Sabtu, 04 Februari 2017

Day 3: Ayah, Kemarin Kami Membuat Kesepakatan

Semalam Ayah pulang dari kantor sudah sangat larut, sehingga anak-anak tidak bisa bermain-main dulu dengan Ayah seperti biasa. Maka, untuk mengganti waktu yang tak dapat dipenuhi malam tadi, pagi ini Ayah harus menyambut kehadiran para putri shalihah dari alam mimpi.

Kakak sudah mulai menggeliat dan mengucek matanya. Karena Bunda posisi sedang nenenin Adik di kamar, maka Bunda yang lebih dahulu menyapa Kakak.

"Assalaamu'alaykum shalihah.. Wah Kakak sudah bangun. Alhamdulillaah.."

Kakak hanya tersenyum-senyum, masih sambil gegoleran di tempat tidur.

"Sudah baca doa bangun tidur belum yaa? Doa bangun tidur.. ( diucapkan seperti di film edukatif doa).."

Kakak lantas menyambung "Alhamdulillahilladzi ahyana.. ba'dama.. amaatana.. wa ilayhinnusyuur.."

"MasyaaAllah.. Shalihah ini.." puji Ayah sambil masuk kamar

"InsyaAllah ini dicatat malaikat dan dilaporkan ke Allah: 'Ya Allah.. Kak Maryam sudah membaca doa bangun tidur. Masukkan ia ke surga.'" lanjut Ayah

"Surga apa Kak?" tanya Ayah lagi

"Surga Firdausy" jawab Kakak

"Ayah, memangnya perbuatan kita dicatat malaikat?" tanya Bunda untuk menyampaikan pelajaran ke Kakak

"Iya Bun. Ada dua malaikat yang mencatat semua perbuatan kita." jawab Ayah

"Malaikatnya dimana Ayah, kok tidak terlihat?" Bunda lanjutkan pertanyaannya. Kakak masih menyimak dengan curious.

"Malaikatnya ada di kanan dan kiri kita. Tapi dia tidak kelihatan. Seperti syetan yang ada dimana-mana tapi juga tidak terlihat oleh mata."

"Dia ikutin kemanapun kita pergi Ayah? Dan perbuatan kita dicatat semuanya?" Bunda tekankan lagi dengan intonasi 'mau tau banget'

"Iyaa.."

"Kalo kemarin sore Kakak tidak izin dan lari mendahului Bunda, terus taburin rumput di kolam ikan, terus tidak bekerja sama bersegera naik motor, dan teriak-teriak sambil banting pintu, itu dicatat malaikat juga Ayah?" Bunda sengaja masukkan poin ini, agar Kakak lebih paham gambaran perbuatan buruk dan baik itu seperti apa.

"Iya, semuanya dicatat. Kalo banyak perbuatan buruk dan tidak tertib, bisa masuk ke neraka. Kakak tidak mau kan masuk neraka?" Ayah menunggu respon Kakak.

Kakak terdiam dengan ekspresi agak takut.

"Tapi Kakak sudah minta maaf ke Bunda Ayah.. Kakak hebat mau mengakui kesalahan dan meminta maaf.." Bunda berikan pujian untuk mengurangi feeling guilty Kakak.

"Kakak dan Bunda juga sudah membuat kesepakatan kemarin Yah.." tambah Bunda

"Wah, kesepakatan apa?"

Bunda pun ceritakan proses membuat kesepakatan dengan Kakak kemarin dan hasil kesepakatannya. Sambil melibatkan Kakak dengan menambah frasa 'ya Kak?' di setiap jeda untuk meminta konfirmasi dari Kakak. Dan Kakak merespon dengan 'iya' atau mengangguk atau senyum.

Kemudian di akhir perbincangan Ayah menyimpulkan: "Jadi kalau lain kali Kakak melakukan blablabla (yang sudah ditulis tadi), maka Kakak tidak boleh nonton film yang di leptop ya.."

Dan tak lupa kami daratkan ciuman dan berikan pelukan ke shalihah kami ini, untuk menghilangkan apabila ada aura negatif yang ditangkap selama perbincangan tadi.

---

Sebagaimana pisau yang tumpul jika lama tak diasah, maka hal-hal yang menurut kita penting untuk diingat oleh anak, harus kita ulang-ulang sampaikan. Terlalu naif jika kita berharap sekali disampaikan, anak akan ingat selamanya.

Namun hal yang perlu diingat adalah sesuaikan momen, kondisi, dan cara penyampaian agar anak tidak merasa didikte. Kita harus berusaha memastikan anak dalam kondisi 'nyaman' sehingga dia bisa berpikir logis untuk setiap hal yang kita sampaikan. Tidak justru menambah beban anak yang membuatnya stres saat bersama kita.

Hanya kepada Allah, kita memohon pertolongan dan kekuatan agar kita dapat menjalankan amanah sebagai orang tua dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar