Sore itu, kesabaran Bunda seperti sedang diuji oleh Kakak. Bertubi-tubi sikap kurang menyenangkan dilakukan oleh Kakak. Ditambah dengan rasa lelah dengan banyaknya kerjaan di kantor, plus pulangnya harus bersegera karena Ayah harus kembali lagi ke kantor setelah mengantar kami karena ada konsinyering, membuat tekanan emosi yang Bunda rasakan naik berlipat.
Memang apa yang Kakak kesayangan lakukan?
Pertama, Kakak tanpa izin langsung lari keluar dari day care mendahului Bunda yang masih sibuk menyelesaikan keperluan Adik. Hal ini pernah kami bahas sebelumnya termasuk perbuatan yang tidak boleh dilakukan karena potensi bahaya dan lain-lain.
Kedua, pas Bunda cepat-cepat susul ternyata Bunda mendapati Kakak sedang menabur rumput di kolam ikan bersama dengan teman-temannya. Pas melihat Bunda, Kakak sepertinya tau salah. Seperti mau dilanjut atau tidak, ada perang pengambilan keputusan di dalam dirinya. Bunda diam dulu, melihat keputusan apa yang diambil. Dan tralalala..Kakak lebih memilih menyamai teman-temannya daripada melakukan apa yang juga pernah kami bincangkan, bahwa tidak boleh memasukkan apa pun ke dalam kolam ikan selain makanan. Karena akan membuat kolam menjadi kotor, kasihan Bapak yang membersihkan, kasihan pula ikannya.
Bunda pun segera mendekat ke Kakak, dan bilang: "Kakak maaf, tidak boleh menabur rumput di kolam ikan kan? Kasihan ikannya, kasihan juga Bapak yang membersihkan"
"Biar dimakan ikan Bun." Jawabnya, tapi dari matanya ketahuan bahwa dia tahu bahwa itu jawaban yang tidak benar. Alias ngeles doang.
"Kan rumput bukan makanan ikan Kak.." mau bicara panjang tapi kondisi tidak memungkinkan. Karena anak-anak lain masih ramai disitu menabur rumput dan dibiarkan oleh ortunya.
"Pulang yuk Kak.. Ayah sudah datang." Tak merespon, masih asyik melihat dan mem-support teman-temannya. Bunda lebih mendekat untuk memastikan ada eye contact dan Kakak mendengar perkataan Bunda dengan baik.
"Kakak, ayo.. Kita harus bersegera karena Ayah harus kembali ke kantor setelah mengantar kita." Kakak tetap di tempat. Bunda coba gandeng tangannya, tapi Kakak menepis.
"Bunda hitung sampai lima ya Kak, kalau Kakak tidak naik ke motor Bunda duluan. Satu..dua..tiga..empat..lima.." Kakak cuma melihat sebentar ke Bunda sebentar ke temennya, begitu sampai hitungam selesai.
"Yuk, Kak.." Bunda tegaskan sekali lagi. Tapi Kakak seperti malah mau menantang pandangannya.
Bunda pun berjalan menghampiri motor Ayah dan naik. Melihat ke Kakak dan mengajak sekali lagi. Tetap tidak beranjak. Ayah juga sudah mulai tidak sabar karena harus segera kembali ke kantor. Jadi beliau langsung menjalankan motornya pelan. Kakak pun kemudian lari sambil menangis. Seperti biasa, kalau menangis sambil berteriak-teriak protes.
Tapi tetap, tidak mau segera naik ke motor. Semua perkataan mental pas kondisi itu. Jadi Bunda tegaskan lagi: Kakak mau bareng atau tidak? Dan Kakak tidak menjawab, tetap menangis seperti semula. Ayah pun menjalankan motor lagi, Kakak mengejar masih sambil nangis.
Baru kemudian pas kami berhenti, Kakak mau naik. Terpaksa. Nangisnya masih kejer, sampai beberapa lama.
Di motor perjalanan pulang, Kakak sama sekali tidak mau bicara. Kalau Bunda mencoba membuka percakapan, Kakak langsung menjawab dengan 'ee..eehh' dengan agak teriak. Oke, kode jawaban diterima. Bunda kasih kesempatan Kakak untuk 'menggua' dulu.
Singkat kata, kami sampai di rumah. Ayah langsung kembali menuju kantor. Bunda buka pintu, salam, dan masuk seperti biasa. Tau..tau..Kakak menangis keras sambil teriak-teriak bilang " iii..iihh..! Bunda jangan masuk duluan. Harusnya Kakak yang duluan. Ayo Bunda, sini!" Kakak meminta Bunda, untuk kembali keluar rumah, di depan pintu, agar Kakak bisa masuk lebih dulu.
Jika mau gampang, lakukan saja seperti itu. Tapi Bunda tidak mau begitu. Tidak ada aturan di rumah kami, bahwa Kakak harus duluan masuk. Siapa saja boleh masuk duluan, asalkan adab masuk ke rumah yaitu salam dan melepas sandal sudah dilakukan.
"Bunda tidak mau Kakak, Bunda tadi sudah mengucap salam dan melepas sepatu duluan. Jadi Bunda boleh masuk duluan. Silakan Kakak segera menyusul masuk" Intonasi masih tanpa tekanan.
Kakak masih teriak-teriak hal yang sama. Bunda tinggalkan dulu untuk melepas tas, helm, dll. Sekalian memberi kesempatan Kakak untuk menenangkan diri. Namun, Kakak masih stay dikondisi yang sama.
Sudah terdengar adzan maghrib, maka Bunda hampiri lagi Kakak.
"Kak, Bunda mau tutup pintunya. Sudah adzan maghrib. Kakak silakan masuk."
"Bunda minta maaf dulu!! Tadi Bunda masuk duluan!!" masih sambil nangis dan teriak.
"Bunda tidak akan minta maaf Kak, karena Bunda tidak salah. Bunda, Kakak, Ayah, atau Adik boleh masuk duluan ke rumah. Ayo, Kakak silakan masuk juga.."
Kakak masih mengulang-ulang agar Bunda minta maaf. Makin kenceng nangis dan teriaknya.
"Kak, tidak perlu teriak. Silakan bicara baik-baik." Tetep sama.
"Bunda tutup pintunya ya. Silakan nanti ketok pintu kalau Kakak sudah mau masuk" Bunda pun menutup pintu. Kakak lantas menahan pintunya. Bunda hentikan, dan mempersilakan Kakak untuk masuk. Tapi tidak mau masuk. Bunda mencoba tutup kembali. Kakak menahan dan mendorong pintu lebih kuat. Bunda lepaskan pintu agar Kakak tidak sakit, jadi pintu terdorong kuat terbuka.. Braghhh.. Ditambahin dibentur-benturkan lagi sama Kakak. Braghh..braghh..braghh!
Tetot, Bunda tinggikan intonasi. "Kakak, tolong hentikan! Silakan Kakak masuk, Bunda mau tutup pintunya sekarang!" Bunda pun menutup pintu dengan menepis tangan Kakak yang mencoba menghalangi. Melihat kalah kekuatan, Kakak pun kemudian melepaskan tangannya dari pintu dan masuk ke rumah.
Bunda pun beranjak mau masuk ke kamar, Kakak pun teriak "Kakak dulu..!!"
"Oke, silakan.." karena Bunda belum terlanjur masuk. Kalau sudah duluan masuk, alamat perang pintu episode dua akan berlanjut.
Bunda pun masuk kamar dan nenenin Adik karena Adik minta nenen. Kakak sudah tidak menangis dan diam di sudut tempat tidur. Karena sudah cukup lama, maka Bunda mencoba mencairkan kebekuan.
"Kakak kenapa Kak? Ada masalah? Kok hari ini banyak hal tidak menyenangkan?"
"Bunda sih, masuk rumah duluan. Bunda minta maaf dulu.." Kata-katanya sudah melunak. Sudah bisa diajak ngobrol nih.
"Lah, kan memang boleh. Siapa saja yang duluan salam dan melepas sepatu, boleh masuk duluan. Kakak mestinya yang minta maaf.. Kakak sore ini banyak sekali tidak tertibnya.." Bunda diam, menunggu reaksi. Karena tidak ada jawaban, dan Kakak dalam kondisi mendengarkan penuh, maka Bunda lanjutkan..
"Hari ini Bunda sedih, Kak. Kakak, tidak mau mendengarkan Bunda tadi. Pertama, Kakak tidak izin lari duluan keluar daycare. Kakak kan sudah tau, itu tidak boleh.."
"Kenapa? Takut ada Bapak jahat?" tanya Kakak
"Itu iya. Yang lain juga kan banyak mobil di jalan depan. Khawatir Kakak atau sopirnya tidak saling melihat, bisa ketabrak deh.."
"Kalau ketabrak gimana dong? Berdarah? Sakit?" tanya-nya lagi.
"Iya, bisa berdarah. Sakit."
"Bunda jadi sedih kalo Kakak sakit?"
"Iyalah.. Bunda sediiiih sekali kalau Kakak sakit. Lain kali jangan lari duluan keluar TPA ya.."
"Kalau ada Ayah boleh?"
"Iya, boleh kalau ada Ayah. Tapi tetap, harus izin dulu."
Diam.
"Terus yang kedua, Kakak tadi taburin rumput di kolam ikan. Kan tidak boleh juga. Kasihan ikannya. Kasihan Bapak yang bersihin."
" Tapi tadi ikannya berusaha makan rumputnya. Tapi malah tidak bisa. Rumputnya lari-lari.." sambil tertawa renyah.
"Itu mah bukan rumputnya yang lari Kak. Itu tadi ikannya mau makan rumputnya, terus eh dia tau itu bukan makanan. Tidak enak. Makanya ngga jadi dimakan. Lain kali jangan ya Nak, dijaga kolamnya. Biar bersih. Biar ikannya senang."
Ambil nafas dulu.
"Terus yang ketiga, Kakak tadi tidak bersegera naik ke motor. Padahal Ayah harus segera kembali ke kantor. Lain kali, kita bekerja sama yang baik ya. Kakak boleh main agak lama saat Ayah dan Bunda tidak terburu-buru. Tapi, tolong bantu Ayah dan Bunda ketika kita harus cepat. Oke?!"
Masih diam memperhatikan.
"Yang keempat.. Wah banyak ya Kak.. Tadi Kakak teriak-teriak sambil nangis, sambil banting pintu juga. Kakak sudah tau juga kan, kalau Bunda dan Ayah hanya mau mendengarkan kalau Kakak bicaranya baik-baik. Tidak dengan teriak."
"Tapi Bunda tadi masuk duluan" kembali ke ini lagi :p
"Kan boleh Nak.. Lain kali kalau Kakak mau masuk duluan, bilang ke Bundanya sebelum Bunda masuk. Kalau Bunda sudah masuk, Bunda tidak mau keluar dulu untuk mempersilakan Kakak masuk."
Diam, memperhatikan.
" Terus bagaimana ini dong? Kakak mau minta maaf tidak ya?"
Tangan mungilnya pun terulur. "Maaf ya Bunda.."
Bunda ulurkan tangan juga, sambil bertanya untuk memastikan Kakak paham yang Bunda sampaikan "Maaf untuk apa Kak?"
"Tadi Kakak.." Bingung mau yang mana yang disebut karena kebanyakan tadi poinnya.
"Bunda bantu ya, Kakak ikutin." Bunda sebutkan lagi satu persatu kemudian Kakak mengikuti.
"Terus sudah ni, minta maaf saja..? Lain kali Kakak ulangi tidak?"
Dijawab dengan gelengan kepala.
"Kita buat kesepakatan yuk Kak.. Kalau lain kali ternyata Kakak mengulangi melakukan hal tidak baik yang tadi sudah Bunda sebutkan, akan ada hukumannya. Baiknya hukumannya apa ya Kak?"
Diam.
"Bagaimana kalau hukumannya tidak boleh bobo di kamar dengan Bunda?"
"Tidak mau. Kakak maunya bobo di kamar dengan Bunda" jawabnya
"Kalau begitu, apa yaa.. Tidak boleh nonton leptop saja?"
"Iya, Kakak tidak nonton leptop saja. Tidak bagus. Nanti matanya jadi rusak."
"Oke. Kesepakatannya Kakak tidak boleh nonton leptop kalau lain kali mengulangi hal tidak baik tadi ya. Salaman dulu dong.. Kita bersepakat.."
Kemudian salaman, dan kami membicarakan hal lain lagi dengan sudah kembali tertawa bersama. Alhamdulillah..
---
Kejadian tersebut membuat saya kembali lagi tersadar bahwa ilmu parenting itu dibutuhkan. Bagaimana mengelola emosi ketika berhadapan dengan buah hati.
Iya, padahal namanya buah hati lho. Ibaratnya ia adalah orang yang membuat kita sanggup mengambil keputusan untuk bahkan menukar nyawa apabila diperlukan. Ternyata kecintaan kita yang amat sangat terhadap mereka, tidak membuat kita lantas selalu bergembira dengan apa pun yang mereka perbuat.
Nah disinilah peran ilmu itu diperlukan. Dia akan menjadi kemudi hati kita, agar dapat memutuskan tindakan apa yang lebih tepat untuk diambil agar kita sampai di tujuan pengasuhan yang ingin kita capai dengan selamat. Tidak hanya mengikuti emosi yang inginnya meluapkan kemarahan tanpa menimbang solusi.
Mari, semangat belajar dan lebih shabar berpraktik lagi.. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar