Masih adakah warga
Indonesia yang tidak mengenal atau minimal pernah mendengar nama ‘Taman Impian
Jaya Ancol’? Jika masih ada, maka hal tersebut bisa dikategorikan sebagai hal
yang tidak lumrah. Karena pada kenyataannya Ancol sudah bisa membuktikan
dirinya sebagai tempat tujuan wisata terbesar dan terlengkap di Indonesia selama
ini. Tidak percaya? Carilah data berapa pengunjung Ancol per tahunnya. Atau
datanglah saat hari libur terutama libur sekolah, maka Anda akan bisa melihat betapa
ramainya pengunjung tempat wisata yang satu ini.
Kepopuleran Ancol bahkan
tidak hanya diakui di dalam negeri, namun juga di tingkat internasional. Hal
tersebut bukanlah isapan jempol semata, namun terbukti dengan disabetnya
penghargaan tingkat dunia pada tahun 2011 yaitu Atlantis Water
Adventure yang masuk
di peringkat ke-12 dalam penghargaan Top 20 Water
Parks Worldwide, mengungguli
Wild Wadi (Dubai), Summerland (Jepang), Water Kingdom (India), Beach Park (Brasil), Happy Magic Water Cube
(China), dan
Water Country USA (Amerika
Serikat). Sedangkan
untuk tingkat Asia maka Atlantis Water Adventure berada di posisi ke-6
dalam Top 15 Water Parks in Asia 2011 dan Dufan berada di urutan ke-18 dalam Top
20 Theme Park in Asia.
Jika sebagai ikon
wisata prestasi Ancol sudah diakui bahkan di kancah internasional, maka pada
tahun 2010 Ancol mulai melebarkan sayap dan meningkatkan nilai manfaatnya
kepada masyarakat dengan dibukanya Ecopark. Ecopark merupakan area seluas
hampir 34 hektar yang dahulunya merupakan lapangan golf yang kemudian oleh PT
Pembangunan Jaya Ancol dialihfungsikan dan didedikasikan sebagai ruang terbuka
hijau. Atas inovasinya tersebut maka tepatlah jika kemudian PT Pembangunan Jaya
Ancol mendapatkan penghargaan Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan.
Penghargaan tersebut merupakan apresiasi dan penghargaan yang tinggi
bagi stakeholder yang peduli dalam upaya
menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
Warga Jakarta pada
khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sudah semestinyalah menyambut baik keberadaan Ecopark. Karena di
tengah semakin sulitnya menemukan sebatang pohon hijau di padatnya tata kota
Jakarta, akhirnya ada lahan hijau yang begitu luas tersedia serta mudah diakses
karena letaknya yang cukup strategis dari pusat kota. Selain ada manfaat wisata
yang didapat dengan berkunjung ke sana, ada bonus manfaat tidak langsung yang dapat
diperoleh warga Jakarta dengan keberadaan Ecopark ini. Diantaranya adalah
pengurangan tingkat polusi udara karena gas karbondioksida yang dihasilkan dari
asap kendaraan bermotor, asap rumah tangga, maupun industri dapat diserap dan
diolah oleh pohon-pohon hijau menjadi oksigen yang berguna untuk pernafasan. Hal
tersebut mengakibatkan berkurangnya efek ‘rumah kaca’ sehingga panasnya kota
Jakarta pun bisa sedikit direduksi. Selain itu, dengan keberadaan Ecopark juga dapat
memperluas daerah resapan air sehingga dapat mengurangi potensi banjir di
Jakarta serta dapat dijadikan sebagai penampung cadangan air tanah pada
musim-musim kemarau.
Di dalam Ecopark sendiri
ada berbagai zona wisata yang bisa kita nikmati, yang kesemuanya berbasiskan
pada konsep green lifestyle. Pilihan tersebut patut diacungi jempol
mengingat dampak global warming mulai dirasakan dan dikeluhkan oleh
penduduk dunia. Ancol sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh
masyarakat dapat memberikan peran edukasinya sehingga para pengunjung diharapkan
mulai sadar akan tanggung jawabnya terhadap bumi. Dan di sinilah PT Pembangunan
Jaya Ancol mengambil peran strategisnya dengan mengusung konsep edutainment.
Dengan konsep edutainment ini diharapkan wisatawan tidak hanya
mendapatkan perasaan senang dan fresh setelah berkunjung, tetapi lebih
dari itu mereka juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang bisa jadi
tidak didapatkan di bangku-bangku sekolah.
Untuk sementara ini, pilihan
wahana edukasi di Ecopark masih sangat terbatas jenisnya. Genre usia yang
dibidik pun masih terbatas untuk anak-anak usia sekolah dasar ke bawah. Namun,
kita patut memberikan apresiasi yang tinggi atas apa yang sudah diusahakan oleh
Ancol. Ancol sudah menunjukkan perhatiannya terhadap pendidikan di Indonesia
dengan memberikan sebuah alternatif wisata bagi putra-putri tercinta yang dapat
memberikan pengetahuan atau pengalaman baru yang bermanfaat untuk tumbuh
kembangnya.
Sebut saja salah satu
wahana di Ecopark yang bernama Feeding Animal. Di sini putra-putri kecil
kita akan diajak berkeliling untuk memberi makan beberapa hewan yang ada di
Ecopark. Manfaatnya adalah selain kita bisa memperkenalkan nama-nama binatang
itu sehingga menambah kamus pengetahuan dalam otak mereka, kita juga bisa
memberikan pemahaman bahwa setiap makhluk hidup butuh makanan untuk dapat tumbuh
dan berkembang. Sehingga untuk anak-anak yang sebelumnya susah makan, maka
setelah mengikuti wahana ini diharapkan mereka menjadi mempunyai konsep lain
tentang makanan. Pilihan makan bukan karena ingin atau tidak ingin; lapar atau
tidak lapar; tapi lebih dari itu jika ingin tumbuh besar misal seperti
ikan-ikan yang pernah ia beri makan di kolam, maka anak harus makan sesuai
jadwal dan menu yang disiapkan. Karena anak sudah punya gambaran dan pengalaman
sendiri dengan obyek hewan-hewan yang ia beri makan, maka proses memahamkan
akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
Ada lagi wahana
edukasi lain yang sangat menarik yaitu Learning Farm. Di sini anak-anak
akan diajari dan praktik secara langsung bagaimana berkebun sayur mayur tanpa
menggunakan pupuk dan pestisida buatan mulai dari proses menanam, merawat,
hingga memanennya. Hal tersebut akan menjadi pengalaman yang sangat berharga
terutama bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan perkotaan yang
sehari-harinya disibukkan dengan serangkaian les ini itu dan tidak pernah
berkotor-kotor dengan tanah dan tanaman.
Namun demikian,
cita-cita Ancol untuk menjadi ikon wisata edukasi masih sangat panjang
jalannya. I’tikad baik dan komitmen baja menjadi modal utama serta tersedianya
lahan luas menjadi modal selanjutnya. Selain itu ada beberapa hal yang dapat
penulis konsepkan untuk menjadikan Ancol sebagai ikon wisata edukasi antara
lain:
1. Berani
berinovasi dan terus memperkaya jenis wahana yang ada.
Untuk
menjadi ikon wisata edukasi Ancol harus berani bersaing dan kemudian bisa
mengungguli tempat-tempat wisata lain yang juga mengusung konsep edutainment.
Berani berinovasi dengan jenis wahana baru yang berbeda dengan yang ditawarkan
tempat lainnya serta memperbanyak variasi jenis wahana akan menjadi daya tarik
tersendiri bagi Ancol. Jika Ancol sudah memiliki keunggulan dengan konsep green
lifestyle dan cagar alamnya (dengan adanya koleksi satwa dan tanaman
langka), maka akan menjadi nilai tambah bagi Ancol jika mengusung juga konsep
cagar budaya mengingat masih sangat jarang ditemukan tempat wisata yang mengambil
tema ini. Dan bisa jadi itu akan menjadi ciri khas bagi konsep edutainment
di Ancol yang membuatnya berbeda dari yang lain. Beberapa zona yang bisa
ditambahkan misalnya:
a. Zona Pekerjaan
Tradisional Indonesia
Sebagaimana
kita ketahui bahwa keragaman letak geografis nusantara mengakibatkan pekerjaan
penduduknya pun bervariasi pula disesuaikan dengan lingkungan alamnya. Namun
seiring dengan perkembangan zaman, diferensiasi kultur pekerjaan perlahan mulai
menghilang. Anak-anak muda sekarang (termasuk saya) enggan menjadikan ragam pekerjaan
tradisional sebagai cita-citanya. Kebanyakan lebih memilih mengambil profesi
yang modern, yang dianggap lebih menjanjikan kecukupan materi seperti dokter,
pilot, polisi, pegawai kantoran, atau minimal karyawan pabrik. Pekerjaan
tradisional selalu dipandang dalam kaca mata ketinggalan zaman dan kemiskinan.
Jika pola pikir
seperti itu terus-menerus ditanamkan dalam benak generasi muda kita, maka
mungkin dua puluh tahun lagi kita tidak
akan menemui orang-orang yang bergelut di profesi itu. Berarti pula kita telah
kehilangan bagian dari budaya dan sejarah bangsa. Dengan adanya Zona Pekerjaan
Tradisional, maka setidak-tidaknya jika nantinya profesi tradisional tersebut
benar-benar akan digantikan dengan sesuatu yang lebih modern, minimal anak cucu
kita tetap tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan itu pernah mengambil perannya dalam
sejarah kemajuan bangsa dan tidak dilupakan begitu saja. Apalagi dari
pekerjaan-pekerjaan tradisional tersebut dapat dijadikan wahana yang sangat
menarik dan menantang bagi anak-anak. Misal:
- Petani : pengunjung diajak berbecek-becek untuk menanam padi secara tradisional;
- Nelayan : pengunjung diajak menaiki perahu/sampan di kolam yang ada ikannya dan mereka berusaha menjaring ikan-ikan itu;
- Pedagang pasar apung : pengunjung diajak menaiki sampan di sungai buatan/kolam dengan berpura-pura menjadi penjual/pembeli di pasar apung;
- Pemburu (khas papua) : pengunjung diminta menangkap binatang (misal kelinci) di lahan yang disediakan;
- Pekerjaan-pekerjaan tradisional lain seperti pengrajin anyaman, penenun, maupun pengukir kayu dll.
b. Zona Permainan
Tradisional Indonesia
Perkembangan
IPTEK memang seperti pisau bermata dua. Dalam satu sisi memberikan keuntungan
dan kemudahan, namun di sisi lain juga membahayakan. Berapa banyak bangsa yang
kehilangan jati dirinya karena tidak bisa menjaga warisan budayanya akibat
terlena dengan segala kemudahan yang diberikan oleh kemajuan zaman. Dan kita
terindikasi sebagai salah satunya. Kita ambil salah satu contoh saja yaitu di zona
permainan, maka anak-anak sekarang permainannya sudah sangat berbeda dengan misal
semasa kecil saya dahulu. Permainan anak sekarang tidak jauh dari boneka
Barbie, video game, maupun game-game online yang notabene merupakan
produk asing dan tidak membantu perkembangan fisik dan kemampuannya
bersosialisasi.
Di tengah
gempuran budaya modern tersebut maka permainan tradisional hendaknya perlu
tetap dilestarikan sebagai wujud penghargaan kita terhadap kekayaan budaya
bangsa. Apalagi permainan-permainan tradisional tersebut melibatkan fisik dan
otak secara aktif serta dapat mendidik anak untuk dapat bersosialisasi dan
bekerja sama dalam tim. Saya yakin ratusan permainan tradisional akan dapat
dikoleksi dari Sabang sampai Merauke, karena permainan saya waktu kecil saja
(suku Jawa) jumlahnya belasan. Antara lain: Jamuran, Gatheng, Dakon,
Cublak-Cublak Suweng, Ingkling, Pit Kejepit, Gobak Sodor, Dingklik Oglak-Aglik,
Bas-Basan, Boi-Boinan, Egrang, Benthik dll. Tentunya kita tidak rela jika
kemudian permainan tradisional Indonesia tiba-tiba diperkenalkan sebagai bagian
budaya bangsa lain akibat kelalaian kita sendiri.
c. Zona Let’s Save
Our Earth
Di sini
konsepnya memang bukan untuk cagar budaya tapi masuk dalam green lifestyle.
Beberapa wahana yang bisa ditambahkan dalam kategori ini diantaranya: daur
ulang sampah baik sampah organik maupun sampah anorganik. Untuk sampah organik bisa
dimasukkan proses pembuatan pupuk kompos, pemanfaatan sabut kelapa/batok
kelapa/kulit jeruk bali untuk membuat berbagai permainan anak-anak. Untuk sampah
anorganik bisa dimasukkan bisnis kreatif misal membuat tas dari bekas plastik
pembungkus, membuat tempat pensil/vas bunga dari botol/kaleng, membuat
rangkaian bunga dari plastik kresek warna-warni, dan membuat aneka kerajinan
dari kepingan CD bekas, pecahan kaca, maupun kain perca. Bisa ditambah juga dengan
hal-hal sederhana yang bisa dipraktikkan di rumah untuk mendukung program
penyelamatan bumi misal pembuatan sumur resapan air, penanaman dengan sistem
hidroponik maupun vertical garden.
2. Menyelenggarakan
Berbagai Event Perlombaan.
Untuk
mengukuhkan Ancol sebagai ikon wisata edukasi maka sudah selayaknya Ancol tidak
hanya menyediakan wahana permainan yang mengedukasi tetapi juga menyelenggarakan
berbagai perlombaan/event yang mendukung. Ancol bisa memfasilitasi
diadakannya semacam Summer Camp pada saat liburan sekolah. Dimana dalam
kegiatan tersebut diadakan lomba-lomba yang tema perlombaannya bisa disesuaikan
dengan green lifestyle maupun cagar budaya yang diusung oleh Ancol.
Untuk yang sasarannya anak SD ke bawah maka camping bisa dilakukan
bersama dengan keluarga. Manfaat tambahan dari program ini adalah dapat
memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk dapat memaksimalkan kualitas
waktu bersama buah hati dengan kegiatan yang sarat dengan nilai positif
mengingat kebanyakan warga ibu kota menghabiskan waktu liburan sekolah hanya di
depan televisi, jalan-jalan di mall, atau pergi ke Puncak.
Kemudian
untuk program jangka panjang, maka Ancol bisa mengambil peran yang cakupan
manfaatnya lebih luas untuk pendidikan di Indonesia yaitu dengan
menyelenggarakan program beasiswa nasional untuk siswa kurang mampu dan siswa
berprestasi. Kemudian saat ada event-event tersebut, mereka diundang
untuk dapat berpartisipasi secara gratis di dalamnya. Untuk dana beasiswa bisa
diambil persentase tertentu dari harga tiket masuk Ancol, misal sebesar 2% dari
harga tiket atau sesuai kebijakan perusahaan.
3. Menjalin
kerjasama dengan pihak-pihak terkait.
Banyak
pihak yang bisa dilibatkan dan diajak bekerja sama untuk mewujudkan Ancol
sebagai ikon wisata edukasi. Diantaranya:
a. Pemerintah
Daerah
Bagaimanapun
juga keberadaan ruang terbuka hijau merupakan kewajiban Pemda untuk
menyediakannya. Dan di sini PT Pembangunan Jaya Ancol atas inisiatif sendiri
sudah menggunakan sebagian ‘modalnya’ untuk membantu Pemda mewujudkan itu
semua. Maka untuk selanjutnya, diperlukan kerja sama yang baik antara Pemda dan
PT Pembangunan Jaya Ancol agar Ecopark bisa dinikmati oleh semua kalangan,
tidak hanya terbatas untuk golongan kelas tertentu. Pemda bisa memberikan
subsidi kepada golongan ekonomi rendah sehingga bisa menikmati Ecopark secara
gratis, dan PT Pembangunan Jaya Ancol pun tidak dirugikan karena bagaimanapun juga
dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun dan memelihara itu semua.
b. Kementerian
terkait
Banyak
kementerian yang bisa diajak bekerja sama untuk mewujudkan Ancol sebagai ikon
wisata edukasi. Semakin luas cakupan wahana edutainment yang digarap,
maka peluang kerja sama dengan kementerian akan semakin banyak pula. Misalnya
Kementerian Pendidikan untuk menggagas konsep permainan yang mengedukasi,
Kementerian Perhutanan untuk penyediaan flora dan fauna, Kementerian Pertanian
untuk wahana edutainment yang melibatkan pertanian serta kementerian
lain seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dsb.
c. Persatuan Guru/Pendidik
Walaupun
mungkin nantinya konsep edutainment ini digagas untuk semua orang dan
semua genre usia, namun penulis yakin kalangan pelajar tetap akan menjadi
sasaran utama. Karena merekalah kalangan yang paling efektif dan produktif untuk
menjadi kader-kader green lifestyle di masanya. Oleh karena itu, bekerja
sama dengan persatuan guru merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk
mensosialisasikan program-program maupun event-event yang sedang
diselenggarakan oleh Ancol.
Tentu saja
usaha-usaha yang bisa dilakukan tidak hanya terbatas pada itu saja. Semangat
pantang menyerah, keterbukaan menerima ide-ide baru, dan keberanian untuk
berinovasi akan menjadi kunci bagi Ancol untuk dapat mewujudkan cita-cita
besarnya menjadi ikon wisata edukasi tidak hanya di Indonesia tetapi juga di
mata dunia. Tidak mudah tentu saja. Akan banyak halangan dan rintangan yang akan
menguji keseriusan dan keteguhan komitmen dari Ancol untuk mewujudkan itu
semua. Dan saat mimpi Ancol itu menjadi kenyataan, maka saya akan menjadi salah
satu warga Indonesia yang ikut berbangga.
http://lipsus.kompas.com/oscar/read/2010/05/22/10283521/Ancol.Raih.Penghargaan.Wana.Lestari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar