Jumat, 28 Oktober 2016

Tanya Jawab Materi Matrikulasi #2



1.    Q   :     Seringkali saya merasa tidak percaya diri menjadi Ibu. Sebenarnya anak saya penurut (apabila dibandingkan dengan anak tetangga), tapi saya selalu merasa luar biasa stres kalau dia sedikit saja membantah (dibandingkan dengan saya yang nyaris tidak pernah merasa stres di kantor). Padahal kalau melihat Ibu-Ibu lain yang mungkin pendidikannya di bawah saya tapi bisa mempunyai anak membanggakan, mestinya saya lebih percaya diri. Tapi kenyataannya tidak demikian. Sering kali ketika menasehati, mengarahkan, mengajari, dan memasak untuk anak, saya tidak percaya diri. Menurut Ibu apa yang bisa saya lakukan? (Ria)

A   :     Menjadi  Bunda membutuhkan modal ilmu yang sayangnya suka terlewat dipelajari. Agar Bunda percaya diri, Bunda bisa mengisi diri dengan ilmu yang dibutuhkan.

            Setelah tahu ilmunya, aplikasikan, tuliskan indikator keberhasilannya, kemudian lakukan evaluasi. Dukungan suami akan membantu Bunda menjalankan visi misi di dalam keluarga.

~


2.    Q   :     Bisakah Ibu pekerja menjadi Ibu yang profesional? Mengingat seharian meninggalkan anak-anaknya. (Yulmi)

A   :     Semua Ibu adalah IBU BEKERJA, ada yang di ranah domestik, ada yang bekerja di ranah publik. Ketika kita memilih untuk bekerja di ranah publik, kita perlu mengevaluasi apakah niat dan misi kita bekerja di ranah publik? Se-urgent apa bagi keluarga kita. Jawaban akan terpulang pada kondisi keluarga kita sendiri. Jika bekerja di luar merupakan ikhtiar dalam menjemput rizki bagi keluarga dan sifatnya sangat urgent, maka bungkus keberangkatan kita bekerja tersebut dengan niat mencari rizki mulia sekaligus meningkatkan jam terbang misi di ranah publik. InsyaAllah kita akan terarah menjadi lebih produktif. Doakan juga anak-anak kita agar selalu dalam penjagaan Allah ketika kita tidak bersama mereka.

            Satu hari 24 jam, bekerja di ranah publik 8-9 jam kerja, maka pos waktu berikutnya adalah mengejar ketertinggalan waktu kualitas bersama anak. Pulang kerja harus diniatkan untuk mengisi energi baru membersamai anak-anak. Sambut kegirangannya dengan senyum lebar dan pelukan sehangat mentari, obrolan kegiatan seharian, dongeng dsb. Tentunya jika Bunda butuh waktu untuk menyiapkan diri (mandi, makan), maka mintalah waktu pada anak-anak untuk itu, kemudian kembali kepada mereka.

            Allah tidak pernah pilih kasih dalam menitipkan anak-anak di rahim perempuan. Semua perempuan berhak mendapatkan amanah tersebut baik yang bekerja di ranah publik maupun domestik. Sehingga Allah sudah menempatkan masing-masing ujian dalam mendidik anak sesuai dengan kemampuannya.

            Maka belajar dengan sungguh-sungguh agar kita bisa menjadi orang yang dipercaya di mata Allah dalam mengemban amanah-Nya.

~

3.    Q   :     Mohon saran terkait modal/ilmu sebagai Ibu yang baik dan sukses. Kemudian, bagaimana cara Ibu berbagi peran dengan baik dalam perannya sebagai pribadi, istri, anak, menantu dan seterusnya? (Fina)

A   :     Dengan menguasai dan mengaplikasikan tahapan menjadi bunda profesional, Bunda sedikit demi sedikit akan menggali dan menetapkan indikator bagi diri-sendiri. Jika kita konsisten menjalankannya, maka Bunda selangkah lebih dekat menuju Ibu yang baik dan sukses.

            Tahapan Bunda Profesional akan mengarahkan bagaimana Bunda menjadi pribadi yang sukses di mata anak dan suami (Bunda Sayang), Bunda yang sukses di keluarga (Bunda Cekatan), Bunda yang bisa menggali potensi dan produktif di ranah yang digeluti (Bunda Produktif), serta Bunda yang bermanfaat bagi masyarakat/ummat (Bunda Shalihah).

~

4.    Q   :     Dalam proses belajar ini, kita lakukan secara bertahap. Apabila belum mampu menguasai satu tahap, apakah kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya? Bagaimana cara mempertahankan konsistensi dalam mengamalkan ilmu kita? (Sari)

A   :     Sebaiknya lakukan tahapan Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shalihah secara bertahap agar pijakannya kuat.

            Agar bisa konsisten, praktikkan ilmu yang didapatkan sehingga ilmu tersebut menjadi bagian dari keseharian kita. Pegang juga prinsip one bite at a time. Sedikit ilmu yang diperoleh langsung diterapkan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari keseharian kita.

~

5.    Q   :     Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shalihah itu apakah sebuah tahapan? Ataukah dipelajari dan dipraktikkan secara simultan? Karena faktanya dalam keseharian, kita harus melaksanakan dua tahapan yang pertama secara bersamaan yaitu Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. (Rita Lestari)

A   :     Apabila Anda belum memiliki anak, mulailah dari Bunda Cekatan. Kalau sudah punya anak, langsung ke Bunda Sayang. Setelah itu lanjut ke Bunda Produktif dan Shalihah. Karena ini merupakan anak tangga Ibu Profesional, maka sebaiknya dikuatkan setahap demi setahap agar mendapatkan pijakan yang kuat.

~

6.    Q   :     Penggunaan gadget sebaiknya kan dibatasi hanya 2-3 jam per hari. Bagaimana manajemen gadget yang tepat bagi saya yang seorang karyawati, pelaku online shop, dan ibu rumah tangga? (Dina)

A   :     Tentukan jam kerja online shop-nya, misalnya 3 jam sehari di sore hari. Kemudian setelah ditentukan, komitmenlah dengan jadwal tersebut. Di luar jadwal, jadikan sebagai waktu free gadget.

~

7.    Q   :     Seluas apakah cakupan istri sebagai manajer keluarga? Apakah harus mengurus semuanya sendirian atau boleh didelegasikan? (Nisa)

A   :     Setiap keluarga memiliki cara masing-masing untuk menyelesaikan kebutuhan rumahtangganya, sehingga banyak kemungkinan terdapat perbedaan cara penyelesaian atas pemenuhan kebutuhan kerumahtanggaan. Hal penting yaitu setiap anggota keluarga rela menjalankan peran masing-masing yang telah disepakati bersama.

            Manajer rumah tangga mengurus semua sendiri atau boleh didelegasikan? Ini terkait dengan kebutuhan dan cara penyelesaian yang disepakati bersama tersebut. Jika mampu diselesaikan semuanya sendiri, silakan.. Jika ternyata membutuhkan asisten, maka Ibu perlu menjadikan asisten tersebut sebagai partner. Komunikasikan dengan baik sehingga tugas yang didelegasikan tersebut sesuai dengan harapan Ibu.

~

8.    Q   :     Bagaimana menerapkan Ibu sebagai pendidik utama jika kita masih tinggal di rumah orangtua, karena nilai yang kita tanamkan mungkin saja sering berseberangan dengan pola pikir orang tua kita sendiri. Misalnya kita tegas, tapi ortu menganggap kita keras. Saya yang masih tinggal di rumah ortu jadi belum sepenuhnya menerapkan sistem manajemen rumah. Indikator apa kita dapat dikatakan berhasil? Disini ada Bunda Sayang, Cekatan, Produktif, dan Shalihah, bagaimana supaya bisa berjalan berbarengan, karena pada materi sebelumnya kita dianjurkan untuk fokus akan 1 ilmu dulu? Kiat-kiatnya bagaimana agar berhasil? (Kartini)

A   :     Jika kita tinggal dengan orangtua, kuatkan komunikasi dengan mereka. Sampaikan dengan baik pola asuh yang ingin diterapkan pada anak-anak. Saat orangtua melihat kesungguhan kita dan melihat hasil dari kerja keras kita, orang tua akan memberikan dukungan.

            Tahapan belajar di Ibu Profesional sebaiknya dijalankan bertahap ya. Setelah kuat di Bunda Sayang, lanjut ke Bunda Cekatan. Ketika Bunda berada di Bunda Cekatan, materi Bunda Sayang sudah melekat pada diri Bunda.

            Kiat supaya berhasil dalam belajar Ibu Profesional adalah dengan menerapkan ilmu yang diperoleh disini. Setiap mendapat materi, maka segera kerjakan NHW yang diberikan keesokan harinya.

~

9.    Q   :     Bagaimana mengukur kerja Ibu Profesional? Apakah berbanding lurus latar belakang pendidikan si Ibu dengan kerja profesionalitasnya dalam keluarga? Apakah latar belakang budaya Ibu akan mempengaruhi profesionalismenya juga? (Rita Harits)

A   :     Yang bisa menilai berhasil atau tidaknya seorang Ibu adalah suami dan anak-anak. Apakah suami melihat kita menjadi istri yang lebih baik? Apakah perkembangan anak-anak bergerak ke arah lebih baik? Indikator pada materi di atas membantu kita mengukur pencapaian kita dalam setiap pembelajaran kita.

            Dalam belajar, yang lebih utama adalah prinsip KOMITMEN dan KONSISTEN. Seperti apapun budaya maupun latar belakang pendidikan, jika seorang Ibu sudah bertekad menjadi Ibu yang lebih baik, kemudian konsisten dalam proses belajarnya, maka Ibu tersebut bisa menjadi Ibu Profesional.

~

10.  Q  :    Bagaimana agar menjadi Ibu yang anak senang belajar bersamanya? Anak saya terkadang ingin kelonggaran seperti ketika dengan pengasuh. Misal jumlah jam menonton TV. Selanjutnya, saya adalah working mom, bagaimana agar maksimal, tidak setengah-setengah dalam mengasuh dan mendidik anak-anak?  (Diah)

 A  :     Setiap anak memiliki fitrah belajar. Ketika ada anak yang tidak senang belajar, coba lihat lagi ke pola asuh kita, apakah ada yang salah? Jangan-jangan ada tindakan kita yang membuat fitrah belajar anak tergerus. Coba analisa lagi kondisi sekarang, apakah kita sudah memberikan teladan belajar yang baik? Apakah suasana belajar sudah mendukung, atau apakah ada faktor-faktor lain?

           Tentang Bunda bekerja di ranah publik sudah dijelaskan pada pertanyaan nomor 2.

~

11.  Q  :    Bisa tolong dijelaskan lagi yang dimaksud indikator keberhasilan Ibu Profesional adalah menjadi kebanggaan keluarga? Bisa tolong dijelaskan kebanggaan keluarga itu seperti apa? (Febry)

 A  :     Sudah dijawab di nomor 9.

~

12.  Q  :     Bagaimana cara mengajari anak agar bisa sabar? Entah kenapa kalau mengajar anak sendiri cenderung tidak sabaran.

Bedanya kasir dana manajer keuangan keluarga? Caranya agar bisa menjadi manajer keuangan yang baik bagaimana?

Saya sangat senang dengan dunia memasak, bahkan ada beberapa makanan yang dapat dijual ke teman-teman. Namun untuk dapat menghasilkan makanan dibutuhkan trial error. Bagaimana caranya untuk mengefisienkan trial errol tersebut agar tidak nombok? (Ratna)

 A  :     Jika mengajari anak sendiri jadi tidak sabaran, maka kita perlu mengecek lagi apa penyebabnya. Apakah ada perbedaan ekspektasi saat mengajari anak sendiri? Atau apakah ada kendala komunikasi dengan anak? Tahap pertama, temukan dulu pemicunya. Setelah ketemu, atasi masalahnya. Perlu kita ingat bahwa ANAK-ANAK BELAJAR DARI CARA KITA BEREAKSI.

            Kita akan ada sesi khusus untuk belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mohon bersabar menunggu, akan dibahas di materi selanjutnya.

            Saya percaya bahwa dalam universitas kehidupan memang ada ‘biaya’ yang harus dikeluarkan. Jumlah biayanya bisa beragam. Dengan belajar dari setiap trial dan error, insyaAllah selalu ada perbaikan yang terjadi. Ubah pola pikir kita dari merugi menjadi keberhasilan yang tertunda. Semua akan indah tepat pada waktunya.

~
     
13.  Q  :    Untuk poin-poin pertanyaan apakah saklek (sesuai materi) atau bisa kita ubah sesuai kondisi? Bagaimana menumbuhkembangkan suami agar menjadi auditor handal dalam menilai keberhasilan kita? (Elvira)

 A  :     Poin pertanyaan dalam materi adalah indikator umum dalam menilai tingkat keberhasilan Ibu Profesional.

            Pasangan hidup kita adalah cermin bagi kita. Ketika kita mendapati suami tidak sesuai harapan, jangan buru-buru menuntut. Itu pertanda kualitas kita juga sama. Maka gunakan prinsip: FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST. Untuk mengubah seseorang, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu. Istilah di Ibu Profesional, ‘proses memantaskan diri’. Jangan pernah berhenti di ranah ini, karena Allah tidak akan rela (pendapat pribadi Tim Matrikulasi, -red) memberikan kita pasangan hidup yang tidak mau berubah ketika kita terus berubah.

~

14.  Q  :    Ekspektasi anggota keluarga terhadap pasangan/Bundanya kan bisa berbeda-beda, apakah kita perlu mensurvei ekspektasi mereka dahulu? Dan rasanya kok berat sekali ya untuk selalu menjadi kebanggan keluarga. (Mira)

 A  :     Wah pertanyaan yang keren. Benar sekali, kita memerlukan usaha keras tanpa pernah berhenti untuk menjadi kebanggaan keluarga. Teman-teman nanti akan membuat indikator masing-masing. Saat membuat indikator ini, diperlukan komunikasi produktif di keluarga. Diskusikan bersama suami dan juga anak-anak, kemudian jadikan jawaban mereka sebagai referensi dalam membuat indikator keberhasilan Bunda.

~

15.  Q  :    Setelah menjadi Bunda Sayang apakah bisa tetap bersikap tegas kepada anak? Mohon penjelasannya. (Dila)

A   :     Tegas justru diperlukan dalam memahami Bunda Sayang. Tegas dalam menjalankan pola asuh keluarga. Tegas dalam kesepakatan yang sudah disepakati di rumah.

~
               
16.  Q  :    Bagaimana cara seseorang menemukan misi spesifik dalam hidup? Terlebih jika minatnya masih banyak/luas dan belum tahu bakatnya dimana. (Yunita)

 A  :    Akan dibahas pada materi selanjutnya. Sabar ya..

~

17.  Q  :     Bagaimana menjadi Bunda Produktif, aman secara finansial tanpa harus meninggalkan anak/keluarga? (Verial)

 A  :     Akan dibahas pada materi selanjutnya. Sabar ya..

~

18.  Q  :    Bagaimana mengelola rasa bersalah kepada anak atau kantor karena proses belajar menekuni minat? Sampai batas mana kita boleh ambil keputusan untuk tidak tertarik terhadap suatu hal yang nice to know? (Leila)

 A  :     Seorang Ibu memang perlu banyak ilmu dalam mengelola rumah tangga. Bunda bekerja juga perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu yang relevan. Silakan membuat daftar ilmu yang diperlukan untuk pengembangan diri, kemudian tetapkan skala prioritas Bunda. Bunda akan menemukan kegiatan yang dinilai menarik tapi tidak tertarik.

            Sebagai Ibu bekerja di ranah domestik (publik kah maksudnya? –red), Bunda tentunya perlu mengimbangi dengan mengoptimalkan waktu bersama anak. Nanti akan ada sesi materi yang membantu Bunda menentukan kuadran aktivitas.

~

19. Q   :    Bagaimana mengukur implementasi Bunda Sayang kepada anak-anak yang masih batita? Bagaimana agar pemahaman dan praktik teori dari Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Profesional, dan Bunda Shalihah menjadi karakter yang selalu melekat pada diri? (Retta)

 A  :     Aplikasi Bunda Sayang pada balita bisa dengan membangun karater anak melalui dongeng, membangun kreatifitas anak sejak dini, dan membacakan buku. Bunda juga dapat mencatat milestone anak untuk melihat perkembangannya.

            Agar materi dapat melekat, setiap sedikit materi yang diperoleh, langsung praktikkan ilmunya dan konsiten menjalankannya.

~

20. Q   :    Bagaimana cara membangun kepercayaan diri seorang Ibu Rumah Tangga? (Nikmah)

 A  :    Sudah terjawab di nomor 1.

~

21. Q   :    Pernyataan ‘Jika istri sukses (sebagai istri, ibu, inspirasi umat) berarti suami berhasil berbagi setiap pekerjaan dengannya’ karena sejatinya pekerjaan IRT itu tidak pernah ada habis-habisnya. Jika dikaitkan dengan 4 tahapan dalam Ibu Profesional, apakah pernyataan tersebut relevan? (Aisyah)

 A  :     Keberhasilan setiap anggota keluarga didukung sepenuhnya oleh seluruh anggota keluarga. Berhasilnya seorang istri/ibu karena ada dukungan dari suami/anak-anaknya, begitupun sebaliknya. Sebuah keluarga itu adalah kesatuan, setiap pribadinya mampu bertumbuh dengan dukungan dan kerja sama dari semua anggota keluarga.




Tim Matrikulasi Ibu Profesional
Resume Tanya Jawab Materi Matrikulasi Ibu Profesional  #2

---



Disclaimer:
Saya menulis ulang, dimana ada beberapa pertanyaan yang saya ambil langsung ke fokus pertanyaannya. Tidak menuliskan secara utuh karena saya anggap kurang relevan atau tidak menuliskannya pun tidak menghilangkan esensi dari pertanyaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar