Sibling rivalry yang terjadi antara dua putri saya memang cukup sering. Selain karena selisih usianya hanya dua tahun dan sekarang masing-masing masih ditahap 'semua yang ada adalah milikku', setelah saya perhatikan karakter bawaan itu juga berpengaruh. Type Kakak (3y9m) adalah seorang leader yang kukuh memegang prinsipnya atau kemauannya. Jadi kalau ada apa-apa, pasti pertanyaan kenapa itu muncul duluan. Kalau kami (AyahBunda) sedang mencoba menasihati suatu hal, maka harus menyiapkan jawaban yang benar dan dengan cara yang dapat diterima oleh Kakak terlebih dahulu. Karena kalau tidak, pasti semuanya 'mental'.
Dulu, sering sekali kalau saya sedang emosi misal kakak-adik berantem karena rebutan suatu barang. Kakak lah yang saya minta pengertiannya untuk mengalah kepada Adik. Karena Adik masih kecil, belum bisa diajak berkomunikasi. Tapi reaksi Kakak yang malah membawa lari atau menjawab 'Ngga mau, ini punya Kakak. Kakak duluan yang ambil.", biasanya membuat saya semakin emosi, dengan merebut mengambil apa yang dipegang Kakak dan diberikan ke Adik.
Saya tau kalau hal itu akan justru berpotensi membuat sibling rivalry semakin tinggi, tapi kalau sudah diburu-buru waktu, teori itu entah menguap kemana. Alhamdulillaah, diingatkan kembali di Materi 1 Bunda Sayang IIP, dan bahkan ditantang untuk membiasakan komunikasi produktif dalam setiap waktu yang kita lalui. Mau buru-buru atau senggang, komunikasi produktif harus jalan.
Nah, kemarin kejadian lagi. Kesempatan saya untuk mengubah tantangan menjadi peluang, terbuka. Haiyahhhh.. :D
---
Pas ditengah asyik bermain bersama, Adik (1y9m) tiba-tiba menangis keras sambil memanggil saya 'Nda..Nda..' Saya sebenarnya tau rangkaian kejadiannya seperti apa, karena saya jaraaaang meninggalkan mereka untuk bermain sendiri. Saya tetap memantau, walaupun sambil mengerjakan hal lain.
Saya pun mendekat ke Adik, dan bertanya dengan lembut: "Ya Dik, Adik kenapa?" Adik pun menjawab dengan menunjuk-nunjuk Kakaknya. "O..Kak Maryam ya?" Adik masih menangis menunjuk-nunjuk dan tidak menjawab dengan kata.
Saya pun beralih bertanya ke Kakak, yang dari raut wajahnya sudah kelihatan canggung, khawatir dengan apa yang akan saya lakukan. Tapi saya mengubah intonasi datar yang biasa saya pakai untuk menginterogasi Kakak, dengan gaya yang santai dan tanpa emosi.
Bunda: "Kak, adiknya kenapa ini Kak?"
Kakak: "Tadi Adik rebut mainan Kakak. Kakak ngga bolehin, kan Kakak duluan yang ambil. Eh terus Adik cubit Kakak. Kakak balas. Kan Adik cubit duluan." Jawabnya panjang lebar dengan ekspresi 'aku siap perang sekuat tenaga untuk mempertahankan mainanku'.
Bunda: "O..begitu.." (Bunda senang Kakak tidak berbohong untuk menyelamatkan dirinya, karena memang tadi kejadiannya seperti itu).
"Adik, kenapa Adik rebut mainan Kakak?" (Adik belum bisa jawab pertanyaan ini, ini hanya untuk masuk ke pelibatan keseluruhan dan untuk masuk ke poin selanjutnya yang ingin saya sampaikan)
"Adik, lain kali kalau ingin meminjam mainan, izin dulu ya. Jangan langsung direbut. Kalau Adik izin baik-baik, mungkin dibolehin sama Kakak" (Adik sih masih menangis, entah sudah paham atau belum dengan pembicaraan seperti ini di usianya sekarang. Tapi saya yakin, kalau selalu diulang dan dibiasakan dari awal, maka pas waktunya nanti dia akan lebih mudah untuk melaksanakan)
Kakak pun segera menimpali: "Iya, izin dulu Dik. Yang baik-baik. Nanti Kakaknya marah kalau Adik rebut-rebut mainan Kakak".
"Terus bagaimana ini baiknya?" Saya mencoba memberi pertanyaan terbuka. Tapi semuanya diam, yaiyalah..lihat usia dong Bun.. Wekekeke.. Memang hanya untuk pelibatan.
"Adik, masih mau mainan itu? Yuk, sekarang izin ke Kakak dulu. Ikuti Bunda ya Dik. Kakak, boleh tidak Adik pinjam mainannya?" (Adik tidak mengikuti, masih nangis seperti awal)
"Ngga boleh. Tadi Kakak yang ambil duluan."
"Wah, maaf ya Dik. Kakak belum mau meminjamkan mainannya ke Adik. Adik ambil mainan yang lain dulu ya.. Adik mau yang ini.. Atau ini.. Atau ini..?" Adik menangis semakin keras karena maunya yang dipegang Kakak.
"Bagaimana ini Kak, Adiknya maunya yang itu saja? Kakak tidak mau meminjamkan? Semoga Allah bertambah sayang ke Kakak kalau Kakak berbagi dengan Adik.."
" Yaudah.. Ini Dik.." Sambil menyerahkan mainan ke Adik.
"MasyaaAllah Kakak hebat mau berbagi dengan Adik. Semoga Allah sayaaaang Kakak. Bunda sayaaanng deh sama Kakak.." Kakak pun tersenyum senang dengan maat berbinar. Kami pun berpelukan..
"Silakan Adik bilang terima kasih ke Kakak, karena sudah dibolehin pinjam mainan. Terima kasih Kakak.."
"Ma..cih.." Adiknya sudah tidak menangis dan kembali asyik main.
"Sama-sama.." jawab Kakak
"A..ma.." tiru Adik dengan gaya khas centilnya. Kami pun tertawa bersama.
---
Alhamdulillah, senang sekali bisa melakukan komunikasi tanpa terburu waktu. Walaupun mungkin ke depannya ada waktu yang Kakak tetap tidak mau meminjamkan mainannya. Tapi itulah proses belajar bersama. Kakak tidak harus selalu mengalah terhadap Adik. Adik juga harus tau bahwa tidak semua hal yang dia inginkan dapat selalu didapatkan.
Note: beberapa percakapan dalam kenyataannya tidak plek jiplek seperti yang saya tulis, karena persis kalimat per kalimatnya saya juga tidak ingat. Tapi secara garis besar, hal di atas sudah menggambarkan percakapan kami.
#hari1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar