Minggu, 02 Februari 2020

Pengikat Makna 1, Habituasi Sejuta Cinta

Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another and feeling with the heart of another.” – Alfred Adler.

Materi pertama yang dipaparkan di Kelas Habituasi Sejuta Cinta adalah tentang empati. Dimana dia lebih dalam maknanya dari sekedar simpati. Empati bisa ditumbuhkan, bisa dikembangkan dalam diri setiap orang. Sehingga dia kemudian bisa menangkap kesulitan yang dialami orang lain, lalu mencari cara semampunya untuk dapat membantu meringankan kesulitan itu.



Di Kelas Habituasi ini pun kami mendapatkan penugasan. Penugasannya spesifik, unik, dan menarik yaitu dengan praktik langsung. Untuk tugas materi empati kami harus berbuat kebaikan kepada 3 orang, melihat reaksi orang yang kami beri, kemudian apa yang kami rasakan setelah melakukannya?

Berbuat baik untuk keluarga, saya merasa itu adalah bagian dari kewajiban saya atau sudah menjadi hal yang seharusnya. Jadi saya tidak akan memasukkannya ke dalam list ini. Saya juga sebenarnya tidak suka mencatat 'kebaikan' yang saya lakukan karena saya berprinsip bahwa yang lebih bermanfaat adalah saya mencatat keburukan sehingga saya bisa melakukan evaluasi dan semakin bersemangat melakukan kebaikan agar dapat menutup dosa-dosa keburukan yang sudah saya lakukan.


Saya juga suka mengingati kebaikan orang lain kepada saya agar saya bisa membalas kebaikannya setidaknya dengan sesuatu yang sebanding. Atau jika tidak terbalas, maka saya akan mendoakan agar Allah yang membalasnya dengan kebaikan yang berlipat.


Tapi karena ini penugasan maka saya harus mengerjakannya bukan? Ini bagian dari komitmen ketika saya memutuskan untuk memilih kelas sejuta cinta.


Pertama: Memberikan Buah untuk Bu Guru.


Jumat kemarin alpukat yang saya bawa untuk saya suapkan sebagai makan siang baby saya ternyata busuk. Jadi saya beli buah lain di toko buah. Sekalian saya belikan duku dan salak pliek u untuk Bu Guru. Oya, jauh sebelum saya membelikan makanan untuk Bu Guru pengasuh baby, saya sudah pernah tanya ke Kepala Sekolah apa diperbolehkan atau tidak. Saya tidak mau membuat sesuatu yang di luar kebiasaan. Saya tidak ada maksud agar anak saya lebih diistimewakan dan saya justru takut jika begitu. Dan Kepsek memang membolehkan sekali-kali ortu berbagi makanan kepada para guru. Dan saya beberapa kali melihat ortu lain juga kadang berbagi makanan.


Reaksi Bu Guru berterima kasih.


Yang saya rasakan, bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah untuk berbagi walaupun sedikit.


Kedua : Membayari Sekalian Es Krim yang Dibeli Seorang Anak


Pas jalan balik ke kantor dari jenguk dek bayi di daycare, lihat ada tukang es krim keliling. Suami minta beli, jadi ya saya beli dengan bersemangat dong hehe. Belinya dilebihkan untuk teman di kantor. Nah pas pesanan saya hampir selesai dibuat ada anak yang mau beli juga. Berdua bersama adiknya. Jadi pas saya bayar ke abangnya saya lebihkan uang untuk bayar punya Abang Adek itu.

Reaksi yang diberi? Saya tidak tau, karena habis bilang ke Abang es krimnya langsung jalan cepat masuk mobil.

Perasaan saya? Senang bisa berbagi. Karena kesenangan memberi itu lebih besar dari senangnya menerima pemberian.

Last but not least : Menolak Pemberian Rekanan

Jadi ceritanya salah seorang rekanan di kantor habis pulang kampung di Jawa. Rekanan ini memang rekanan yang sudah bertahun tahun membantu perbaikan-perbaikan ketika ada kerusakan kantor. Rekanan ini baik dan orangnya juga ramah kepada siapa saja. Teman- teman honorer dekat juga dengan rekanan ini. Nah pas  beliau balik dari pulkam, membawakan oleh-oleh berupa kain batik dan makanan khas dari daerahnya. Utk satu sekre dimana jumlahnya lebih dari 15orang (honorernya yang banyak). Saya yakin jika beliau tdk ada maksud apapun dari pemberiannya, begitu juga pemberiannya tidak akan mengubah apapun terkait pekerjaan.

Dulu pas jadi bendahara awal, banyak sekali rekanan yang setelah menerima pembayaran meninggalkan uang untuk saya. Uang terima kasih mungkin maksudnya. Nah ini jelas langsung saya tolak dan saya sampaikan bahwa saya tidak menerima pemberian. Mereka kerja ya karena mereka yang terpilih krn kemampuan mereka. Dibayar secara penuh sesuai nilai kuitansi. Habis tuh ngga ada yang berani lagi kasih-kasih sesuatu.

Nah ini kasusnya lain, memang oleh-oleh maksud Bapak itu. Saya agak cukup lama menimbang apa saya terima walaupun nanti saya kasihkan ke orang lain atau bagaimana? Bagaimanapun jg saya adalah orang Jawa yang banyak ngga enaknya. Yang ngga suka menyakiti hati orang lain. Apalagi niat orang itu baik. Tapi setelah berfikir akhirnya saya mantap untuk menolak, tentu saja dengan kata-kata yang saya anggap sudah sehalus mungkin. Saya ASN, mohon maaf saya tidak dapat menerimanya dan seterusnya.

Reaksi Bapak itu memang jadi agak canggung. Dia bilang sungguh tidak ada maksud apa-apa dalam pemberiannya. Memang oleh-oleh dan diberikan ke semua teman-temannya. Bapak tu bilang sedih karena saya tolak dan jadi merasa bersalah, tapi beliau paham maksud saya. Jadi ya biarlah waktu yang mengubah kecanggungan itu menjadi biasa.

Yang saya rasakan? Ploongggg..maasyaaAllaah. Saya senang saya bisa menjadi diri saya versi yang lain. Tidak hanya versi yang mudah tersentuh dan tidak ingin menyakiti hati orang lain, tapi saya bisa lebih memanajemen empati saya agar bisa berbuat dengan lebih benar dan lebih adil.

Eh kenapa saya memasukkan ini ke 'kebaikan'? Tentu saja karena saya ingin memperluas makna kebaikan. Pada umumnya, kebaikan itu selalu diasosiasikan dengan kebahagiaan orang yang diberi. Tapi pada hakikatnya, kebaikan itu bisa jadi tidak menyenangkan lho. Seperti maksud pada hadist ini:

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”  Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584)

Dicegah dari sesuatu yang ingin dilakukan tentu saja tidak menyenangkan, tapi ternyata itu bisa jadi adalah sebuah bentuk pertolongan orang kepada kita. Saya bermaksud menolong Bapak itu agar tidak menjadi kebiasaan memberikan sesuatu kepada ASN rekan kerjanya. Tidak hanya kepada saya tentu saja, kepada yang lain juga agar tidak terulang. Walaupun maksudnya baik, tapi dikhawatirkan pengaruhnya menjadi tidak baik. Saya disini juga menolong diri saya, agar menjadi lebih berani untuk meninggalkan unggah ungguh dan pakewuh untuk suatu yang saya anggap lebih benar untuk dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar