidikan di Indonesia dengan memberikan sebuah alternatif wisata bagi putra-putri tercinta yang dapat memberikan pengetahuan atau pengalaman baru yang bermanfaat untuk tumbuh kembangnya.

Sebut saja salah satu wahana di Ecopark yang bernama Feeding Animal. Di sini putra-putri kecil kita akan diajak berkeliling untuk memberi makan beberapa hewan yang ada di Ecopark. Manfaatnya adalah selain kita bisa memperkenalkan nama-nama binatang itu sehingga menambah kamus pengetahuan dalam otak mereka, kita juga bisa memberikan pemahaman bahwa setiap makhluk hidup butuh makanan untuk dapat tumbuh dan berkembang. Sehingga untuk anak-anak yang sebelumnya susah makan, maka setelah mengikuti wahana ini diharapkan mereka menjadi mempunyai konsep lain tentang makanan. Pilihan makan bukan karena ingin atau tidak ingin; lapar atau tidak lapar; tapi lebih dari itu jika ingin tumbuh besar misal seperti ikan-ikan yang pernah ia beri makan di kolam, maka anak harus makan sesuai jadwal dan menu yang disiapkan. Karena anak sudah punya gambaran dan pengalaman sendiri dengan obyek hewan-hewan yang ia beri makan, maka proses memahamkan akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Ada lagi wahana edukasi lain yang sangat menarik yaitu Learning Farm. Di sini anak-anak akan diajari dan praktik secara langsung bagaimana berkebun sayur mayur tanpa menggunakan pupuk dan pestisida buatan mulai dari proses menanam, merawat, hingga memanennya. Hal tersebut akan menjadi pengalaman yang sangat berharga terutama bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan perkotaan yang sehari-harinya disibukkan dengan serangkaian les ini itu dan tidak pernah berkotor-kotor dengan tanah dan tanaman.

Namun demikian, cita-cita Ancol untuk menjadi ikon wisata edukasi masih sangat panjang jalannya. I’tikad baik dan komitmen baja menjadi modal utama serta tersedianya lahan luas menjadi modal selanjutnya. Selain itu ada beberapa hal yang dapat penulis konsepkan untuk menjadikan Ancol sebagai ikon wisata edukasi antara lain:

1.    Berani berinovasi dan terus memperkaya jenis wahana yang ada.

Untuk menjadi ikon wisata edukasi Ancol harus berani bersaing dan kemudian bisa mengungguli tempat-tempat wisata lain yang juga mengusung konsep edutainment. Berani berinovasi dengan jenis wahana baru yang berbeda dengan yang ditawarkan tempat lainnya serta memperbanyak variasi jenis wahana akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Ancol. Jika Ancol sudah memiliki keunggulan dengan konsep green lifestyle dan cagar alamnya (dengan adanya koleksi satwa dan tanaman langka), maka akan menjadi nilai tambah bagi Ancol jika mengusung juga konsep cagar budaya mengingat masih sangat jarang ditemukan tempat wisata yang mengambil tema ini. Dan bisa jadi itu akan menjadi ciri khas bagi konsep edutainment di Ancol yang membuatnya berbeda dari yang lain. Beberapa zona yang bisa ditambahkan misalnya:

a.    Zona Pekerjaan Tradisional Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bahwa keragaman letak geografis nusantara mengakibatkan pekerjaan penduduknya pun bervariasi pula disesuaikan dengan lingkungan alamnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, diferensiasi kultur pekerjaan perlahan mulai menghilang. Anak-anak muda sekarang (termasuk saya) enggan menjadikan ragam pekerjaan tradisional sebagai cita-citanya. Kebanyakan lebih memilih mengambil profesi yang modern, yang dianggap lebih menjanjikan kecukupan materi seperti dokter, pilot, polisi, pegawai kantoran, atau minimal karyawan pabrik. Pekerjaan tradisional selalu dipandang dalam kaca mata ketinggalan zaman dan kemiskinan.

Jika pola pikir seperti itu terus-menerus ditanamkan dalam benak generasi muda kita, maka mungkin  dua puluh tahun lagi kita tidak akan menemui orang-orang yang bergelut di profesi itu. Berarti pula kita telah kehilangan bagian dari budaya dan sejarah bangsa. Dengan adanya Zona Pekerjaan Tradisional, maka setidak-tidaknya jika nantinya profesi tradisional tersebut benar-benar akan digantikan dengan sesuatu yang lebih modern, minimal anak cucu kita tetap tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan itu pernah mengambil perannya dalam sejarah kemajuan bangsa dan tidak dilupakan begitu saja. Apalagi dari pekerjaan-pekerjaan tradisional tersebut dapat dijadikan wahana yang sangat menarik dan menantang bagi anak-anak. Misal:
  • Petani : pengunjung diajak berbecek-becek untuk menanam padi secara tradisional; 
  • Nelayan : pengunjung diajak menaiki perahu/sampan di kolam yang ada ikannya dan mereka berusaha menjaring ikan-ikan itu; 
  • Pedagang pasar apung :  pengunjung diajak menaiki sampan di sungai buatan/kolam dengan berpura-pura menjadi penjual/pembeli di pasar apung; 
  • Pemburu (khas papua) : pengunjung diminta menangkap binatang (misal kelinci) di lahan yang disediakan; 
  • Pekerjaan-pekerjaan tradisional lain seperti pengrajin anyaman, penenun, maupun pengukir kayu dll.

b.    Zona Permainan Tradisional Indonesia

Perkembangan IPTEK memang seperti pisau bermata dua. Dalam satu sisi memberikan keuntungan dan kemudahan, namun di sisi lain juga membahayakan. Berapa banyak bangsa yang kehilangan jati dirinya karena tidak bisa menjaga warisan budayanya akibat terlena dengan segala kemudahan yang diberikan oleh kemajuan zaman. Dan kita terindikasi sebagai salah satunya. Kita ambil salah satu contoh saja yaitu di zona permainan, maka anak-anak sekarang permainannya sudah sangat berbeda dengan misal semasa kecil saya dahulu. Permainan anak sekarang tidak jauh dari boneka Barbie, video game, maupun game-game online yang notabene merupakan produk asing dan tidak membantu perkembangan fisik dan kemampuannya bersosialisasi.

Di tengah gempuran budaya modern tersebut maka permainan tradisional hendaknya perlu tetap dilestarikan sebagai wujud penghargaan kita terhadap kekayaan budaya bangsa. Apalagi permainan-permainan tradisional tersebut melibatkan fisik dan otak secara aktif serta dapat mendidik anak untuk dapat bersosialisasi dan bekerja sama dalam tim. Saya yakin ratusan permainan tradisional akan dapat dikoleksi dari Sabang sampai Merauke, karena permainan saya waktu kecil saja (suku Jawa) jumlahnya belasan. Antara lain: Jamuran, Gatheng, Dakon, Cublak-Cublak Suweng, Ingkling, Pit Kejepit, Gobak Sodor, Dingklik Oglak-Aglik, Bas-Basan, Boi-Boinan, Egrang, Benthik dll. Tentunya kita tidak rela jika kemudian permainan tradisional Indonesia tiba-tiba diperkenalkan sebagai bagian budaya bangsa lain akibat kelalaian kita sendiri.

c.     Zona Let’s Save Our Earth

Di sini konsepnya memang bukan untuk cagar budaya tapi masuk dalam green lifestyle. Beberapa wahana yang bisa ditambahkan dalam kategori ini diantaranya: daur ulang sampah baik sampah organik maupun sampah anorganik. Untuk sampah organik bisa dimasukkan proses pembuatan pupuk kompos, pemanfaatan sabut kelapa/batok kelapa/kulit jeruk bali untuk membuat berbagai permainan anak-anak. Untuk sampah anorganik bisa dimasukkan bisnis kreatif misal membuat tas dari bekas plastik pembungkus, membuat tempat pensil/vas bunga dari botol/kaleng, membuat rangkaian bunga dari plastik kresek warna-warni, dan membuat aneka kerajinan dari kepingan CD bekas, pecahan kaca, maupun kain perca. Bisa ditambah juga dengan hal-hal sederhana yang bisa dipraktikkan di rumah untuk mendukung program penyelamatan bumi misal pembuatan sumur resapan air, penanaman dengan sistem hidroponik maupun vertical garden.

2.    Menyelenggarakan Berbagai Event Perlombaan.

Untuk mengukuhkan Ancol sebagai ikon wisata edukasi maka sudah selayaknya Ancol tidak hanya menyediakan wahana permainan yang mengedukasi tetapi juga menyelenggarakan berbagai perlombaan/event yang mendukung. Ancol bisa memfasilitasi diadakannya semacam Summer Camp pada saat liburan sekolah. Dimana dalam kegiatan tersebut diadakan lomba-lomba yang tema perlombaannya bisa disesuaikan dengan green lifestyle maupun cagar budaya yang diusung oleh Ancol. Untuk yang sasarannya anak SD ke bawah maka camping bisa dilakukan bersama dengan keluarga. Manfaat tambahan dari program ini adalah dapat memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk dapat memaksimalkan kualitas waktu bersama buah hati dengan kegiatan yang sarat dengan nilai positif mengingat kebanyakan warga ibu kota menghabiskan waktu liburan sekolah hanya di depan televisi, jalan-jalan di mall, atau pergi ke Puncak.

Kemudian untuk program jangka panjang, maka Ancol bisa mengambil peran yang cakupan manfaatnya lebih luas untuk pendidikan di Indonesia yaitu dengan menyelenggarakan program beasiswa nasional untuk siswa kurang mampu dan siswa berprestasi. Kemudian saat ada event-event tersebut, mereka diundang untuk dapat berpartisipasi secara gratis di dalamnya. Untuk dana beasiswa bisa diambil persentase tertentu dari harga tiket masuk Ancol, misal sebesar 2% dari harga tiket atau sesuai kebijakan perusahaan.

3.    Menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait.

Banyak pihak yang bisa dilibatkan dan diajak bekerja sama untuk mewujudkan Ancol sebagai ikon wisata edukasi. Diantaranya:

a.    Pemerintah Daerah
Bagaimanapun juga keberadaan ruang terbuka hijau merupakan kewajiban Pemda untuk menyediakannya. Dan di sini PT Pembangunan Jaya Ancol atas inisiatif sendiri sudah menggunakan sebagian ‘modalnya’ untuk membantu Pemda mewujudkan itu semua. Maka untuk selanjutnya, diperlukan kerja sama yang baik antara Pemda dan PT Pembangunan Jaya Ancol agar Ecopark bisa dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya terbatas untuk golongan kelas tertentu. Pemda bisa memberikan subsidi kepada golongan ekonomi rendah sehingga bisa menikmati Ecopark secara gratis, dan PT Pembangunan Jaya Ancol pun tidak dirugikan karena bagaimanapun juga dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun dan memelihara itu semua.

b.    Kementerian terkait
Banyak kementerian yang bisa diajak bekerja sama untuk mewujudkan Ancol sebagai ikon wisata edukasi. Semakin luas cakupan wahana edutainment yang digarap, maka peluang kerja sama dengan kementerian akan semakin banyak pula. Misalnya Kementerian Pendidikan untuk menggagas konsep permainan yang mengedukasi, Kementerian Perhutanan untuk penyediaan flora dan fauna, Kementerian Pertanian untuk wahana edutainment yang melibatkan pertanian serta kementerian lain seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dsb.

c.     Persatuan Guru/Pendidik
Walaupun mungkin nantinya konsep edutainment ini digagas untuk semua orang dan semua genre usia, namun penulis yakin kalangan pelajar tetap akan menjadi sasaran utama. Karena merekalah kalangan yang paling efektif dan produktif untuk menjadi kader-kader green lifestyle di masanya. Oleh karena itu, bekerja sama dengan persatuan guru merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk mensosialisasikan program-program maupun event-event yang sedang diselenggarakan oleh Ancol.

Tentu saja usaha-usaha yang bisa dilakukan tidak hanya terbatas pada itu saja. Semangat pantang menyerah, keterbukaan menerima ide-ide baru, dan keberanian untuk berinovasi akan menjadi kunci bagi Ancol untuk dapat mewujudkan cita-cita besarnya menjadi ikon wisata edukasi tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mata dunia. Tidak mudah tentu saja. Akan banyak halangan dan rintangan yang akan menguji keseriusan dan keteguhan komitmen dari Ancol untuk mewujudkan itu semua. Dan saat mimpi Ancol itu menjadi kenyataan, maka saya akan menjadi salah satu warga Indonesia yang ikut berbangga.

http://lipsus.kompas.com/oscar/read/2010/05/22/10283521/Ancol.Raih.Penghargaan.Wana.Lestari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar