Dibawakan oleh kelompok 2:
1. Jusriani Amir
2. Christine Mayavani
3. Rima Sylviana
APA ITU GENDER
Menurut wikipedia, gender dalam sosiologi mengacu kepada sekumpulan ciri khas yang dikaitkan dengan jenis kelamin (sex) seseorang dan diarahkan pada peran sosial dan identitasnya dalam masyarakat. Konsep gender berbeda dengan sex atau jenis kelamin yang bersifat biologis.
Lebih jelasnya, gender merupakan perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki2 dan perempuan yg merupakan hasil konstruksi sosial dan dpt berubah sesuai perkembangan zaman.
TANTANGAN YANG DIHADAPI BERKAITAN DENGAN GENDER:
1. Kurangnya pendidikan seks dari keluarga sebagai tempat belajar pertama anak
2. Kebanyakan orang tua msh menganggap pendidikan seks sebagai sesuatu yg tabu.
3. Dewasa ini anak2 laki2 yang belum baligh dijadikan sasaran tembak bisnis pornografi internasional
4. Jarang para ayah menyiapkan anak laki2nya menghadapi mimpi basah, tidak sesering perempuan disiapkan utk memasuki masa menstruasi.
FITRAH SEKSUALITAS
Adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau wanita sejati.
TUJUAN MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS:
1. Agar anak mengerti ttg identitas seksualnya
-anak bisa tau dia laki2 atau perempuan
-harus bisa memastikan identitas seksual sejak usia 3 tahun
-orangtua mengenalkan dgn bahasa ilmiah organ sex tsb
2. Agar anak bisa mengenali peran seksual yang ada pada dirinya, dimana anak mampu menempatkan diri sesuai peran seksualnya, seperti cara berbicara, berpakaian, bertindak, merasa, dan berpikir, shg bisa dgn tegas mengatakan saya laki2 atau saya perempuan
3. Untuk mengajarkan anak melindungi dirinya dari kejahatan seksual, dengan mengenalkan area2 pribadi, sehingga anak bisa aware apabila ada pihak yg akan melakukan kejahatan seksual kepadanya.
SOLUSI:
Untuk solusi kami mencoba fokus membahas tantangan krgnya pendidikan seksual pada anak dalam keluarga.
1. Sebagai org tua, kita harus bisa menyiapkan putra putri kita memasuki masa puber/baligh. Kita harus memulainya dari sejak dini, sebelum mereka memperoleh info2 dari pihak lain yg tdk bs dpertanggungjawabkan
2. Contoh untuk anak lelaki, seorang Ayah harus mendampingi anaknya yg akan nemasuki masa puber/baligh dgn memuali pembicaraan "Wah, anak Ayah sudah mau remaja niy. Tungkai kakinya makin panjang, suaranya sudah agak berat". Mungkin awalnya anak akan merasa malu, akan tetapi sebagai ayah, agar bisa meyakinkan bahwa masalah itu adalah tggungjawab ortu yg nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.
Tips berbicara dengan anak laki yg belum baligh, gunakan the power of the touch. Sentuh bahu dan kepalanya. Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dan anak. Karena jika sdh baligh, mereka tdk akan mau disentuh. Gunakan kata2 yg bisa mendekatkan kita kepada mereka. Misal : jagoan ayah, buah hati papa, dll
3. Masih ttg anak laki2, sampaikan tentang mimpi basah dan mani. Bahwa krn dia telah memiliki tanda2 memasuki masa puber, maka suatu malam nanti dia akan mengalami mimpi sdg bermesraan dgn perempuan yg dikenal atau tdk dikenal. Dan pada saat trbangun, dia akan mendapati cairan yg disebut dgn mani. Utk contoh cairannya, bisa kita contohkan dgn cairan tepung kanji yg sdh dipersiapkan sebelumnya. Lalu setelah itu, ajarkan mandi junub.
4. Sebagai orang tua, kita harus memahami fase-fase seksual pada anak2 secara umum yaitu :
a. Fase oral (0-2 thn), nikmat saat menghisap puting susu ibu
b. Fase anal (2-4 thn), merasakan nikmat saat mengeluarkan feses dari anus
c. Fase Phallic (4-7 thn), anak mulai pegang kelamin
d. Fase Genital (8-12 thn), mulai tertarik pada lawan jenis.
5. Berdasarkan fase, maka pendidikan seks dapat dilakukan swcara bertahap sesuai usia
a. Usia 1-5 tahun : kenalkan anggota tuvuh anak secara detail
b. Usia 5-10 tahun : jawab pertanyaan anak secara benar
c. Usia 10-12 tahun : kenalkan tentang haid, mimpi basah, dan perubahan fisik.
Sumber:
-FBE, Harry Santosa
-Bunda Sayang Seri Ibu Profesional #1, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak
-Aku Anak Yang Berani , Bisa Melindungi Diri Sendiri, Watiek Ideo
POIN DISKUSI YANG BERKESAN:
1. Biasakan bicara ke anak dengan menyebut nama ilmiah untuk alat kelaminnya penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan.
Saya menjelaskan, alat kelamin saya seperti anggota tubuh yang lain punya nama. Jadi saat sakit, anak-anak bisa jelas menyebutkan bagian mana yang sakit.
Dan kami juga punya peraturan, nama alat kelamin ini bukan ejekan atau main². Jadi mereka sudah diajarkan kapan bisa disebutkan.
"Saat bilang Penis, anak saya menegur sepupunya yang sudah berumur 9 tahun mandi di luar" (Mbak Adytia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar