Senin, 06 Februari 2017

Day 5 : Trust, Modal Komunikasi Produktif yang Utama

Salah satu tantangan yang harus saya taklukkan dalam membangun hubungan yang baik tidak hanya dengan suami tetapi juga dengan anak adalah kepercayaan (trust). Tantangan trust kepada anak, lebih kompleks saya rasakan. Karena saya harus menimbang usia, sisi keamanan, dan kemampuan anak itu sendiri. Saya harus berani memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak lazim di usianya. Ketidaklaziman tersebut terjadi secara umum di masyarakat karena faktor takut yang berlebihan, keengganan membereskan hasil dari trust yang diberikan, dan meng-under estimate kemampuan si kecil walaupun tidak disadari.

Padahal, dari pengalaman yang saya dapatkan dari anak saya yang pertama (2 bulan lagi genap 4 tahun), memberikan kepercayaan kepada mereka itu merupakan salah satu garansi kemudahan dalam komunikasi di fase-fase usia mereka yang selanjutnya. Kalau saya dan suami, kepercayaan itu kami berikan ketika anak sudah mulai tertarik untuk mencoba sesuatu. Bukan kami yang memilih kemudian memaksa anak untuk melakukannya, tetapi inisiatif ketertarikan dari mereka sendiri terhadap hal baru tersebut.

Hal-hal yang simpel seperti anak usia 6 bulan sering memasukkan mainannya ke dalam mulutnya, maka saya ganti dengan memberikan buah-buahan yang dapat ia pegang dengan baik misal pisang, pear/apel potong. Kekhawatiran akan tersedak, pakaian kotor, dll, saya simpan rapat-rapat dalam hati. Saat mereka asyik melakukan kegiatannya itulah saatnya saya mengajari mereka tentang ilmu baru, misal itu namanya apa, makan dengan tangan kanan (karena bayi biasanya suka banget pake tangan kiri), makan dengan bismillah dulu, duduk ketika makan dst. Dan buah manis yang saya petik adalah anak tidak banyak memilah-milah makanan (ada satu dua yang tidak disukai itu wajar), lebih cepat mandiri, dan seiring bertambahnya kemampuan nalarnya membuat dia menerapkan adab makan dengan sendirinya tanpa harus berbusa-busa lagi menjelaskan.

Kepercayaan lain untuk anak usia setahunan adalah biarkan dia makan full sendiri, memakai baju, mandi, sikat gigi, membantu mengepel tumpahan makanan/air, mengambil air dari dispenser, memanjat-manjat sesuatu yang tinggi, menaruh sampah di tempat sampah, menaruh baju kotor di keranjang baju, membawa bekas alat makannya ke tempat mencuci. Tapiiii, karena apa yang mereka lakukan masih belum sempurna. Jangan dibiarkan begitu saja. Sampaikan ke anak misal masih ada kurangnya dimana, harusnya seperti apa, dan minta izin untuk membantu menyempurnakan. Apresiasi atas hasil jerih mereka dan sampaikan kalau sering dicoba, insyaAllah kedepannya akan semakin baik hasilnya.

Tetapi ada juga hal-hal yang tegas kita larang saat usianya memang belum sampai, misal usia belum dua tahun sudah ingin memotong menggunakan gunting/pisau. Semerengek apapun anak, kalau saya tidak saya berikan. Saya sampaikan ke anak bahwa benda tersebut masih berbahaya karena bisa blablabla. Nanti kalau Adik sudah sebesar X, insyaAllah Bunda izinkan untuk menggunakannya. Biasanya sih nangis kejer, tapi hanya untuk kali pertama atau kedua. Selanjutnya mereka sudah tidak pernah minta lagi, atau jika melihat sudah bilang 'bahaya' sendiri.

Kakak di usianya sekarang, sudah bisa membantu Bunda dalam banyak hal. Mencuci-cuci calon olahan masakan, mencuci beras, mengaduk telur, membuat nutrijel, menyapu, mengepel tumpah-tumpahan, mencuci piring, mengiris tempe/buah dengan pisau. Tapi hal tersebut tidak saya jadikan tugas Kakak, itu ibaratnya hanya bonus kebaikan yang diberikan oleh Kakak ke Bunda. Jadi ya semau-maunya saja.

Dari trust-trust itu, mungkin mereka jadi berfikir bahwa tidak semua hal dilarang oleh Bunda. Tidak semua hal tidak boleh dilakukan. Jadi ketika saya melarang sesuatu (dengan disertai penjelasan mengapanya tentu saja), mereka jadi lebih menurut. Misal temen-temen Kakak makan suatu makanan yang menjadi favorit, tetapi pas Ayah/Bunda bilang tidak ada label halalnya atau tidak sehat karena ada kandungan blablablanya, maka dia menahan diri untuk tidak ikut memakan makanan tersebut.

Nah, yuuukkk mari beri kepercayaan anak untuk terlibat dalam kegiatan keseharian kita. Agar komunikasi kita kedepannya lebih 'klik' dengan mereka.. ;p

Adik Asyik Makan

Kakak Menyapu Rumah Mbah

Adik Mau Nyapu Juga
Kakak Mencuci Lele

Kakak Membumbui Ikan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar